Miris! KDRT di Tengah Pandemi

Miris! KDRT di Tengah Pandemi



Oleh: Fatimah Azzahra, S. Pd

Orang yang terinfeksi covid 19 semakin hari semakin meningkat. Ternyata, selama himbauan #dirumahsaja, angka KDRT pun meningkat. Mirip dengan fenomena yang terjadi di Cina, angka perceraian meningkat pasca lockdown. Rainy Hutabarat, Komisioner Komnas Perempuan, membenarkan hal ini, "KDRT meningkat, tak hanya di Tanah Air tetapi di seluruh dunia" (idntimes.com, 17/4/2020).

Bahkan, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) António Guterres menyatakan, "Telah terjadi gelombang KDRT yang mengerikan dalam skala global" (Tirto.id, 16/4/2020).
Konselor Trauma, Nur Hidayati Handayani menyatakan, "Pemberlakuan PSBB justru membuat masyarakat stres hingga akhirnya fenomena ini terjadi" (idntimes.com, 17/4/2020). Stress akan menimbulkan posisi melawan atau melarikan diri. Sementara sekarang tidak bisa keluar, maka anggota keluarga lah yang jadi pelampiasan stress, khususnya melampiaskan dengan melakukan kekerasan. Apalagi jika ditambah dengan himpitan finansial. 

Inilah potret gagalnya sekulerisme kapitalisme menjaga kehidupan rumah tangga rakyatnya. Betapa banyak ternyata suami yang tidak merasa bersalah menyakiti pasangan hidupnya, anaknya, baik secara verbal apalagi fisik. Betapa banyak suami yang stress dengan keadaan saat ini, ekonomi makin terhimpit. Disatu sisi ingin menafkahi keluarga, di sisi lain tak bisa keluar rumah atau kalaupun memaksakan keluar rumah mencari nafkah saat ini, pendapatannya jauh di bawah sebelum wabah. 
Ini menggambarkan sekulerisme kapitalisme tak mempedulikan kondisi mental rakyatnya. Bagaimana sikap suami kepada istri dan anak-anaknya? Bukan urusan mereka. Ini pun menggambarkan sekulerisme kapitalisme gagal menjamin kebutuhan rakyatnya. Sekulerisme kapitalisme hanya berfokus pada keuntungan para pemodal. Sebagaimana fenomena kartu pra kerja di negeri ini. 

Sangat bertolak belakang dengan Islam. Dalam Islam, negara berkewajiban menjaga keimanan rakyatnya, termasuk para suami. Dengan iman yang kokoh, para suami akan mudah diingatkan untuk bersikap ma'ruf kepada istri dan anak-anaknya. Apalagi hal ini tercantum dalam hadist nabi saw, "Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik sikapnya terhadap keluarga. Dan aku adalah yang terbaik di antara kalian terhadap keluargaku.” (HR Ibnu Majah) 

Kedua, islam mewajibkan negara menjamin pemenuhan kebutuhan rakyatnya. Sehingga meski pandemi datang, rakyat tak perlu risau akan kebutuhannya. Darimana dananya? Islam mengatur kepemilikan sumber daya alam. SDA yang ada masuk kepada kepemilikan umum, yang berarti milik rakyat. Negara berkewajiban mengelolanya dan menyerahkan semua hasilnya pada rakyat. Bukankah negara kita kaya? Berapa banyak lahan tambang, minyak bumi, emas, logam mulia, bahan nuklir, belum pohon, ikan di lautan? Kalau semua itu dikelola dan dikembalikan hasilnya kepada rakyat, maka rakyat akan terjamin terpenuhi kebutuhannya. Baik sandang, pangan, bahkan papan. Juga terpenuhi keamanan, kesehatan, 
dan pendidikannya. 

Masihkah kita berharap pada sekulerisme kapitalisme? Sudah saatnya mencampakkannya dan menggantinya dengan Islam. 
Wallahu'alam bish shawab.
Previous Post
Next Post

post written by:

Cerdaskan Umat, Raih Kebangkitan!

0 Comments: