Membumikan Al-Quran Pasca Ramadhan

Membumikan Al-Quran Pasca Ramadhan



Oleh : Ummu Hanif, Anggota Lingkar Penulis Ideologis

Ramadhan sebentar lagi pergi meninggalkan kita Semua. Sebagaimana yang kita ketahui, bulan mulia Ramadhan, adalah bulan yang salah satu keistimewaannya adalah bulan, dimana pertama kali al qur’an diturunkan. 

Dalam Al qur’an surat al baqoroh ayat 3 Allah menyampaikan, bahwa Al qur’an adalah petunjuk bagi orang – orang yang bertaqwa. Jadi, meski ramadhan adalah Bulan al-Quran, bukan berarti pasca Ramadhan kita tidak memebersamai lagi al qur’an. Karena hasil akhir dari puasa Ramadhan adalah membentuk pribadi bertaqwa. Dan jika dikaitkan dengan QS Al- Baqoroh ayat 3 tadi,  maka hasil dari puasa Ramadhan adalah terus berinteraksi dengan al -qur’an karena al qur’anlah petunjuk bagi orang yang bertaqwa.

Caranya tentu dengan senantiasa membaca, mentadaburi, dan mengamalkan seluruh isi al-Quran sekaligus berhukum pada al-Quran. Jika Ramadhan saja bisa mulia karena al-Quran turun di dalamnya, apalagi manusia. Manusia akan mulia jika semua aktivitas kehidupan mereka diatur dengan hukum-hukum al-Quran. 
Selama satu bulan kita sudah berlatih, untuk menjaga puasa kita agar tidak hanya sekedar lapar dan haus, caranya adalah dengan berupaya terikat pada aturan al -qur’an. Maka sebenarnya kita telah belajar untuk menjalankan secara sempurna salah satu rukun islam kita, yakni puasa. Timbul pertanyaan berikutnya, apakah Islam itu hanya sebatas rukun islam yang lima? Jawabannya tentu saja tidak. Islam bukan hanya sekedar rukun Islam yang lima saja. Namun Islam adalah sebuah manhaj, sistem hidup, jalan hidup, way of life, yang juga mengatur seluruh aspek kehidupan manusia mulai dari ibadah vertical (ritual) sampai dengan ibadah horizontal (muamalah).
Islam mengatur dari mulai bangun tidur sampai dengan tidur lagi. Islam mengatur dari urusan yang kecil sampai urusan yang besar. Islam juga mengatur urusan sosial, politik, ekonomi, teknologi, hukum, dan budaya. Islam juga mengatur mulai dari urusan individu sampai dengan urusan negara.
Jadi, makna idul fitri pada hakikatnya adalah seorang Muslim harus kembali kepada asalnya yakni rela, ikhlas, ridho, agar seluruh kehidupannya diatur oleh Islam. Ketika kita bekerja, berbisnis, mengajar, bermasyarakat, berinteraksi, kita harus mau diatur oleh Islam. Juga ketika kita berkeluarga, berpolitik mengurus negara dan pemerintahan maka kita pun harus mau diatur oleh Islam. Bahkan saat kita sedang berselisih, berkonflik, kita pun juga harus mau dan rela diatur oleh Islam. Hanya dengan cara dan jalan itulah kita akan selamat. Dan dengan cara itulah kita bisa lebih dekat dengan Allah. Dan itulah makna dan hakikat kita merayakan Idul Fitri. Bahwa idul fitri adalah awal untuk kita benar – benar membumikan AL qur’an pasca Ramadhan.
Karena itu berhukum pada al-Quran adalah sebuah keniscayaan. Tidak boleh tidak. Umat Islam secara keseluruhan wajib berhukum pada al-Quran. Berhukum pada al-Quran adalah wujud nyata ketakwaan kepada Allah SWT. Dan berhukum pada al-Quran—pasti akan menghasilkan rahmat dan kerbekahan dari Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam Qur’an Surat al-A’raf [7]: 96, yang artinya :
“Andai penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan menurunkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami). Karena itu Kami menyiksa mereka karena apa yang mereka perbuat itu”

Wallahu a’lam bi ash showab.
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: