Pandemi atau Ekonomi

Pandemi atau Ekonomi


Oleh: E. Rachma, S.Si

(Praktisi Ekonomi & Politik) 


Program new normal life akan diterapkan bulan Juni nanti. Komjen Pol Agus Andrianto, Kepala Badan Pemeliharaan  Keamanan Polri menegaskan bahwa TNI & Polisi akan dilibatkan dalam program ini, agar tetap sesuai berjalan mengikuti protokol kesehatan. Syarat wilayah yang boleh menerapkan program new normal life adalah wilayah dengan kurva penyebaran infeksi Corona di bawah satu. 


Beberapa pihak seperti pengelola pusat perbelanjaan, pemilik toko, pengusaha, sebagian masyarakat, dan pihak lain mendukung program new normal life ini. Pasalnya selama pandemi Covid-19, pendapatan usaha mereka merosot tajam, bahkan ada yang 'merumahkan' karyawannya dan gulung tikar.


Di sisi lain, program new normal life juga membuat was-was tenaga medis, praktisi pendidikan, dan lain-lain.  Pasalnya jumlah orang yang terinfeksi Covid-19 masih banyak, bahkan meningkat, tidak melandai. Pada satu hari, pernah Indonesia memiliki sekitar 950  orang terinfeksi virus ini. Tentu mereka sangat khawatir, karena peralatan kesehatan yang kurang & tim medis termasuk dokter, banyak yang berguguran, terinfeksi virus. Tentu keputusan yang tepat harus ditetapkan. Satu sisi ada pandemi, di sisi lain ekonomi minim.


Di beberapa negara, kegiatan pembukaan mall, sekolah, tempat wisata, tempat ibadah, dan sejenisnya sudah dilakukan. Kegiatan ini dilakukan tetap menggunakan protokol kesehatan. Namun, beberapa waktu setelah diterapkan, banyak penduduk di negara tersebut terpapar virus Corona, seperti di Paris, Korea Selatan, dan lain-lain. Gelombang kedua pandemi Covid-19 terjadi, dan korban yang terinfeksi bertambah.


Sesungguhnya ekonomi akan membaik bila manusia sebagai pelaku ekonomi dalam keadaan sehat wal'afiat. Seperti yang pernah dicontohkan Amr bin Ash, Gubernur Syam,  saat itu penduduk Syam terkena wabah. Khalifah Umar bin Khattab saat itu, sebagai komando tertinggi membantu Amr bin Ash melakukan pencegahan penyebaran wabah dengan melakukan karantina bagi penduduk yang terpapar. Seluruh sumber daya alam, sumber daya manusia, dan kekayaan negara dikerahkan tuk mengobati penduduk kala itu, dan mencukupkan kebutuhan hidup mereka dan keluarganya. 


Seluruh harga sembako di pasaran, diatur se-ringan mungkin untuk memenuhi kebutuhan penduduk. Walau sebelumnya, pemerintah kala itu sudah membuat kebijakan agar harga kebutuhan hidup tidak memberatkan  penduduk. Semoga keputusan yang ditetapkan nanti memulihkan kondisi kesehatan rakyat, tanpa menambah jumlah orang yang terpapar.


Wallahu a'lam. 



Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: