Degradasi Moral: Buah Penerapan Pendidikan Sekular

Degradasi Moral: Buah Penerapan Pendidikan Sekular




Oleh : Detty Arianti Shareh
(Aktivis Dakwah)


Lagi, penampakan degradasi moral generasi kembali terjadi. Di Sidoarjo belum lama ini ada sejumlah siswa merayakan kelulusan dengan konvoi dan mencoret-coret seragam. Kemudian disusul aksi youtuber Ferdian Paleka yang membuat prank dengan memberi sembako sampah ke waria demi menambah subscriber. Hingga yang terbaru beredar video yang berisi sejumlah remaja menjadikan ibadah shalat sebagai bahan candaan.

Sederet fakta di atas semakin menambah daftar catatan hitam betapa buruknya moral generasi di negeri ini. Pasalnya, kejadian-kejadian yang menunjukkan buruknya akhlak generasi sudah sering terjadi di negeri ini. Degradasi moral ini seolah menjadi gurita yang tidak bisa diselesaikan secara tuntas. Kerusakan generasi yang kembali terulang seolah menunjukkan kegagalan program pendidikan berkarakter yang dicanangkan pemerintah. Lalu apa yang menyebabkan krisis moral ini kembali terjadi?

Pendidikan Sekular Penyebab Krisis Moral

Sistem pendidikan sekular, memisahkan agama dari kehidupan, telah menjadikan pendidikan di Indonesia berbasis kepada kebebasan. Pendidikan yang berorientasi pada materi telah melepaskan nilai-nilai agama dalam mengatur urusan pendidikan di negeri ini. Akibatnya, sistem pendidikan diatur dengan aturan selain Islam, atau aturan dibuat dengan standar manfaat. Itulah mengapa sistem pendidikan yang ada di negeri ini sarat dengan kepentingan.

Kita lihat bagaimana di sekolah-sekolah, pelajaran agama diberikan porsi hanya satu kali tatap muka dalam sepekan. Waktu yang sedikit itu tidak cukup digunakan untuk membentuk karakter puluhan anak dalam satu kelas, agar memiliki akhlak yang baik. Ditambah dengan tidak adanya integrasi antara nilai-nilai agama dengan mata pelajaran yang lain. Sehingga seolah nilai-nilai agama menjadi tidak relevan dengan permasalahan kehidupan saat ini. Belum lagi tujuan pembelajaran hanya berorientasi pada nilai akademik. Nilai dan norma agama tidak lagi diperhatikan.

Tak heran jika menyontek telah menjadi budaya, suap-menyuap agar diterima di perguruan tinggi, orang berpendidikan menjadi tersangka kasus kriminal, jual beli ijazah hingga jual beli jabatan menjadi potret buruknya sistem pendidikan Sekularisme. Yang lebih miris lagi pendidikan sekular ini ditopang oleh lingkungan yang juga sekular. Budaya-budaya barat telah menjadi kiblat dan menjadi alat yang siap menggempur karakter generasi.

Solusi Islam

Paparan di atas menunjukkan bahwa sistem pendidikan sekularisme terbukti tidak mampu menghasilkan generasi yang berkarakter. Penyebabnya karena pendidikan sekularisme mengabaikan Islam sebagai sumber penentu kebijakan. Tidak ada solusi lain kecuali pendidikan ini harus dikembalikan kepada Islam. Islam menjadikan aqidah sebagai asas dalam mendidik generasi. Setiap generasi dibekali aqidah yang kuat serta dibekali ilmu-ilmu dunia dan akhirat. Sehingga yang dihasilkan nantinya adalah generasi yang tidak hanya cerdas, namun juga memiliki kepribadian Islam, berakhlak mulia.

Tak cukup hanya menerapkan Islam dari aspek pendidikan saja. Namun kondisi lingkungan juga harus diatur dengan aturan Islam. Jika tidak, maka akan sulit terbentuk karakter generasi yang berakhlak mulia. Terlebih jika budaya barat yang merusak masih mudah diadopsi. Sehingga harus ada pencegahan agar budaya-budaya barat tersebut tidak masuk dan diadopsi kembali.

Hal ini mendorong aspek politik juga harus diatur dengan aturan Islam. Jadi, untuk mengintegrasikan Islam agar diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan ini membutuhkan suatu institusi politik berbasis Islam, yang biasa dikenal dengan sebutan Khilafah. Dengan khilafah maka generasi yang berkarakter akan bisa dihasilkan secara kolektif. Wallahu a'lam bish Shawab.
Previous Post
Next Post

post written by:

ibu rumah tangga yang ingin melejitkan potensi menulis, berbagi jariyah aksara demi kemuliaan diri dan kejayaan Islam

0 Comments: