Corona dan Masa Depan Islam

Corona dan Masa Depan Islam



Oleh: Ice Yolanda

Sudah hampir lima bulan wabah virus Corona menimpa 210 negara di dunia. Tercatat, 2.008.164 orang telah terinfeksi berdasarkan situs referensi statistik Worldometer per Rabu (15/4).
Sebanyak 127.147 nya meninggal dunia. Amerika Serikat menjadi negara dengan kasus Corona tertinggi. Selain nyawa, wabah ini juga menimbulkan dampak yang luar biasa, terutama stabilitas ekonomi.
WEF (World Ecconomic Forum) memandang akibat Covid 19 ini, pertumbuhan ekonomi sejumlah negara diprediksi negatif. (Liputan 6.com, 12/04/2020). Untuk Indonesia, presiden Jokowi tetapkan Corona sebagai Bencana Nasional dengan terbitnya Keppres No 12 tahun 2020. Direktur INDEF (eksekutif n Institute for Development of Economics and finance, Tauhid Ahmad menilai penetapan status ini adalah pertanda banyaknya sendi-sendi perekonomian Indonesia yang akan lumpuh (liputan 6.com, 15/04/2020).
Wabah virus Corona telah menempatkan penduduk bumi dalam situasi darurat bencana global dengan ancaman kelaparan. Sekjen PBB Antonio Guters memperingatkan bahwa krisis Corona tidak boleh dibiarkan berubah menjadi krisis kelaparan. (ParsToday, 15/04/2020). Sedangkan di Indonesia, berdasar data Kementerian Pertanian, stok pangan memang terjamin hingga Agustus. Namun, pandemi bisa mengubah proyeksi tersebut. (Jawa pos.com, 09/04/2020).
Corona dan  Kegagalan Kapitalisme
Amerika, negara kampiun demokrasi disusul negara-negara penganut demokrasi lainnya, telah gagal dalam penanganan Corona. Inilah bukti kegagalan sistem politik demokrasi yang telah mendewakan akal manusia dan menafikan peran agama (hukum Allah Swt) dalam mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Sistem ekonomi kapitalis yang diterapkan di negara-negara demokrasi, termasuk Indonesia, menjadi penyebab buruknya penanganan wabah. Sebagai sistem yang hanya bertumpu pada capaian materialistis, maka menyelamatkan ekonomi negara lebih diutamakan daripada menyelamatkan rakyat. Berbagai program untuk keselamatan rakyat hanyalah sebagai pelayanan ‘ala kadarnya’ atas apa yang sudah diberikan rakyat kepada negara (berupa berbagai macam pajak maupun asuransi yang sudah dibayarkan preminya).
Kapitalis timur yaitu Cina begitu menyombongkan diri dengan besarnya tentara, senjata, ekonomi yang maju dan ketinggian teknologi hari ini ternyata harus menyerah dengan adanya wabah. mereka mengatakan “kami mengalami banyak sekali problem dalam menghadapi virus ini”. Sementara Kapitalisme Barat (Amerika) , Negara yang memiliki teknologi canggih dari segi failitas kehidupan, ternyata kewalahan menghadapi pandemi Corona. Warga Amerika terus terinfeksi setiap hari.  Tertulis pada laman John Hopkins University and Medicine -Coronavirus Resources Center, per 16 April 2020 covid-19 telah menyebar ke 185 negara, total positif terkonfirmasi 2.072.228 kasus, total kematian 137.666 kasus.
Mantan Menteri Luar Negeri Amerika, Henry Kissinger, dalam sebuah artikel di Wall Street Journal mengatakan, bahwa pandemi Corona akan mengubah sistem global selamanya.
Kissinger menjelaskan bahwa kerusakan yang disebabkan oleh pandemi virus Corona baru mungkin bersifat sementara, akan tetapi kekacauan politik dan ekonomi yang disebabkannya dapat berlanjut selama beberapa generasi.
Kissinger mendesak pemerintah AS untuk fokus pada tiga bidang utama dalam menghadapi dampak pandemi secara lokal dan global. Pertama, meningkatkan kemampuan dunia untuk memerangi penyakit menular, dan hal itu dilakukan melalui pengembangan penelitian ilmiah.
Kedua, berupaya tanpa henti untuk mengatasi kerusakan yang disebabkan oleh ekonomi global akibat pandemi yang belum pernah dilihat manusia sebelumnya dalam hal kecepatan dan luasnya cakupan. Dia juga mendesak pemerintah Amerika untuk melindungi prinsip-prinsip sistem liberal global, hingga karakteristiknya.
Ketiga, hal yang tidak kalah pentingnya bagi pemerintah Amerika agar fokus padanya, bahwa ia sangat menyadari akan kesibukan Amerika dan negara-negara kapitalis lainnya dengan krisis pandemi Corona, benar-benar telah menciptakan kasus baru, yang tercermin dalam besarnya penolakan rakyat terhadap sistem kapitalis ini, di mana semua kebijakan penyelamatan ekonomi berakhir dengan yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin.
Kissinger menutup artikelnya dengan mengatakan bahwa tantangan historis yang dihadapi para pemimpin dunia pada saat ini adalah mengelola krisis dan membangun masa depan pada saat yang bersamaan.
Dan kegagalan dalam tantangan ini benar-benar dapat mengobarkan dunia. Artinya keruntuhan kapitalisme global benar-benar sebuah keniscayaan.
Habis Corona Terbit Khilafah
Desember 2004, Dewan Intelejen Nasional Amerika Serikat (National Inteligent Council/NIC) membuat dokumen bertajuk Mapping The Global Future yang meramalkan masa depan dunia tahun 2020. Inti laporan NIC perkiraan situasi 2020-an rinciannya adalah sebagai berikut :
Dovod World : Kebangkitan ekonomi Asia, dengan Cina dan India akan menjadi pemain penting ekonomi dan politik dunia;
Pax Americana : Dunia tetap dipimpin dan dikontrol oleh AS;
A New Chalipate : Bangkitnya kembali Khilafah Islamiyah, yakni Pemerintahan Global Islam yang bakal mampu melawan dan menjadi tantangan nilai-nilai barat; dan
Cycle of Fear : Muncul lingkaran ketakutan (phobia). Yaitu ancaman terorisme dihadapi dengan cara kekerasan dan akan terjadi kekacauan di dunia. Kekerasan akan dibalas dengan kekerasan.
Hal ini diperkuat oleh pendapat Ibnu Khaldun tentang 5(lima) sebab runtuhnya sebuah peradaban dalam Kitab Mukaddimah Ibnu Khaldun dijelaskan :
Ketika Terjadi Ketidakadilan (jarak Antara Kaya dan Miskin)
Merajalelanya Penindasan Kelompok Kuat terhadap Kelompok Lemah (Negara Kuat Menindas  Negara Lemah dan Negara Lemah harus Mengikutinya).
Runtuhnya Moralitas Peminpin Negara (Korupsi, Pidana, dll).
Adanya Pemimpin Tertutup yang Tidak Mau dikritik, dan yang mengkritik akan dihukum.
Terjadinya Bencana Besar (Peperangan) maupun wabah Covid -19 saat ini.
Kelima sebab ini sudah terjadi di dunia saat ini. Jika kaum muslimin secara kuat menginginkan perubahan hakiki yakni tegaknya syariah dan khilafah, maka hal ini sebuah keniscayaan.
Ini sekaligus membuktikan bahwa janji Allah dan kabar gembira Rasulullah saw akan kembalinya Islam memimpin dunia sebelum Hari kiamat menjadi kenyataan
إن الله زوى لي الأرض أو قال إن ربي زوى لي الأرض فرأيت مشارقها ومغاربها وإن ملك أمتي سيبلغ ما زوي لي منها وأعطيت الكنزين الأحمر والأبيض
“Sesungguhnya Tuhanku telah melipat bumi ini untukku. Aku bisa melihat bagian timur dan baratnya. Sesungguhnya kekuasaan umatku akan sampai sebagaimana bumi ini dilipat untukku. Aku pun telah diberi dua perbendaraan. Merah dan putih.” (Hr. Abu Dawud)
Kekuasaan dengan tegaknya khilafah ’ala minhajji Nubuwwah, yang sangat memperhatikan urusan rakyatnya termasuk kesehatan. Sebab , Islam menetapkan kesehatan adalah kebutuhan pokok publik. Rasulullah Saw bersabda yang artinya, “Siapa saja yang ketika memasuki pagi hari mendapati keadaan aman kelompoknya, sehat badannya, memiliki bahan makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dunia telah menjadi miliknya“. (HR Bukhari).
Khilafah akan membawa dunia pada puncak kesejahteraan untuk kedua kalinya dengan izin Allah Subhanaallahu Wa Ta’ala.
Khalifah dalam kepemimpinan Islam menempatkan dirinya sebagai raa’in (pengurus) sekaligus junnah (pelindung) bagi umat. Ia akan sungguh-sungguh melaksanakan kedua fungsi tersebut karena beratnya pertanggungjawaban di sisi Allah subhanahu wa ta'ala. Inilah yang menjadikannya sangat serius dalam penanganan wabah dengan prioritas keselamatan rakyat.
Mitigasi kebencanaan pun menjadi bagian tugas kepemimpinan. Negara Khilafah akan bersegera melakukan berbagai upaya untuk mengurangi risiko dan memastikan kebutuhan dasar serta keselamatan rakyat tetap terjaga. Negara Khilafah juga akan menegakkan semua hukum syara yang terkait dengannya. Lockdown syar’i akan segera diberlakukan untuk mencegah risiko yang lebih besar. Konsep lockdown yang syar’i ini tidak mengenal sekat-sekat negara bangsa dan egois kedaerahan yang diharamkan Islam.
Menyambut Masa Depan  Islam
Untuk melakukan perubahan besar menuju tata dunia baru dibutuhkan kesadaran terhadap realitas kerusakan yang akan diubah dan fakta baru untuk menggantikan fakta yang rusak tersebut sebagaimana disampaikan oleh Syekh Ahmad ‘Athiyat dalam bukunya Jalan Baru Islam (at Thariq). Dalam buku tersebut Beliau menjelaskan ada 2 (dua) syarat perubahan itu akan terjadi ; (1) sebuah kesadaran mengenai fakta kehidupan yang rusak yang melingkupi kehidupan umat, yaitu sistem kapitalisme -sekulerisme. (2) kesadaran tentang fakta alternatif yang akan menggantikan fakta yang rusak tersebut, yakni syariah kaffah dan khilafah.  
Jika kesadaran terhadap fakta yang rusak sudah dimiliki oleh umat Islam melalui proses berfikir mendalam, dan sekaligus kesadaran terhadap fakta baru yang akan menjadi penggantinya, maka selanjutnya yang dibutuhkan adalah pemahaman tentang metode yang akan ditempuh dalam mewujudkan perubahan menuju fakta baru tersebut. Metode yang ditempuh haruslah meneladani metode dakwah yang telah dicontohkan Rasulullah Saw. Beliau, melakukan tiga langkah praktis yaitu:
Pembinaan (Marhalah tastqif). Dalam marhalah ini Beliau membina orang-orang yang telah masuk Islam dengan aqidah dan syariah hingga lahir pribadi yang memiliki aqidah Islam yang kuat dan kepribadian Islam yang khas.
Interaksi pemikiran dengan umat (Marhalah tafa’ul ma’a alummah), Beliau dan para sahabat menyampakan pemikiran Islam secara terang-terangan di tengah-tengah masyarakat dengan menunjukkan kepalsuan pemikiran kafir jahiliyah dan membongkar rencana jahat kafir quraisy pada masa itu.
Penerapan Islam kaffah (Marhalah Tathbiq Ahkam Alislamiyah). Pada marhalah/tahapan ini masyarakat Madinah menyerahkan kekuasaannya kepada Rasulullah Saw, seperti firman Allah dalam surat An-nisa Nur ayat 55
وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ كَمَا ٱسْتَخْلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ ٱلَّذِى ٱرْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِى لَا يُشْرِكُونَ بِى شَيْـًٔا ۚ وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَٰسِقُون
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik”.(QS. An-Nur : 55).
Wallahu A'lam[SP]



Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: