Lebaran Akan Tetap Istimewa

Lebaran Akan Tetap Istimewa


Oleh : Marsitin Rusdi
Praktisi Klinis dan  member AMK

Idul fitri adalah tanda berakhirnya bulan Ramadan. Makna idul fitri sesuai dengan tujuan yang akan dicapai yaitu manusia bertakwa. Makna fitri itu adalah kemenangan dimana dirayakan dengan kembali berbuka puasa atau makan, oleh karena itu disunahkan makan atau minum walau sedikit sesuatu sebelum pelaksanaan salat ied.

Idul Fitri  disambut dengan penuh suka cita yakni,  baju baru, perabotan baru, melimpahnya makanan, ketupat, opor, rendang, macam-macam kue  di rumah dan sebagainya. Moment berkumpul dengan sanak saudara dan keluarga. Ada yang mengartikan kembali dalam keadaan suci atau keterbebasan dari segala dosa, kesalahan,kejelekan, dan keburukan sehingga berada dalam kesucian atau fitrah.

Idul Fitri yang dalam istilah jawa di kenal  lebaran (lebar-lebur-luber –labur ).l ebar artinya sesorang akan bisa terlepas dari kemaksiatan, lebur artinya lebur dari dosa (bersih dari dosa. Luber artinya melimpah pahalanya, labur bersih sebab orang yang benar-benar melaksanakan ibadah puasa, maka hatinya akan dilabur (cat warna putih) putih bersih tanpa dosa.

Namun sesungguhnya ied itu kebahagiaan untuk siapa? Jelas kebahagiaan bagi orang-orang yang beruntung menjalankan puasa ramadan dengan sempurna, mampu lahir dan batin menjalankan seluruh ketentuannya. Bagi mereka yang patuh dan mampu serta ikhlas maka merekalah yang berhak mendapat kebahagiaan ied. Jadi tidak semua mendapat kebahagiaan yang sebenarnya. Jadi ied itu diperuntukkan bagi siapa saja yang bertambah ketaatannya. Seharusnya tidak ada perbedaan yang bermakna baik hari raya saat pandemi atau tidak, bila kita faham makna hari raya.

Kaum muslimin pun tengah bersiap siap penuh dengan kegembiraan dan keceriaan untuk menyambut dan merayakan idul fitri. Ini yang harus selalu menjadi bahan perenungan dan muhasabah kita setiap saat , khususnya setiap kali kita berjumpa dengan idul fitri. Ini adalah syiar karena Idul fitri dan Idul Adha adalah dua hari raya dalam Islam yang ditetapkan langsung oleh Allah sebagai pengganti hari-hari raya yang pernah dikenal oleh masyarakat Arab sebelum islam datang (HR. An Nasa’i, Abu Dawud dan Ibnu Hibban . Allah Swt berfirman, yang artinya, "Dan barang siapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah maka sesungguhnya itu termasuk bukti dan wujud ketaqwaan hati (TQS, al-Haj[]: 32)

Sudah berpuluh tahun kita merayakan hari raya Idul fitri kadang tanpa makna karena tidak mengerti apa makna hari raya tersebut. Bahkan kadang makna syiar secara kebersamaan aja belum bisa kita nikmati. Sehingga merayakannya hari itu tidak bisa sendiri-sendiri atau kelompok  tertentu. Hari Raya itu harus serentak dan bersama-sama, agar semua bisa merasakan dan memiliki hari raya yang utuh dan penuh, sebagaimana yang diwariskan Rasulullah saw. dan para sahabat, generasi salafus shaleh semuanya hingga kekhalifahan berakhir.


Yang perlu menjadi perenungan  dan introspeksi adalah bahwa kegembiraan yang kita rasakan haruslah merupakan rasa syukur kita kepada Allah Swt yang telah mengkaruniakan taufik kepada kita untuk bisa mengoptimalkan bulan Ramadan dengan amalan-amalan yang serba istimewa dalam rangka menggapai takwa. Bukan menggapai kegembiraan yang muncul karena merasakan telah lepas dari Ramadan yang disikapi sebagai bulan beban yang memberatkan, mengekang, dan membelenggu.


Kenapa kita disunahkan takbir, tahmid , tahlil dalam menyambut hari raya idul fitri maupun idul adha? Hal tersebut adalah sebagai penegasan, pembaharuan deklarasi iman dan tauhid. Itu berarti bahwa identitas iman dan tauhid harus selalu kita perbaharui dan kita tunjukkan dalam momen-momen kegembiraan dan perayaan, yang kadangkala justru melalaikan kita  dari berzikir dan mengingat Allah.

Kita  belum pernah menemukan dalam  sejarah  Islam adanya perbedaan berpuasa dan  berhari raya dalam satu wilayah apalagi satu kota atau satu kampung dan dalam satu rumah, sebagimana yang terjadi saat ini di negeri ini. Pernah di zaman sahabat terjadi  hanya perbedaan antar wilayah yang berjauhan  seperti yang kita dapati dalam hadis Kuraib ( HR.Muslim, Ahmad, dan lain-lain ) dimana Ibnu Abas dan para sahabat di Madinah  tidak mengikuti hasil ru’yah Khalifah Mu’awiyah dan kaum muslimin di Syam, namun berpegang pada hasil ru’yah lokal di Madinah sendiri. Sementara yang ideal adalah rukyah global namun selama ini belum bisa diterapkan karena masing-masing wilayah punya kepala negara dengan kebijakan yang berbeda.


Mengapa masih  ada perbedaan dalam penentuan awal Ramadhan dan awal Syawal serta Idul Adha? karena ketiadaan satu komando dibawah kepemimpinan sebtrak sehingga seluruh wilayah menentukan  rukyah masing-masing sesuai dengan ketentuan amir dalam wilayah tersebut. Sehingga selalu hampir setiap tahun ada perbedaan.


Perayaan Idul Fitri dan Idul Adha merupakan simbol ukhuwah dan persatuan umat. Momen syi’ar jama’iyah (syi’ar kolektif/ syi’ar kebersamaan) sudah semestinya seluruh kaum muslimin memulai puasa bersama-sama, mengakhirinya   bersama--sama. Tapi ternyata tidak mudah untuk direalisasikan, karena kita sering berbeda dan berselisih. Alhamdulillah untuk tahun 1441 Hari raya tahun hampir serentak seluruh dunia, semoga ini menjadi tanda akan kembalinya kejayaan Islam di muka bumi. Semoga tahun ini adalah Ramadhan terakhir tanpa kepemimpinan sentral yang mengayomi seluruh dunia Islam


Wallahua’lam bissawwab




Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: