Krisis Moral di Tengah Pandemi, Butuh Solusi Hakiki

Krisis Moral di Tengah Pandemi, Butuh Solusi Hakiki




Oleh : Shafiyyah AL Khansa*



Ditengah pandemi wabah covid-19 yang sampai hari ini belum juga rampung, bukan berarti kerusakan diaspek kehidupan yang lain itu tak terjadi. Justru kerusakan Moral terus marak meski bumi belum kunjung membaik. Tentu, ini sangat disayangkan dan menambah beban negeri ini dalam memulihkan kondisi.

Seperti yang dikutip pada tempo.co dimana kriminalitas yang terjadi pada saat pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB) di DKI Jakarta mengalami tren peningkatan. Secara nasional, Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia mencatat ada kenaikan kasus kriminalitas sebesar 11,80 persen dari pekan ke-15 hingga pekan ke-16 di 2020. (24/4)

Tak hanya itu, kejadian miris juga menimpa salah satu warga di negeri tercinta dimana ia memilih mengakhiri hidupnya usai sebulan di PHK. Hal ini dikutip oleh CNN Indonesia.

Seorang pria berinisial JT ditemukan meninggal dunia karena gantung diri di sebuah kamar kos yang berlokasi di Kembangan, Jakarta Barat, Selasa (21/4).-Jakarta, CNN Indonesia

Dua kejadian tersebut menjadi bukti nyata bahwa negeri ini sedang tidak baik-baik saja baik ditatanan kesehatan karena pandemi covid-19 dan juga pada aspek sosial dimana angka kriminalitas terus meningkat.

Kewaspadaan dan berbagai kebijakan dalam rangka mengatasi pandemi memang sudah dilakukan oleh pemerintah seperti diberlakukannya social distancing, sosialisasi rajin cuci tangan, jaga jarak, serta gerakan mengenakan masker, termasuk PSBB dan asimilasi Napi. Yang dirasa bisa mengurangi kemungkinan terjadinya penyebaran virus covid-19 di dalam sel tahanan.

Namun, alih-alih meminimalisir penyebaran virus covid-19 di penjara justru meningkatkan angka kriminalitas karena para napi yang bebas karena asimilasi kembali berilah dan kembali ditahan. Tentu ini tidak bisa dibiarkan, dan harus segera ditangani dengan solusi yang solutif sehingga tidak bertambah beban negara dalam menyelesaikan berbagai persoalan dan rakyat tak terus menjadi korban kebijakan yang tak menuntaskan.

Berbeda dengan Islam, Islam memberikan solusi yang solutif dan tidak memandang sesuatu dengan keuntungan materi belaka sehingga rela mengorbankan rakyat. Islam telah mengajarkan bagaimana harus bersabar dan bersyukur dalam keadaan apapun.
Islam mengajarkan bahwa sesuatu yang datang dari Allah Swt wajib diyakini dan disyukuri termasuk pandemi virus corona yang saat ini hadir dalam kehidupan. Islam hadir sebagai agama yang paripurna yang juga mengatur segala aspek kehidupan. Islam juga mengajarkan tentang qadla qodar yang dengan meyakini aspek qadla inilah kita diminta untuk tetap sabar meski ditengah-tengah pandemi. Dan percaya bahwa apa yang Allah Swt turunkan pasti ada hikmahnya. Sehingga akan tercipta iman yang kokoh.

Tak hanya itu, dalam Islam juga negara memiliki kewajiban untuk meriayah rakyat dengan baik termasuk mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang solutif dalam menangani segala aspek kehidupan. Islam juga menjamin kebutuhan pokok masyarakatnya sehingga masyarakat tidak akan merasa Setres meski di PHK, tidak akan pula merasa kelaparan karena semua telah dijamin oleh negara.

Tentu saja, semua kemuliaan serta kemudahan yang ada dalam Islam bisa diterapkan secara nyata ketika Islam itu diterapkan diseluruh aspek kehidupan dalam bingkai khilafah. Wallahu’alam.


*(Penulis & Aktivis Dakwah)
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: