Hari Raya di Tengah Wabah, Bolehkah Bahagia?

Hari Raya di Tengah Wabah, Bolehkah Bahagia?


Oleh : Siti Khodijah
Praktisi Pendidikan

Tak terasa bulan suci Ramadan berlalu, sungguh bulan yang penuh berkah akan segera berakhir. kini kita tengah diselimuti kebahagiaan, yaitu kebahagiaan Hari Raya Idul Fitri, yang telah dijadikan Allah sebagai Hari Raya bagi umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallama.Sebagaimana dikatakan dalam sebuah hadis. 
Dari Anas radhiyallahu’anhu, Ia berkata :
“Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam datang ke Madinah dan pada saat itu penduduk Madinah memiliki dua hari dimana mereka bermain-main (bersenang-senang) pada kedua hari tersebut, maka Rasulullah bertanya, "Dua hari apakah ini?", mereka menjawab, "pada masa jahiliyyah kami bersenang-senang pada kedua hari ini". Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian yang lebih baik dari kedua hari tersebut, yaitu hari Idul Adha dan Iedul Fithri." (HR. Ahmad).


Pada  zaman Rasulullah, hari raya Iedul Fitri dirayakan dengan menyalakan lampu-lampu yang diisi minyak di rumah-rumah, jalan, masjid untuk memeriahkan hari raya. Seiring dengan perkembangan zaman, tradisi ini tetap dipertahankan oleh Khilafah Bani Umayyah, bahkan lebih meriah lagi. Karena itu, kemeriahan ini bisa dilakukan oleh khilafah yang akan datang.
.
Bahkan, pada masa Bani ‘Abbasiyyah, istana negara telah melakukan tradisi open house. Dengan jamuan makan-makan yang bisa dinikmati oleh publik, setelah mereka kembali dari tempat shalat. Khalifah pun menjadi tuan rumah dalam open house tersebut. Ini merupakan salah satu cara yang digunakan oleh khalifah untuk mendekatkan diri dengan rakyat, sekaligus menyaring aspirasi mereka.


Hingga kini, datangnya Idul Fitri biasanya disambut dengan perasaan yang gembira oleh umat Muslim dunia.Di Indonesia sendiri mempunyai cara tradisi khas yang hanya dilaksanakan pada hari raya, tidak hanya bersilaturahmi, tetapi juga ada sederetan kegiatan yang unik dan meriah. Menjelang hari lebaran tiba, mereka yang berada di luar kota sudah pasti pulang ke kampung masing-masing karena ingin merayakan dan memanfaatkan momen hari lebaran bersama keluarga tercinta.


Selain itu kebiasaan yang dilakukan adalah halal bihalal, ini merupakan tradisi paling wajib ketika lebaran ini merupakan suatu kegiatan yang menggambarkan tradisi bersilaturahmi dengan berkunjung ke sanak saudara, kerabat, teman, dan kolega ketika hari lebaran sudah tiba.

Begitulah Idul Fitri dirayakan oleh sebagian kaum Muslim, sebagaimana juga dilakukan oleh  para  khalifah pada masa lalu. Lantas, bagaimana dengan saat perayaan hari raya tahun ini? Sungguh sesuatu yang dilema. Di satu sisi kaum muslimin bersuka cita, di sisi lain harus berduka, karena tahun ini merupakan perayaan hari raya Iedul Fitri yang berbeda, sebab kini dunia sedang dihadapkan dengan wabah virus Corona. Virus tak kasat mata ini mampu memporak-porandakan tatanan kehidupan dunia. Semua sektor kehidupan mendadak lumpuh.


Penyebaran virus tersebut kian masif, tercatat pertanggal 18 Mei 2020 di Indonesia korban positif Corona mencapai 18.010 orang dan yang meninggal sebanyak 1.911 orang. Angka yang fantastis bukan? Namun ditengah penyebaran virus Corona yang kain masif, pemerintah justru mengeluarkan sejumlah kebijakan yang  mengancam nyawa rakyat. Mulai dari kebijakan pemerintah yang memutuskan mengoperasikan kembali seluruh moda transportasi umum. Meski menyatakan kebijakan ini hanya berlaku untuk masyarakat kategori tertentu, kenyataannya terjadi penumpukan calon penumpang di bandara Soekarno-Hatta untuk berbagai daerah tujuan.


Adanya wabah virus Corona atau Covid-19 ini juga memberikan dampak bagi beberapa negara yang terjangkit virus tersebut. Sebagian besar masyarakat Indonesia sendiri sudah merasakan dampak dari Covid-19 ini. Salah satu dampak yang paling terasa yaitu pembatasan aktifitas dikehidupan sosial dan ekonomi, dimana beberapa kegiatan diluar ruangan sepeti bekerja, sekolah, hingga ibadah harus dihentikan dan dialihkan sementara.


Dilansir dari kompasiana.com, Menkeu Sri Mulyani mengakui bahwa Corona bisa menambah angka kemiskinan dan pengangguran. Untuk itu, sejumlah mall dan pasar diberbagai wilayah mulai dibuka dan tentu saja akhirnya mall dan pasarpun ramai pengunjung bahkan berdesak-desakan, hal ini tentu saja membuat yang terkena positif Covid-19 di RI melonjak naik. Hal inilah juga yang akhirnya membuat banyak reaksi termasuk boomingnya tagar Indonesia Terserah yang merupakan wujud kekecewaan sebagian warga net dan tenaga medis khususnya. Selain terkesan ada pembiaran dan sikap tidak tegas pemerintah dalam menertibkan masyarakat yang melanggar protocol kesehatan penanganan Covid-19, tagar Indonesia terserah sendiri ditujukan untuk mayarakat yang tidak patuh terhadap protokol yang telah ditentukan.


MUI sendiri juga sudah mengeluarkan fatwa mengenai hukum dan tata cara pelaksanaan Iedul Fitri ditengah pandemi Virus Corona. Di daerah yang masih memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mencegah penyebaran Covid
-19, kemungkinan Salat Iedul Fitri tidak bisa dilakukan secara berjamaah di tanah lapang atau di masjid. Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prof Dr H Hasanuddin AF, MA, mengatakan salat Iedul Fitri bisa dilakukan di rumah masing-masing sendiri atau berjamaah.


Ketua Komisi Fatwa MUI pun menjelaskan bahwa hukum salat Ied sendiri adalah sunah muakad, sama halnya dengan Salat Jumat yang diganti salat dzuhur di rumah, maka Salat Idul Fitri bisa dilakukan di tempat masing-masing" pada detikcom, Selasa (12/5/2020).
Terkait tata cara Sholat Idul Fitri di rumah, menurut Prof Hasanuddin sebetulnya hampir sama dengan yang dilakukan berjamaah di masjid. Ada dua poin yang menyebabkan sholat id di rumah dan masjid berbeda.


Yang pertama niat Salat Iedul Fitri,
ucapan niat menyesuaikan kondisi pelaksanaan salat apakah menjadi imam, makmum, atau sendiri.


Kedua tidak  ada khotbah salat Iedul Fitri.
Hukum khotbah saat sholat id adalah sunah sehingga tidak membatalkan ibadah jika tak diselenggarakan. Khotbah saat sholat id berbeda hukumnya dengan selama pelaksanaan Sholat Jumat yang termasuk wajib.


Selain dua poin tersebut, maka Salat Ied di rumah dan masjid dilakukan dengan cara yang sama, yaitu tujuh kali takbir pada rakaat pertama dan lima kali takbir di rakaat kedua. Di sela takbir bisa membaca kalimat tahlil atau takbir yang mengagungkan Allah Swt.
Dengan ketentuan tersebut, maka pelaksanaan Salat Iedul Fitri di tengah pandemi virus Corona tidak jadi masalah bagi muslim. Salat bisa dilaksanakan dalam berbagai kondisi dengan mengutamakan usaha pencegahan infeksi Covid-19. Sebab di dalam Islam juga terdapat hukum prioritas. Menjaga kesehatan dan menghindari maut hukum wajib, sedangkan Salat Ied dan Tarawih sunah, maka lebih utama mendahulukannya  yang wajib.


Begitulah sejumlah fakta yang harus dirasakan karena virus Corona. Lantas bagiamana seharusnya kita besikap terutama saat hari raya Iedul Fitri, bolehkah bahagia? Jawabannya tentu saja boleh karena dalam keadaan apapun hari raya Iedul Fitri ini merupkan hari besarnya umat muslim. Hari yang seharusnya memang kita berbahagia karena telah menjalankan ibadah puasa satu bulan penuh.
Akan tetapi di negara yang menganut sistem kapitalisme, kebahagiaan hanya dirasakan sebatas individu-individu saja, kebahagian tidak semua dirasa oleh kaum muslimin. terbukti di tengah wabah ini,sebagian besar masyarakat tidak bisa membeli  kue-kue lebaran, baju baru, dan sebagainya. Bahkan untuk makan pun susah, fakta di lapangan menunjukkan banyak juga korban yang meninggal karena kelaparan disebabkan virus Corona. Pemerintah  pun abai terhadap urusan rakyatnya bahkan meski menyangkut nyawa.


Hal ini sangat berbeda dengan definisi kebahagiaan menurut Islam. Di dalam Islam tolak ukur kebahagiaan seorang muslim jika mendapatkan rida dari Allah Swt. Di dalam negara Islam, pemerintahan Islam sangat memperhatikan urusan umat. Sehingga ketika terdapat permasalahan yang menyangkut umat apalagi urusan nyawa maka dengan sigap persoalan tersebut akan cepat diselesaikan. Seperti halnya wabah yang pernah juga terjadi di zaman kekhalifahan Umar Bin Khatab. Khalifah Umar cepat mecari solusi dengan berdiskusi kepada orang yang mumpuni di bidangnya. Pemerintahn Islam dengan sigap mengampil keputusan yang tegas sehingga penyebaran virus cepat selesai diatasi.

Maka sudah selayaknya kita tinggalkan sistem yang rusak dan terbukti tidak bisa melindungi dan mengurusi urusan umat.

Wallahu a'lam
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: