Kelaparan di Tengah Wabah COVID-19

Kelaparan di Tengah Wabah COVID-19





Oleh Enok Badriyah



Mewabahnya virus corona ini benar-benar telah berdampak pada kehancuran perekonomian dunia, karena beberapa negara menerapkan lockdown atau karantina wilayah. Akibatnya semua sumber ekonomi seketika menurun dan hancur sehingga mengakibatkan orang-orang menderita kelaparan.


Beberapa negara menerapkan lockdown atau karantina wilayah guna untuk menghentikan laju penyebaran virus corona yang sudah banyak menyebar dan menelan korban jiwa yang semakin bertambah jumlah orang-orang yang terpapar karena virus tersebut, sebagaimana yang telah diajurkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).


David Beasley, Direktur Program Pangan Dunia (World Food Programme/WFP), mendesak pemerintah di setiap negara agar bertindak secepatnya demi menghentikan ancaman kelaparan yang bisa menimpa 265 juta orang di dunia akibat pandemi virus corona. 


Beasley juga menegaskan waktu yang tersedia saat ini cenderung singkat dan sudah semestinya para pemimpin dunia segera bertindak sebelum ratusan juta orang kelaparan. Lebih dari 30 negara berkembang akan mengalami kelaparan dahsyat ini, dengan 10 negara diantaranya bahkan sudah memiliki lebih dari 1 juta penduduk diambang kelaparan. 


"Kita tidak sedang membicarakan orang-orang yang akan tidur kelaparan," ungkap Beasley dilansir oleh The Guardian. “Kita berbicara tentang kondisi ekstrem, status darurat –tentang orang-orang yang benar-benar sedang berbaris menuju ambang kelaparan. Jika kita tidak memberikan makanan kepada orang-orang, mereka akan mati. "(Kumparan Sains, 25/04/2020).


Selain kelaparan, virus corona ini berdampak pada sebuah pekerjaan, banyak sejumlah pekerja pabrik kehilangan mata pencahariannya karena banyaknya orang-orang yang terkena PHK di tempat mereka bekerja. Kini jumlah angka pengangguran semakin bertambah karena orang-orang kehilangan pekerjaan mereka.


Contohnya di Indonesia banyak yang kehilangan pekerjaannya karena COVID-19, tidak main-main jumlah orang-orang yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) mencapai 15 juta.


Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) bidang UMKM, Suryani Motik menyebut warga yang menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat pandemi corona (Covid-19) bisa mencapai 15 juta jiwa.


Angka itu lebih besar dari jumlah yang sudah dirilis oleh Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) sebanyak 2,8 juta per 20 April lalu. Sebab, kata Suryani jumlah itu belum ditambah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang juga ikut terdampak.


"Jadi kalau tadi 2 juta, fakta bisa 15 juta. Itu 2 juta mungkin yang dilaporkan. Apakah UMKM melaporkan, kan tidak," kata Suryani dalam diskusi online via aplikasi Zoom, Jumat (1/5).(CNN Indonesia, 01/05/2020).


Bukan hanya di Indonesia saja yang banyak kehilangan pekerjaannya, India, negara berpenduduk sekira 1,3 miliar, menerapkan lockdown pada 25 Maret hingga 3 Mei. Akibatnya, jutaan buruh dengan gaji harian kehilangan pekerjaan mereka. Para buruh juga berjalan kaki ratusan kilometer menuju ke desa asal mereka.


Indrajeet, buruh pabrik sepatu di Mumbai, India, pada awal protokol lockdown diberlakukan, hanya meminum air untuk bertahan hidup.


"Saya hanya minum air di hari-hari awal lockdown ketika saya merasa lapar," kata Indrajeet menyitir Al Jazeera. "Selama beberapa hari terakhir, saya setidaknya berhasil makan sekali sehari," ujar dia lagi.(Okezone.com, 24/04/2020).


Kini orang-orang tidak hanya meninggal karena COVID-19 melainkan karena dampak kelaparan yang dideritanya. Sebelum kejadian pandemi COVID-19 ini sudah terjadi krisis terjadi kelaparan jumlahnya lumayan terbilang banyak apalagi dengan adanya wabah ini dua kali lipat bahkan lebih.


"Jika kita tidak membantu, nyawa mereka terancam. Jadi, jika kita tidak membantu, mereka akan meninggal. Setiap hari dalam keadaan normal ada sekitar 21.000 orang yang meninggal karena kelaparan. Setiap hari [meninggal] bukan karena COVID-19, seorang anak meninggal setiap 10 detik karena kurang gizi,” tutur Kepala Ekonom Program Pangan Dunia Arif Husain mengutip VOA.(Kumparan Sains, 25/04/2020).


Sudah saatnya pemerintah bertindak secara tegas dan memenuhi kebutuhan pangan yang sedang rakyat butuhkan, bukan hanya keuntungan dan pemerasan yang terus menerus pemerintah lakukan pada rakyat. Jika tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan pangan untuk rakyat, maka kini saatnya pemerintah mengakui dan melakukan perubahan, sebab sistem ini tidak mampu untuk mewujudkan kebutuhan pangan.


Dunia sudah memiliki hampir 1 Milyar penduduk yang kekurangan pangan, tentunya akan bertambah banyak yang kekurangan ditengah wabah ini. Di Indonesia hampir 22 juta orang yang bahkan lebih apalagi pada saat di tengah wabah ini 2 kali lipat akan bertambah.


Sistem ini sudah tidak mampu memberikan dan mewujudkan masalah pangan, gagalnya sistem Kapitalisme ini malah berdampak buruk pada penanganan kondisi saat ini, karena pemerintah lebih mementingkan keuntungan pada sistem kapitalis.


Islam memberikan sebuah solusi dimana kaum muslim seharusnya menyadari bahwa kita butuh sistem baru yang akan mensejahterakan dan menyalamatkan manusia, memberikan jalan keluar dari setiap masalah yang terjadi.


Khilafah adalah sistem Islam yang murni akan menyelamatkan manusia dan dunia. Sistem ini di rancang untuk mensejahterakan umat manusia, terbukti sistem ini pernah berdiri pada masanya dan mampu mengatasi segala permasalahan pada masanya.


Sebagaimana sabda Rasulullah SAW “Imam (Khalifah) raa’in (pengurus hajat hidup rakyat) dan dia bertanggung jawab terhadap rakyatnya” (HR Muslim dan Ahmad).


Sistem Khilafah ini yang mampu memberikan dan bertanggung jawab untuk manusia untuk membangun ketahanan pangan, sedangkan kapitalisme hanya mampu membangun target serta mengejar ekonomi karena sistem ini hanya mencari keuntungan semata.


Dengan terjadinya dampak pandemi saat ini mampu menyadarkan seluruh umat manusia dan dunia melihat bahwa kebobrokan rezim dan sistem ini tidak bisa menghalau kelaparan, tidak mampu memberikan kesejahteraan dan tidak memenuhi pangan pada setiap orang.


Tugas kita pengemban dakwah adalah menyadarkan dan memberikan fakta-fakta bahwa bobroknya sistem kapitalisme ini tidak bisa terus menerus diberlakukan dan tegak. Kita butuh sistem yang terbukti jitu menghadapi setiap masalah yaitu sistem yang dibangun atas landasan Allah SWT.


Selain itu berdoa adalah salah satu kekuatan dan senjata terbaik bagi seorang mukmin dalam menghadapi kondisi sulit sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: 

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( تَعَوَّذُوا بِاللهِ مِنْ جَهْدِ البَلاَءِ ، وَدَرَكِ الشَّقَاءِ ، وَسُوءِ القَضَاءِ ، وَشَمَاتَةِ الأَعْدَاء )) متفق عَلَيْهِ. وَفِي رِوَايَةٍ قَالَ سُفْيَانُ : أَشُكُّ أَنِّي زِدْتُ وَاحِدَةً مِنْهَا.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda, “Mintalah perlindungan kepada Allah dari beratnya cobaan, kesengsaraan yang hebat, takdir yang jelek, dan kegembiraan musuh atas kekalahan.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Al-Bukhari, no. 6347 dan Muslim, no. 2707]


Semoga Allah pulihkan dunia ini kembali aamiin allahuma aamiin.
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: