Cetak Uang Baru, Bukan Solusi Krisis

Cetak Uang Baru, Bukan Solusi Krisis


Oleh : T2N

Krisis multi dimensi pada akhir-akhir ini, membuat roda perekonomian seluruh dunia mengalami perubahan yang luar biasa, ditambah dengan adanya pandemi Corona COVID-19 yang melanda hampir 100 negara seluruh dunia. Sistem yang sejak 90 tahun yang lalu berubah dari sistem kehalifahan menjadi sistem kapitalis atas prakarsa Mustafa Kemal Artarturk penggagas kebatilan di dunia. Dia membabi buta dengan sistem yang keluar dari fitrah manusia diciptakan. Sehingga hampir seluruh pelosok bumi tersihir mengikuti sistem sekuler mereka.

Allah mendatangkan wabah Corona bukan tanpa sebab dan rencana, hanya orang-orang yang peka yang mampu menganalisa terkait pandemi ini. Wabah ini menimbulkan krisis mendunia seperti sekarang ini. Dengan tingkat kematian yang begitu tinggi yang menjadi perhatian seluruh dunia. Tidak ketinggalan pula bagi negara yang mempunyai sistem kesehatan dan perekonomian cukup cangggih pun dibuat kewalahan alias kocar-kacir. Seperti sama-sama kita ketahui negara AS, Italia, perancis hingga spanyol tidak luput dari wabah ini.

Termasuk indonesia yang terkena imbasnya dari virus Corona dikarenakan lambannya pemerintah mengambil langkah antisipasi pencegahan. Seakan ada drama atau scenario yang dipermainkan oleh mereka yang mempunyai otak bisnis sekuler dengan tidak memperhatikan adab, peraturan, dan ketentuan hukum yang berlaku. Sehingga Indonesia pun mengalami krisis ekonomi danesehatan hingga merebak pada krisis multidimensi.

Krisis yang sedemikian parahnya namun pemerintah tidak segera ambil langkah untuk mengatasinya. Ada rencana langkah stimulasi terhadap rakyat, namun itupun tidak menjadi solusi malah menambah persoalan baru. Kenapa timbul persoalan baru?

Karena yang katanya pemerintah menggelontorkan bantuan kepada warga, namun kenyatannya tidak semua mendapat bantuan dari negara. Hanya orang miskin saja yang tidak atau belum pernah terdaftar dalam usulan bantuan sosial lainnya. Itulah diantara kriteria yang mereka ajukan untuk sekedar sembako yang nilainya tidaklah sampai mencapai 100 ribu rupiah. Sangat berbelit sehingga banyak kepala desa, lurah dan bupati pada protes atas persyaratan ini. Semua kan juga kena dampak corona kenapa yang dapat banyuan dipilih-pilih? Sudah seharusnya semua KK (jabarkan kepanjangan) harus mendapat perhatian dari pemerintah, karena semua menjadi warga negara Indonesia. [Mohon sajikan data]

Solusi berikutnya, bahwa pemerintah tidak melakukan lockdown hanya PSBB sehingga banyak yang kontra pada kebijakan tersebut karena semua berjalan setengah-setengah. Kegiatan sholat jamaah di masjid tidak boleh, kegiatan pengajian dan taklim tidak boleh. Namun mall, pusat perbelanjaan , bandara, pelabuhan tetap dibuka. Pedagang kecil dan mereka yang keseharian mendapat uang dari jualan atau usaha sendiri jadi tidak mendapat pemasukan sama sekali sehingga terjadi krisis ekonomi dalam keluarga. Satu sisi ingin stay at home tapi keluarga tidak makan karena tidak ada pendapatan. Dan faktanya pemerintah tidak menggelontorkan bantuan pada mereka.

Orang yang sudah berada di dalam penjara aman malah di keluarkan, padahal kondisi di keluarganya juga dalam posisi krisis ekonomi. Bahkan dengan tanpa ada payung hukum, [rasanya mereka mengacu pada aturan pasal] peraturan atau landasan yang dipakai mereka untuk mengeluarkan para NAPI itu. Ternyata apa yang terjadi, setelah mereka keluar kembali kepada kelurga dan masyarakat, melihat dalam kelurga mereka tidak ada yang dimakan, otomatis mereka melakukan kembali keahliannya mencuri, merampok dan menjambret. Akhirnya timbul masalh baru yang meresahkan rakyat.

Karena di kota tidak bisa makan maka mereka pada pulang kampung. Ternyata ada peraturan lagi tidak boleh mudik bolehnya pulang kampung. Padahal di kampung juga akan menimbulkan masalah baru, yakni bagi daerah yang ada warga pulang kampung dari zona merah harus isolasi mandiri kalau tidak patuh isolasi sesuai dengan prosedur yakni di tempat penampungan di gedung SD atau tempat yang disediakan pemerintah desa. Karena rawan penularan mereka yang mudik rata-rata dari zona merah semua, maka dilevel desa harus ada gugus relawan Covid-19.

Segala macam upaya yang diambil oleh pemerintah tidak ada solusi. Bahkan mulai tanggal 07 Mei 2020 ini ada kebijakan diperbolehkan mudik. Dari sekian kebijakan tidak ada yang menjadi solusi. Karena sistem yang diemban selama ini adalah sistem yang bertentangan dengan fitrah manusia. Hukum dan peraturan tidak berdasarkan pada aturan yang sudah Allah kasih sebagai panduan hidup di dunia.Solusi terakhir yang dikeluarkan adalah usulan kebijakan mantan menteri  perdagangan Gita Wirjawan ke Bank Indonesia untuk mencetak uang baru sejumlah Rp.4000 triliyun. (kompas.com)

Secara teori, inflasi terjadi ketika jumlah uang bertambah tidak diikuti dengan bertambah barang. Oleh karena itu, pencetakan uang baru senilai 4000 triliyun sementara pertumbuhan ekonomi stagnan bahkan diprediksi minus dan tidak ada back-up seperti mas atas percetakan uang baru tersebut, seperti itulah yang membuat inflasi sebenarnya. (Media Umat, 03/5/2020)

Kenapa menteri perdagangan minta kepada BI untuk mencetak uang sebegitu banyaknya? Beliau berpikir dengan banyak uang maka akan bisa membayar hutang-hutang mereka. Salah besar, kebijakan konyol dan biasanya kekonyolan itu langkah yang akan diambil rezim saat ini. Mereka bukan ahli dibidangnya sehingga pengambilan keputusan tidak sesuai dengan kondisi riil di lapangan. Kenapa demikian ?

Karena pengelolaan sistem perekonomian , perdaganagan, perbankkan yang tidak memakai hukum yang benar, semua berdasarkan pada aturan kapitalis yang justru akan semakin terpuruk. Jumlah hutang yang semakin membumbung menjadikan inflasi makin tinggi.

Jadi inflasi itu disebabkan karena pertambahan uang kertas (fiat money) yang tidak diback-up oleh pertumbuhan ekonomi atau peningkatan aset riil. Karena pemakaian uang tidak terkontrol, utang makin menggunung, sehingga mencetak uang banyak untuk melunasi hutang itu bukan solusi, tidak ada hubungannya dengan pencetakan uang apakah untuk fota-foya atau bukan.

Nah disinilah secara fakta empiris menguatkan mengenai sistem moneter Islam yang mengharuskan uang itu dinar (emas) dan dirham (perak). Emas dan perak merupakan alat tukar yang paling stabil yang pernah dikenal di dunia. Sejak awal sejarah Islam sampai saat ini nilai dari mata uang Islam yang didasari oleh mata uang bermetal ini secara mengejutkan sangat stabil jika dihubungkan dengan makanan pokok. Nilai inflasi mata uang ini selama 14 abad adalah nol  Adakah mata uang yang stabil selain itu saat ini? Krisis moneter Islam punya solusi alat pembayaran emas dan perak (dinar dan dirham) karena tidak ada inflasi, antara uang yang beredar langsung dibarengi dengan barang, jadi sangat stabil peredaran uang merata ke seluruh lini kehidupan bertransaksi.

Solusi krisis multidimensi adalah kembali pada aturan Islam kafah yang sesuai dengan fitrah manusia dan memuaskan akal. Seperti wabah saat ini sudah ada solusinya dalam Islam,” Janganlah engkau datangi wilayah yang berwabah, janganlah engkau campur antara orang sehat dan orang sakit “.

Menghindar, "Larilah dari orang yang sakit lepra sebagaimana kamu lari dari singa" (HR. Bukhori dan Muslim). Nabi bersabda umatnya untuk membentengi diri dari penyakit menular dengan tidak menganggap enteng beberapa faktor dan penyebabnya. Diantaranya adalah menghindari kontak secara langsung dengan penderita penyakit menular.

Anjuran menghindar bukan berarti Nabi sepakat untuk mengucilkan penderita akan tetapi langkah tersebut lebih menitik beratkan pada semangat tenggang rasa.”Janganlah kamu lama-lama memandang orang-orang yang sedang sakit lepra" (HR Bukhari)

Tawakal adalah jalan yang dianjurkan oleh Rasulullah Saw. ikhwal penyakit menular. “Tidak ada penularan, tidak ada ramalan jelek, dan tidak ada penyusupan kembali, ruh orang mati pada burung hantu “ (HR Muslim). Imam Syuyuti mencatat, bahwa ibnu Shalah mengatakan, pada hakikatnya penyakit itu tidak dapat menular dengan sendirinya, akan tetapi Allah-lah yang membuatnya menular. Sementara proses penularanya diperantarai oleh proses percampuran antara yang sehat dengan yang sakit melalui berbagai cara sebab yang berbeda.

Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan tuntas dari sudut pandang ajaran agama Islam, namun masih banyak kaum muslimin tidak percaya pada ajarannya sendiri.

Wallahu’alam bissawwab
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: