BETWEEN CAREER WOMAN AND HOUSEWIFE

BETWEEN CAREER WOMAN AND HOUSEWIFE



Oleh : Fatimah Salsabila

Di era saat ini, para wanita sibuk memikirkan kesusksesan. Ya tentu saja, siapa saja akan menginginkan masa depan yang cemerlang hingga tak jarang mereka berkorban demi meraih sebuah karir. Namun, tidak sedikitpun mereka berpikir bahwa pengorbanan untuk karir tersebut akan menjatukan martabatnya sebagai hakikat seorang wanita. Itulah yang terjadi di depan mata kita, dalam dunia kapitalisme. Lebih-lebih lagi dorongan ini semakin kuat dengan menyukseskan Kesetaraan Gender ditengah-tengah kehidupan kaum hawa. Ini yang menjadikan wanita semakin gigih mengejar karir mereka. Lalu bagaimanakah dengan peran seorang ibu rumah tangga? Apakah aktivitasnya dalam lingkungan rumah tangga sebagai seorang istri dan seorang ibu bukanlah sebuah karir yang sukses?
Era kapitalisme telah merubah kehidupan perempuan menjadi 99,9%, disebutkan dalam Review +25 Rahun Beijing Platform For Action BBFA bahwa”Tenaga Kerja Perempuan Itu Nyatanya Tiga Kali Lebih Produktif Dari Laki-Laki” (MMC). Tak heran kalangan wanita berkarir bangga dengan kesuksesan yang diraih mereka. Pada kenyataannya, kesuksesan karir yang dibanggakan hanyalah semu belaka yang suatu saat akan hilang dengan mudah.
Hitamnya kehidupan dibawah kendali kapitalisme telah membuat mereka lupa pada hakikat karir yang sesungguhnya yaitu sebagai seorang ibu rumah tangga (ummun warabbatul bait). Suksesnya karir yang mereka peroleh telah membuat mereka menyerahkan sepenuhnya tugas mengasuh anak kepada suami. Ini di karenakan  mereka menganggap bahwa diri mereka yang lebih produktif untuk menumbuhkan ekonomi dalam keluarga. Padahal sesungguhnya ketahanan sebuah keluarga tidak terletak pada ekonomi semata, tapi bagaimana peran mereka sebagai ummun warabbatul bait. Peneliti asal Swedia menyebutkan negara yang unggul dari sisi kesetaraan gender bahwa “ Semakin Tinggi Karir Wanita Ketika Mencapai Jabatan CEO, maka Rumah Tangganya Makin Rapuh Hingga Berujung Perceraian” (MMC).

Jika sudah demikian, lantas apa yang salah dengan menjadi seorang ibu rumah tangga (ummun warabbatub bait)? Apakah dengan menjadi ibu rumah tangga maka ia tidak berkarir yang sukses? Kapitalisme melahirkan pemikiran bahwa menjadi ibu rumah tangga, lingkup aktivitasnya hanya mengurus suami dan anak. Benarkah demikian? Lalu bagaimana pandangan islam terkait seorang ibu rumah tangga atau ummun warabbatul bait?
Islam telah menyediakan karir terbaik sebagai ummun warabbatul bait alias ibu sekaligus pengatur rumah tangga. Karir terbaiknya yang sukses adalah Al Ummu Madrasatul Ula, sekolah pertama yang membentuk karakter anak-anak cemerlang. Karena karirnya yang sukses inilah para ibu rumah tangga dapat mencetak generasi bangsa yang ideologis dan berguna bagi bangsa dan Negara. Islam tidak akan membebani mereka sebagai tulang punggung keluarga yang membuat mereka harus keluar rumah dan mengabaikan karir terbaiknya demi menopang runtuhnya ekonomi. Semua itu adalah tanggung jawab suami, tapi akan menjadi tanggung jawab Negara bila dia tidak memiliki wali.

Menjadi ibu rumah tangga tidak akan membuat wanita menjadi bodoh dan terbelakang. Justru sebaliknya, mereka menciptakan karir-karir yang sukses dengan pembinaan tsaqofah islam yang kuat, itu semakin sukses untuk melindungi ketahanan keluarga. Selain itu, Daulah Islam telah menyiapkan karir lain yang semakin mencerdaskan yaitu wanita bisa berpolitik untuk memenuhi  kewajiban amar ma’ruf nahi munkar, mencurahkan kemampuannya agar bermanfaat di lingkungan masyarakat dan negara. 

Islam memandang bahwa wanita berkarir yang sukses adalah dimana mereka menempatkan aktivitas mereka sebagai ummun warabbatul bait. Menjadi seorang istri dan sahabat yang baik bagi suami dan ibu yang mencetak generasi cemerlang serta meriayah kebutuhan dalam rumah tangga namun tetap pada koridor profesinya yang sesuai dengan syariat islam. Maka seluruhnya akan di nilai sebuah karir sukses. Semua ini tidak akan terwujud bila negeri ini masih berdiri pada pondasi kapitalis sekuler, yang menjajah wanita dengan mengangkatnya sebagai wanita berkarir sukses melebihi laki-laki atau sama porsinya dengan kedudukan laki-laki. Membuat para wanita keluar rumah menjadi tulang punggung keluarga, para ibu mengabaikan anak-anak mereka, dan berujung pada jenjang perceraian. Semua ini hanya dapat dituntaskan ketika negeri ini menerapkan syariat islam dengan hukum yang melindungi  hak-hak wanita. Mensukseskan karir mereka sebagai ummun warabbatul bait. Waulahu A’lam bissawab.

Previous Post
Next Post

post written by:

Cerdaskan Umat, Raih Kebangkitan!

0 Comments: