Mengakhiri Pandemi dengan Cepat, Bisakah?

Mengakhiri Pandemi dengan Cepat, Bisakah?


Oleh: Riza Febrita

Singapore University of Technology and Design (SUTD) meramalkan prediksi akhir dari wabah Covid-19 di sejumlah negara, termasuk Indonesia. SUTD awalnya memprediksikan 6 Juni 2020 pandemi Covid di RI akan berakhir. Namun, diperbaharui pada Minggu (3/5/2020) menjadi 23 September 2020.
Dibandingkan dengan negara tetangga, data SUTD menunjukkan Singapura akan lebih dulu mengakhiri wabah Covid-19, yaitu pada 12 Juni 2020. Sedangkan Malaysia menyusul mengakhiri wabah Covid-19 di 16 Juli 2020. (cnbcindonesia.com/6/05/20)

Secara keseluruhan, pandemi Virus Corona diperkirakan berakhir pada 8 Desember 2020.(m.liputan6.com/27/04/20)

"Pembaca harus melihat prediksinya dengan hati-hati. Optimisme berlebihan berdasarkan prediksi tanggal berakhir adalah hal yang berbahaya karena bisa saja melonggarkan disiplin dan kenali kita dan menyebabkan lonjakan virus dan infeksi, dan harus dihindari," tulis SUTD.(m.liputan6.com/27/04/20)

Kalau hanya melihat prediksi terkait berakhirnya wabah dalam waktu dekat bisa memunculkan problem baru yakni berupa peremehan terhadap tingkat bahaya Covid 19. Sehingga yang terjadi adalah justru memperpanjang masa berakhirnya wabah.

Berbagai dampak sangat terasa menonjol di bidang ekonomi. Usaha dan bisnis banyak yang kolaps.  Dalam bidang pariwisata beberapa tempat wisata mengeluh ketersediaan makan binatang. Demi memenuhi makanan binatang buas, mereka harus  memotong binatang lain sebagai pengganti makanannya. Padahal biasanya dana bisa diambil dari biaya para pengunjung yang datang.

Masyarakat satu persatu mulai kehilangan nyawa bukan hanya karena wabah melainkan kelaparan karena bantuan sosial tak kunjung diturunkan. 

Terjadi kesalahan penyaluran jatah bansos yang tidak tepat sasaran karena kesemrawutan data yang tidak update. Warga yang berada di beberapa kecamatan yang ada mengeluh karena untuk satu RW  hanya satu yang mendapat jatah sampai tiga KK saja. Padahal sebelumnya pemerintah sudah menjanjikan segala berbagai bentuk bantuan. Baik listrik, air, sembako dan lain sebagainya.

Mengapa ini terjadi? Tak bisa dipungkiri di tengah wabah utang negara semakin membengkak hingga mencapai 5.192 triliun. Utang budi ke negara lain membuat negeri ini tidak bisa berdaulat maka wajar saja Cina bisa keluar masuk meskipun di tengah lockdown pun.

Tingkat kriminal terus meningkat. Tak jarang faktor ekonomi yang sulit menyebabkan suami istri cekcok bahkan ada istri yang takut berdiam di rumahnya karena tindakan kekerasan suaminya.

Oleh karena itu, seharusnya pemerintah memperhatikan segala dampak yang terjadi. Yakni fokus pada upaya memperketat penanganan wabah ini bukan melonggarkan PSBB dengan dalih memperbaiki ekonomi.

Sebagai seorang muslim musibah wabah adalah bentuk ujian dari Allah Subhanahu wa ta'ala. Wajib bersabar atas segala dampaknya. Namun, di sisi lain umat muslim tidak boleh mendiamkan kezaliman yang jelas menimpa mereka. Yakni dengan cara mengingatkan pemerintah untuk bisa melakukan amanah kepemimpinan sebagaimana yang agama ajarkan. Sudah terbukti kerusakan sistem yang menjadi akar kebijakan yang rusak. Maka umat butuh kepada sebuah sistem atau aturan yang langsung datang dari Sang Pencipta. Yakni hanya bisa diterapkan dalam negara Khilafah.
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: