Pentingnya Kreativitas bagi Pendidik (bagian 1)

Pentingnya Kreativitas bagi Pendidik (bagian 1)




Oleh : Husnawati,S.Si*






Di masa Pandemi seperti ini sangat diperlukan kreatifitas bagi seorang guru atau pendidik, karena mengajar bukan hanya bergantung pada bahan ajar atau alat peraga yang telah ada, karena sesungguhnya alam semesta ini salahsatu sumber belajar yang bisa dimanfaatkan, tinggal kemampuan dan kreatifitas dari pendidik untuk memotivasi para peserta didik.

Guru bukan hanya mengajar tapi sebagai pendidik dengan sentuhan hati. Dengan sentuhan kasih sayang akan lebih menguatkan hubungan batin antara guru dan peserta didik.

Tugas Mulia

Menjadi seorang guru adalah suatu profesi yang sangat mulia, seorang guru memiliki peran yang sangat besar terhadap tumbuh kembang seorang anak, keberhasilan anak saat dewasa kelak apakah menjadi orang yang baik atau jahat, pintar atau bodoh, sukses atau gagal dipengaruhi oleh didikan guru mereka, selain didikan dari keluarga dan pengaruh lingkungannya.

Tidak ada seorang tokoh pun di dunia ini yang berhasil tanpa peran seorang guru. Apapun profesinya saat dewasa menjadi ilmuman yang cerdik, dokter yang professional, penulis yang terkenal, sastrawan yang hebat, pengacara yang handal, tentara yang gagah berani, petani yang sukses dan sebagainya semuanya belajar dari seorang guru.

Rasullah Saw dalam masa kecilnya mendapat bimbingan dan didikan yang baik dari ibu susuannya Halimatus Sa’diyah. Beliau mendapat bimbingan bagaimana tata cara bertutur kata yang baik dan bersikap sopan. Didikan dari ibu susuannya inilah yang menjadi karakter dari dari Rasullah Saw sehingga beliau memiliki sifat- sifat agung dan mulia seperti jujur sehingga beliau digelari Al-Amiin.

Agama Islam memposisikan guru atau pendidik pada kedudukan yang mulia. Para pendidik diposisikan sebagai bapak ruhani(spiritual father) bagi anak didiknya. Oleh karena itu pendidik memiliki kedudukan yang sangat tinggi, bahkan tinta seorang alim (guru) lebih berharga daripada darah syuhada. Keutamaan seorang guru atau pendidik disebabkan tugas yang diemban guru hampir sama dengan tugas seorang rasul.

Al-Ghazali menegaskan bahwa kedudukan yang tinggi yang diduduki oleh orang yang berpengetahuan bahwa orang alim yang bersedia mengamalkan pengetahuannya adalah orang besar disemua kerajaan langit. Dia seperti matahari yang menerangi alam, ia mempunyai cahaya dalam dirinya seperti minyak wangi yang mengharumi orang lain karena ia memang wangi. Dijelaskan dalam alqur’an surat Al-Mujadilah: 11

“Hai orang-orang yang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu:’ berlapang-lapanglah dalam majelis’, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu dan apabila dikatakan: berdirilah kamu’, maka berdirilah niscaya Allah akan meninggikan orang orang yang beriman di antaramu dan orang orang yang di beri ilmu pengetahuan beberapa derajat, dan Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan

Dari pandangan itu, dipahami bahwa tugas guru merupakan pewaris Nabi yang pada hakekatnya mengemban misi rahmatan lil’alamiin (membawa rahmat bagi seluruh alam) yaitu suatu misi mengajak manusia untuk tunduk dan patuh pada hokum-hukum Allah guna memperoleh keselamatan dunia dan akhirat.

Definisi Guru

Secara formal dalam UU No 14 tahun 2005 pasal 1 guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. 

Secara etimologis, guru sering di sebut pendidik. Dalam Bahasa Arab ada beberapa kata yang menunjukkan profesi ini seperti mudarris, mua’allim, murabbi dan muaddid yang meski memiliki makna yang sama namun masing-masing mempunyai karakteristik yang berbeda, disamping kata-kata tersebut juga sering digunakan kata ustadz atau syaikh. 

Penyebutan ini tidak terlepas dari rekomendasi konferensi pendidikan internasional di Makkah yang antara lain merekomdasikan bahwa pengertian pendidikan mencakup tiga pengertian yaitu tarbiyah, ta’lim dan ta’dib. Maka pengertian guru atau pendidik mencakup murabbi, mu’allim dan mu’addib (Muhaimin dan Abdul Mujib, 1993 :164)

Pengertian Murabbi mengisyaratkan bahwa guru adalah orang yang memiliki sifat Rabbani artinya orang yang bijaksana, bertanggung jawab, berkasih sayang terhadap siswa dan mempunyai pengetahuan. 

Dalam pengertian Mu’allim, ia mengandung arti bahwa guru adalah orang yang berilmu yang tidak hanya menguasai ilmu secara teoritik tetapi mempunyai komitmen yang tinggi mengembangkan ilmunya. Sedangkan dalam konsep ta’dib terkandung pengertian integrasi antara ilmu dan amal sekaligus (Muhaimin dan Abdul Mujib, 1993 :164)

Secara terminologi, guru sering di artikan sebagai orang yang bertanggungjawab terhadap perkembangan siswa dengan mengupayakan perkembangan seluruh potensi (fitrah) siswa, baik potensi kognitif, potensi afektif maupun potensi psikomotorik (Ramayulis, 2004 :86)

Guru juga berarti orang dewasa yang bertanggung jawab memberikan pertolongan pada siswa dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar memcapai tingkat kedewasaan. Mampu berdiri sendiri memenuhi tugasnya sebagai hamba Allah (khalifatulah) dan mampu sebagai makluk social dan sebagai makhluk individual yang mandiri (Ahmad Zayadi,2005 :25)



Peran dan fungsi guru yang cukup berat untuk diemban ini tentu saja membutuhkan sosok seorang  guru atau pendidik yang utuh yang tahu kewajiban dan tanggung jawab sebagai pendidik. Pendidik itu harus mengenal Allah Swt dalam arti yang luas dan Rasul serta memahami risalah yang dibawahnya dan mengamalkannya.

Fungsi guru yaitu : 

1.Sebagai pengajar (instruksional) yang bertugas merencanakan program pengajaran dan melaksanakan program yang telah disusun dan penilaian setelah program itu dilaksanakan

2.Sebagai pendidik (edukator) yang mengarahkan peserta didik pada tingkat kedewasaan yang berkepribadian insan kamil, seiring dengan tujuan Allah Swt menciptakan manusia

3.Sebagai pemimpin (managerial) yang memimpin dan mengendalikan diri sendiri, peserta didik dan masyarakat yang terkait. Menyangkut upaya pengarahan, pengawasan, pengorganisasian, pengontrolan, partisipasi atas program yang dilakukan itu. 

4.Sebagai pembimbing yang membimbing berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya bertanggung jawab atas kelancaran perjalanan itu

5.Sebagai model dan teladan bagi para peserta didik dan semua orang yang mengganggap dia sebagai guru

6.Sebagai administrator pada bidang pendidikan dan pengajaran

7.Sebagai penasehat bagi peserta didik juga bagi orang tua, meskipun mereka tidak memiliki latihan khusus sebagai penasehat dan dalam beberapa hal tidak dapat berharap menasehati orang



* (Praktisi Pendidikan)

Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: