Penguasa Lalai, Edukasi Tak Sampai

Penguasa Lalai, Edukasi Tak Sampai




Oleh: Ummu Zulfa

Miris, di berbagai daerah terjadi fenomena penolakan dan bahan gunjingan masyarakat terhadap ODP dan PDP. Bahkan tenaga medis yang bertugas menangani pasien dikucilkan.

Hal ini juga terjadi di Subang. Isolasi mandiri pasien positif COVID-19 asal Kalijati ditolak warga. Ini dikarenakan sejumlah warga merasa ketakutan tertular virus COVID-19 jika isolasi pasien itu dilakukan di lingkungan kediamannya. Padahal adanya isolasi itu untuk mempercepat proses penyembuhan.

Pertimbangan utama dilakukan isolasi mandiri karena berdasarkan pedoman kemenkes revisi ke-4 yang menyebutkan, kalau ada pasien positif COVID-19 bisa diisolasi mandiri maupun dirawat di rumah sakit bagi pasien yang dalam keadaan sedang dan berat, yang membutuhkan ventilator, ruang khusus dan support berbagai alat medis. Sedangkan pasien positif COVID-19 asal Kalijati ini dalam kondisi sehat.(Lampusatu.com)

Seiring dengan mewabahnya COVID-19 yang terjadi disejumlah daerah, jumlah pasien yang meninggal akibat terpapar virus juga semakin bertambah setiap harinya.

Saking ketakutannya warga tertular virus COVID-19 sampai-sampai banyak pula kasus penolakan warga terhadap pemakaman jenazah COVID-19.

Di Banyumas, Jawa Tengah warga membunyikan kentongan hingga ada yang melempar batu agar pemakaman di sekitar desa mereka dibatalkan.

Di Lampung, warga sekitar pemakaman memasang spanduk penolakan berukuran besar di lokasi pemakaman.

Begitu juga di Gowa, penolakan pemakaman bahkan berakhir ricuh. Dan masih banyak daerah-daerah lain seperti Sumedang, Depok, Makasar dan Tasikmalaya yang juga menolak pemakaman jenazah COVID-19. (Kompas.com)

Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Asrorun Niam Sholeh mengatakan pihaknya telah mengeluarkan fatwa nomor 18 tahun 2020 tentang pedoman pengurusan jenazah bagi umat Islam yang terinfeksi COVID-19. Fatwa ini diharapkan menjadi rujukan di tengah kekhawatiran masyarakat dan kejadian penolakan pengurusan jenazah pasien yang meninggal akibat COVID-19. Padahal setiap Muslim yang meninggal dunia akibat wabah memiliki kemuliaan di mata Allah.(Kompas.com)

Profesor Dokter Reviono, pakar penyakit infeksi saluran pernapasan fakultas kedokteran UNS Solo, mengatakan bahwa penderita COVID-19 yang meninggal dan dikuburkan sesuai SOP tidak akan menular.

Kenapa penolakan di tengah masyarakat bisa terjadi?

Minimnya edukasi tentang COVID-19 dan penanganannya membuat masyarakat ketakutan tertular virus sehingga membuat khawatir, panik bahkan ada pula yang meremehkan.

Edukasi yang tidak merata dari pemerintah membuat masyarakat melakukan upaya pencegahan secara mandiri, sesuai dengan apa yang mereka ketahui.

Rasa ketakutan dan kekhawatiran yang ada di tengah masyarakat telah membuat mereka kehilangan rasa empati dan kepekaan ( kepedulian) sosial. Mereka hanya memikirkan diri sendiri/ kelompoknya tanpa disertai dengan sikap empati pada korban dan keluarganya bahkan menghilangkan rasa kemanusiaan.

Ini nampak ketika ada penolakan warga terhadap orang yang positif COVID-19 untuk isolasi mandiri, pengucilan petugas kesehatan yang menangani langsung pasien COVID-19, dan pemakaman jenazah yang terpapar virus COVID-19. Ini merupakan fenomena yang menyakitkan. Orang yang positif COVID-19 dianggap aib, tertuduh, dan menakutkan sehingga keberadaannya ditolak oleh masyarakat.

Untuk menjaga diri sendiri dan masyarakat, tidak harus menghilangkan rasa kemanusiaan. 

Hal ini menunjukkan tingginya rasa individualisme dikalangan masyarakat. Setiap orang hanya memikirkan kelangsungan hidupnya masing-masing. Tak peduli sesama manusia, asal dirinya bisa bertahan dan selamat.

Dalam kondisi wabah seperti ini, peran pemimpin sangat diperlukan untuk menjaga dan mengedukasi masyarakat. Negara seharusnya menyebarkan informasi yang valid tentang penanganan COVID-19 secara lengkap dan terperinci. Negara juga harus memastikan informasi ini diterima oleh seluruh lapisan masyarakat baik langsung ataupun tidak langsung. Karena warga juga berhak mendapatkan informasi penting tersebut, tanpa kecuali.

Saat ini, landasan berfikir yang dipakai negeri ini adalah sekuler-kapitalis. Pemikiran sekuler menjadikan penguasa mengacuhkan hukum syara. Sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan, juga telah menggerus rasa kemanusiaan, tak ada empati apalagi rasa simpati terhadap sesama.

Sedangkan pemikiran Kapitalis akan membuat penguasa lebih mengutamakan materi. Maka wajar jika kebijakan yang dikeluarkan lebih mengutamakan ekonomi bukan edukasi dan keselamatan nyawa rakyat. Kapitalisme melahirkan penguasa yang tak berempati terhadap rakyat dan enggan menanggung beban rakyat sehingga rakyat harus mengurusi segala kebutuhan dan keperluannya secara mandiri.

Bagaimana dengan Islam?

Bagi seorang Muslim, tidak sepatutnya kita merasa ketakutan yang berlebihan terhadap semua penyakit melebihi ketakutan kita kepada Allah.

Ketika ada saudara kita yang terkena musibah atau wabah penyakit, maka yang muncul adalah rasa persaudaraan dan empati pada orang-orang yang terkena wabah, bukan menuduh, membenci, bahkan menolak keberadaannya. Karena Islam memperlakukan kaum muslim ibarat satu tubuh. Seperti halnya ketika Madinah dilanda kekeringan. Para gubernur wilayah lain berlomba memberikan bantuan terbaik mereka. Tak hanya memenuhi kebutuhan rakyat dan menyelesaikan masalah mereka, pemimpin pun selalu menjaga mentalitas rakyatnya dengan mengingatkan mereka untuk selalu terikat dengan Allah.

Kepemimpinan dalam Islam adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Pemimpin akan peduli dan menjadi pelayan umat. Sebagaimana sabda Rosulullah saw : " Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka." (HR. Abu Nu'aim)

Dalam kondisi wabah ataupun dalam kondisi normal, pemimpin akan menjaga jiwa rakyatnya dengan usaha optimal ( riayah su'unil umah). Seperti keputusan yang diambil Abu Ubaidah dan Muadz bin Jabal yang tidak meninggalkan Syam saat terjadi tha'un (wabah). Karena mereka merasa bertanggungjawab untuk mengurusi rakyatnya, saling tolong-menolong, merawat yang sakit, mengurus jenazah dan bersabar bersama mereka.

Semua masyarakat harus memahami bahwa sakit karena wabah bukanlah aib, bahkan Allah berikan penghargaan yang tinggi kepada mereka yang meninggal karena wabah. Rosulullah saw bersabda : " Orang yang mati syahid ada 5, yakni orang yang mati karena tha'un (wabah), orang yang mati karena menderita sakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang mati karena tertimpa reruntuhan dan orang yang mati syahid di jalan Allah." ( HR. Bukhari dan Muslim ).

Wallah a'lam bi ash- shawab.
Previous Post
Next Post

post written by:

Cerdaskan Umat, Raih Kebangkitan!

0 Comments: