Betapa Murahnya Sebuah Nyawa, hingga Dilarungkan ke Samudera.

Betapa Murahnya Sebuah Nyawa, hingga Dilarungkan ke Samudera.



Oleh : Wahyu Mitasari

Ketika melihat dan mengamati kehidupan tenaga kerja asing yang ada di Indonesia, maka disitulah kita bisa melihat kemewahan. Fasilitas yang serba mewah, kehidupan yang layak, makanan yang nikmat, serta pekerjaan yang mapan dan tidak banyak memakan beban.

Pekerjaan yang mereka peroleh di Indonesia pun merupakan pekerjaan yang sangat didamba-dambakan oleh masyarakat lokal. Hal tersebut bukan saja karena gaji yang tinggi, namun juga karena berbagai kenikmatan dan kehidupan yang sangat terjamin. Tenaga-tenaga terdidik banyak diimpor dari luar. Salah satu yang paling dominan di Indonesia yaitu TKA dari China.
Lalu, coba kita bandingkan dengan para TKI yang ada di China. Kapal berlayar membelah biru samudera. Gemuruh ombak menggempur gagahnya badan kapal. Riak gelombang air tersapu oleh riuh kelopak perlawanan ikan hasil tangkapan. Namun sungguh malang nian nasib Anak Buah Kapal China yang berasal dari Indonesia. Bekerja siang malam dengan waktu lebih dari delapan belas jam. Diforsir tenaga dan fikiran layaknya manusia tanpa perasaan. Tubuhnya lelah bahunya hampir patah, namun masih harus tetap bekerja. Diberi makan dengan umpan pancing seadanya. Daging hampir busuk, ikan sudah basi, dan jauh dari kata bergizi. Lihatlah, ditengah bentangan samudra luas dan seolah tak bertepi, salah seorang ABK merasa kesakitan. Kakinya bengkak, tubuhnya lemah, wajah pucat payau. Mudah saja bagi penyakit untuk menggerogoti tubuh yang telah lelah.
Rasa sakit itu perlahan menjulur ke paha, lalu naik ke badan. Kulit bengkak semakin tak terelakkan. Rasa sakit juga semakin tak tertahan. Salah seorang kawan melapor kepada sang komandan, bahwa ada masalah dengan kesehatan temannya. Ia hanya menjawab untuk bersabar hingga sebentar lagi sampai di darat. Namun apalah daya, tubuh ringkih penuh bengkak itu sudah tidak kuat. Inilah nafas terakhir dalam hayat. Dalam akhir hidup yang seharusnya dimakamkan layaknya seorang manusia, tetapi ternyata tidak. Mayat sang tubuh ringkih dilarungkan ke samudera. Selesai. Seperti itulah akhir tragis hidup sang ABK China dari Indonesia. (Liputan6.com, 10/04/2020)

Apakah benar bahwa dunia ini telah berada di dalam keadilan? Dimana peran tangan-tangan yang berkuasa untuk memberikan jaminan yang layak dan dapat dipercaya bahwa semua akan baik baik saja? Terapung dilaut adalah sebuah pilihan. Hasil pilihan antara menganggur atau bekerja. Hasil pilihan antara berpangku tangan atau berusaha. Dan hasil pilihan antara mati tak makan atau mencari cara untuk mendapatkan bahan makan.
Memang tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu solusi tepat adalah harus ada sebuah naungan yang mampu melindungi hak hidup, menjamin kepentingan seluruh manusia, bukan hanya beberapa gelintir manusia berharta. Melindungi yang lemah dan memanajemen yang kuat.

Menyaksikan peristiwa di larungnya mayat ABK di lautan China, haruskah kita diam dan berpangku tangan menunggu terwujudnya angan? tentu tidak. Ada perjuangan yang harus diemban, dan ada kebenaran yang harus ditegakkan. Sekuat tenaga dan bertaruh nyawa, sehingga berharap menjadi bagian dari orang-orang yang berjuang untuk menjemput janji Allah dan Rasul-Nya.

Dan sudah saatnya rasa rindu terhadap kepemimpinan Islam terwujudkan. Sebuah sistem yang dibuat langsung oleh Sang Pencipta alam semesta.  Yang didalamnya terdapat jaminan perlindungan tanpa terkecuali, serta managemen dan aturan yang mensejahterakan seluruh umat manusia.
Wallahu a'lam bishshawab.

Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: