Kelaparan Menggema, Negara Kemana??

Kelaparan Menggema, Negara Kemana??



Oleh : Siti Farihatin, S.Sos 
(Guru Kelompok Bermain dan Anggota Aliansi Penulis Rindu Islam)

Dua bulan lebih lamanya wabah covid -19 menghantui negeri dengan jumlah rakyat terbesar ke empat setelah Cina, India dan Amerika. Covid - 19 yang merupakan makhluk renik yang tidak bisa dilihat dengan kasat mata menjadi ancaman global dunia, termasuk Indonesia.

Ancaman yang sangat menonjol adalah dalam bidang ekonomi, ekonomi global seakan sudah diambang kehancuran karena tidak berfungsinya roda perekonomian dengan efektif. Pun dengan Indonesia, banyaknya pengagguran, kriminalitas, kemiskinan, dan kelaparan menjadi mimpi buruk di tengah wabah.

Indonesia yang sejatinya adalah negeri kaya dengan Sumber Daya Alamnya melimpah nyatanya tidak bisa mengcover kebutuhan dengan maksimal. Ditambah lagi dengan adanya wabah memberikan dampak yang luar biasa dari segi kelangkaan pangan.

Sebanyak 22 juta penduduk Indonesia mengalami kelaparan kronis, jumlah itu sebanyak 90% dari jumlah penduduk miskin di Indonesia. "Banyak dari mereka tidak mendapat makanan yang cukup dan anak-anak cenderung stunting. Pada 2016-2018, sekitar 22,0 juta orang di Indonesia menderita kelaparan," terang laporan tersebut dikutip dari laman resmi ADB, Rabu (6/11). Dilansir dari Beritagar.id

Jumlah kelaparan akan semakin meningkat dua kali lipat di tengah wabah covid - 19. Menurut presiden Jokowi negara masih tertolong dengan adanya musim panen awal ini, tapi untuk panen kedua beliau menghimbau untuk lebih waspada.

Melihat fakta yang ada di negara-negara yang berdampak wabah lebih dulu seharusnya memberikan pelajaran bagi negara yang terdampak belakangan. Bagiamana sikap yang tegas diambil, sehingga bisa meminimalisir kemungkinan negatif yang terjadi.

Inilah buah kapitalisme yang sejatinya hanya menelurkan pemikiran yang jauh dari kepentingan rakyat. Untung rugi masih menjadi bahan pertimbangan untuk mengatasi wabah yang semakin tidak terkendali. 
Ancaman perekonomian yang semakin jauh dari harapan menjadi mimpi buruk, kelaparan akibat wabah tidak bisa dihindarkan. Bahkan berita kematian akibat kelaparan sudah menjadi hal yang biasa. Aturan kapitalisme sejatinya tidak bisa dijadikan rujukan karena sejatinya sudah cacat dari dasar terbentuknya sistem  ini. 

Negara yang seharusnya menjadi garda terdepan untuk mengatasi kelaparan di tengah dampak wabah faktanya tidak bisa rakyat andalkan. Rakyat terpaksa keluar untuk mencari sesuap nasi di tengah wabah. Kalau rakyat tidak bersikap demikian, apa yang akan untuk menganjal perut. Pun negara tidak memberikan kesejahteraan penuh di tengah wabah.

Kemanakah kita berharap dengan kondisi seperti ini?
Islam mewajibkan untuk terlaksananya pemenuhan kebutuhan sandang, pangan bahkan papan setiap individu masyarakat. Tidak dibedakan antara kaya dan miskim semua individu masyarakat berhak untuk mendapatkan kesejahteraan. Dengan mekanisme langsung dan tidak langsung oleh laki-laki, keluarga, masyarakat bahkan negara.

Khalifah Umar adalah orang yang ditakuti tapi lembut hatinya. Ketika kepemimpinannya dilanda krisis pangan beliau tidak serta memberikan tanggung jawab kepada individu masyarakat. Beliau memberikan tanggung jawab yang penuh untuk mengentas krisis pangan.

Beliau mendatangi kaumnya yang kelaparan dan menempati padang pasir. Mereka berjumlah seratus kepala keluarga. Yang tidak datang kepada beliau, dikirimi tepung, kurma, dan lauk-pauk ke rumahnya. Beliau mengirim bahan makanan kepada kaum Bani Anshr selama berbulan-bulan (muslimahnews.com, 07/04/2020).

Beliau tidak menunggu laporan dari rakyat yang mengalami kelaparan, tapi beliau dengan langkah kakinya melakukan perjalanan untuk melihat kondisi rakyatnya. Dengan jarak yang tidak dekat dan padang pasitlr beliau tidak gentar untuk terus melangkah.

Beliau mendirikan posko-posko untuk menangani krisis dan membagikan kurma, mentega, tepung dan anggur. 

Selama krisi berlangsung beliau berjanji untuk tidak makan daging, yang beliau makan hanya roti dan minyak untuk menganjal perutnya, sekaligus keluarganya diberlakukan aturan yang sama. Hal ini dimaksudnya agar beliau bisa merasakan bagaimana kelaparan yang diderita rakyatnya.

Inilah gambaran pemimpin yang bisa menjadi garda terdepan ketikah wabah dan krisis melanda. Karena sejatinya kepimpinan seseorang akan dipertanggungjawabkan kelak di akherat. Allahu 'Alam.
Previous Post
Next Post

post written by:

Cerdaskan Umat, Raih Kebangkitan!

0 Comments: