Muhasabah dan Taubat di bulan Berkah

Muhasabah dan Taubat di bulan Berkah




Oleh: Bintunapan Sastrawetjana


Ramadan karim, bulan dinanti para mukmin. Penuh berkah, Rahmat dan ampunan didalamnya. Bulan diturunkannya Al qur'an sebagai pedoman. Pembeda antara salah dan benar. 

Tahun ini sedikit berbeda. Ia datang ditengah wabah virus corona. Ia datang saat manusia dilanda ketakutan, kecemasan, dan ketidakpastian.

Bukan tanpa sebab masyarakat takut dan cemas. Bagaimana tidak, penanganan yang lamban dari pemerintah disertai solusi-solusi yang setengah-setengah.  Inilah yang memperparah. Pemerintah seolah abai akan nyawa rakyatnya. 

Pemberlakuan PSBB yang seharusnya sejak awal dilakukan pun menjadi seperti mundur maju. Larangan mudik, diikuti dengan ragu-ragu dengan dibukanya kembali transportasi. 
Belum lagi TKA asing justru malah dengan bebas asik melenggang. Untung saja masyarakat tidak tinggal diam. 

Ya, semua pil pahit dari sebab tindakan serampangan pemerintah harus ditelan masyarakat. 

*Sikap kita sebagai Muslim*

Musibah itu datangnya dari Allah. Namun ada peran manusia didalamnya. Tangan-tangan serakah manusia telah merusak alam ciptaan Allah Subhanahu wa ta'ala. 

Dari sini kita meraba, apa yang salah hingga Allah murka?
Dalam Firman Allah SWT yang artinya:
"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” 
(QS. Al-Rûm [30]: 41).

Musibah ditimpakan karena dosa-dosa kita. Maksiat kita terlalu banyak. Dan dosa paling besar adalah manusia sudah dengan terang-terangan menantang Allah dengan mencampakkan hukum-Nya. Menggunakan hukum selain dari yang Allah turunkan. Yaitu Al qur'an. 

*Jadikan momen untuk taubat, dan kembali pada-Nya*

Sebagai manusia yang dianugerahkan akal. Sudah seharusnya kita berpikir dan menyadari. Bahwa semua ada ranah kesalahan kita. Dan menyadari bahwa ini bentuk kasih sayang pencipta kepada hambanya. Allah tegur kita agar kembali kepada-Nya. Kembali kepada aturan-Nya. 

Maka sudah selayaknya sebagai orang beriman ketika melakukan kemaksiatan kita bertaubat. Memohon ampun dan segera memperbaiki diri.

Dengan cara berdakwah, menyerukan kebenaran. Bahwa kita harus kembali kepada aturan Tuhan yang selama ini kita campakkan. Sambil terus memperbaiki diri dengan memperbanyak ibadah kepada Allah SWT. 
Semoga wabah segera berakhir, dan kita bisa kembali kepada aturan Islam.

Wallahu'alam bisshawab
Previous Post
Next Post

post written by:

Cerdaskan Umat, Raih Kebangkitan!

0 Comments: