Mengingat Kematian Muhasabah Terbaik di Kala Pandemi

Mengingat Kematian Muhasabah Terbaik di Kala Pandemi



Oleh: Nisaa Qomariyah, S.Pd.
Praktisi Pendidikan dan Muslimah Peduli Negeri

Ramadan 1441 Hijriah tahun ini, dunia dalam situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dunia tengah dicekam derita disebabkan makhluk ciptaan Allah Ta'ala yang sangat kecil dan tak kasat mata yakni virus Corona. Virus ganas yang berasal dari Wuhan, China, yang menjadi pandemi yang mengguncang dunia.
Kemajuan sains, teknologi, dan ilmu kedokteran di dunia terbukti tidak berdaya menghadapi pandemi ini. Virus ini seolah tengah menjadi saksi atas keagungan dan kekuasaan-Nya. Sehingga tak ada satu negara pun yang bisa berkutik menghadapi wabah Corona, bahkan negara selevel Amerika, Cina, dan Eropa.
Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya pun dalam kondisi yang sama. Corona, si makhluk super kecil nan perkasa ini juga menimbulkan goncangan di dunia Islam Mulai dari aspek politik dan kekuasaan, ekonomi dan keuangan, sosial dan hankam, serta hukum dan yang lainnya.

Pandemi Covid-19 benar-benar telah membuat umat manusia terlempar ke dalam kepanikan, keputusasaan dan kehilangan asa. Jutaan penduduk diberbagai penjuru dunia satu demi satu melepas nyawa. Sementara jutaan lainnya antri dalam keadaan putus asa. Menunggu nasib, akankah lolos dari screening kematian yang mengerikan?

Berbicara mengenai kematian yang disebabkan oleh virus corona. Indonesia sendiri per tanggal 14 Mei 2020 terdapat 16.006 kasus positif dan 1043 orang meninggal akibat Covid-19. Semakin meningkatnya kasus Covid-19, membuat publik dilanda ketakutan. Tidak sedikit orang yang mengalami stress hingga menimbulkan respon yang berlebihan karena takut mati akibat terpapar virus corona.
Padahal dalam Surat an-Nisa' ayat 78, Allah Swt. berfirman :
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ
“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh." (TQS. An-Nisa' [4]: 78).

Kemudian diayat yang lain Allah berfirman :
إِنَّا نَحْنُ نُحْىِ الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَاقَّدُموا وَءَاثَارَهُمْ
“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang yang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan." ( TQS. Yasin [36]: 12).
Dari kedua ayat tersebut, dapat kita pahami bahwa dimana pun kita berada tidak melihat muda maupun tua, miskin maupun kaya, kematian akan menjemput kita. Dimana saja kita berada tatkala malaikat maut menjemput, kematian pasti datang. Walaupun kita berada di dalam benteng-benteng pertahanan yang kokoh lagi jauh dari tempat-tempat pertempuran dan peperangan.

Allah Swt menghidupkan orang-orang mati seluruhnya dengan membangkitkan kita di Hari Kiamat. Allah Swt. mencatat kebaikan dan keburukan yang kita lakukan dan peninggalan-peninggalan kita seperti anak yang salih, ilmu yang bermanfaat dan sedekah jariyah dan juga menulis keburukan mereka berupa kesyirikan dan kemaksiatan. Segala sesuatu telah Allah catat dalam sebuah kitab yang jelas, yaitu Ummul Kitab yang merupakan induk segala kitab disebut Lauhul Mahfuzh.

Maka dari itu, ada maupun tidak adanya virus Corona , manusia akan menemui ajalnya dan dimintai pertangungjawaban atas semua perbuatan selama di dunia oleh Allah Swt. Kita sebagai manusia hendaknya bersabar terhadap qadha Allah Swt. Sebab, manusia yang terkena virus Corona pun masih ada yang diberikan kesembuhan oleh Allah Swt. Jadi, sebagai seorang Muslim yang perlu kita khawatirkan adalah ketika kita menemui ajal nanti apakah bekal kita cukup atau belum? Lalu dalam keadaan bagaimana kita mati?
Maka, kita harus sadar bahwa Allah Swt. telah memberikan karunia dan nikmat melimpah kepada kita. Yakni berupa badan yang sehat, tenaga yang kuat dan umur. Serta waktu yang luang untuk senantiasa kita pergunakan untuk beramal salih di dunia yang fana, sebagai bekal di akhirat dan penolong di yaumil akhir.
Ibnu Umar ra. berkata, ''Aku datang menemui Nabi Muhammad Saw., lalu salah seorang Anshar bertanya, siapakah orang yang paling cerdas dan paling mulia wahai Rasulullah? Nabi menjawab, orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya, mereka itulah orang-orang yang cerdas, mereka pergi dengan membawa kemuliaan dunia dan kehormatan.'' (HR. Ibnu Majah).

Hadis di atas menjelaskan bahwa orang yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat mati dan menyiapkan bekal setelah mati. Tentu bekal yang akan kita bawa setelah mati adalah amal salih dengan menjalankan semua perintah dan menjauhi segala larangan Allah Swt. Bagaimana cara agar mendapatkan amal salih? Terus apa yang harus dilakukan agar selamat di yaumil akhir nanti?

Berikut beberapa pengingat untuk kita, agar kelak kita mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan di hadapan Allah Swt. kelak dengan 5 M yaitu :
1. Mu'ahadah (Perjanjian dengan Allah Swt.)
Kita melakukan sebuah perjanjian kepada Allah Swt. dengan bersyahadat. Sebagaimana yang  tercantum dalam Al Qur’an, Allah berfirman : “Dan ingatlah ketika Rabb mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka, dan Allah mengambil kesaksian terhadap mereka (seraya berfirman):
“Bukankah Aku ini Tuhanmu?, mereka menjawab. “Betul (Engkau Tuhan kami) kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikianitu agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” (TQS. Al-A’raf [7] : 172).

Itulah perjanjian yang harus dilakukan oleh seluruh umat Muslim yang hidup di dunia ini. Sudahkah kita semua memegang teguh perjanjian tersebut dengan Allah Swt. yang telah memberikan semua nikmat dalam hidup kita? Selain itu, kita juga harus meyakini bahwa hanya Allahlah satu-satunya tuhan yang disembah dan diyakini.

2. Mujahadah (Bersungguh-sungguh beribadah)
Ketika sudah melakukan perjanjian dengan Allah, maka kita wajib beribadah kepada-Nya. Ibadah merupakan alasan Allah menciptakan manusia. “Dan Aku tidak menciptakan Jin dan Manusia melainkan agar mereka menyembahKU. (TQS. Adz-zariyat [51] : 56).
Oleh karena itu, bersungguh-sungguhlah dalam melaksanakan ketaatan dan menjalankan perintah Allah Swt., segerakan tanpa nanti-nanti.

3. Muraqabah (Merasa diawasi Allah)
Dalam Surat al-A’la [87] ayat 7, Allah Swt. berfirman:
“Orang yang banyak berdzikir adalah orang selalu merasa diawasi oleh Allah Swt. Dzikir terambil dari kata dzakaro yang berarti menghadirkan sesuatu ke dalam benak. Dzikrullah adalah menghadirkan Allah ke dalam benak. Karena itu orang yang selalu berdzikir akan menyadari betul bahwa Allah mengetahui segala sesuatu. Seperti di dalam ayat, “Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi."
    
Selain itu Allah Swt. juga berfirman dalam Surat Qaf [50] ayat 16-18, yaitu :
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dengan urat lehernya, yaitu ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya, satu duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.”

4. Muhasabah (Intropeksi diri)
Mengenai hal muhasabah Umar bin Khaththab ra. berkata :
“Hisablah dirimu sebelum dihisab, timbanglah diri kalian sebelum ditimbang. Sesungguhnya berintropeksi bagi kalian pada hari ini lebih ringan dari pada hisab di kemudian hari.” (HR. Iman Ahmad dan Tirmidzi secara mauquq dari Umar bin Khaththab).

5. Mu'aqobah (Sanksi ketika lalai beribadah)
Ketika melakukan sebuah kesalahan menyegerakan mengoreksi diri dan melakukan tobat. Jadi, dibutuhkan kesadaran diri yang baik dan keimanan yang kuat. Dan hanya orang-orang yang salihlah yang dapat melakukannya. 

Seperti salah satu kisah Nabi Sulaiman as. dalam Surat Shaad [38] ayat 31-33 :
“(Ingatlah) ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore, maka ia berkata:
“Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan. Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku." Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu.
Wallahu a’lam

Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: