Polemik Kebijakan Pemerintah dalam Menangani Pandemik

Polemik Kebijakan Pemerintah dalam Menangani Pandemik




Oleh. Reni Tresnawati


Dalam masa wabah virus Corona ini. Pemerintah mengeluarkan kebijakan, tempat ibadah dan sebagian tempat perbelanjaan harus di tutup. Pemerintah berdalih dalam masa pandemik seperti ini, harus menjaga jarak, agar virus Corona tidak semakin menyebar. Tetapi, anehnya kenapa semua tempat ibadah harus dibatasi, sedangkan tempat perbelanjaan hanya sebagian, sementara mal dan pasar masih tetap ramai.

Anggota Komisi Agama DPR RI John Kennedy Azis, mengkritik pemerintah yang tidak konsisten dalam penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di tengah pandemik covid 19 ini. John menyebutkan sejumlah video di media sosial yang menayangkan Pusat Pembelajaran atau mal disesaki pengunjung. Sementara tempat ibadah tetap dibatasi.

" Di mal-mal penuh, sementara di masjid tetap dikunci, ada apa ini? Bapak sebagai Gugus Tugas ada apa? Di mal bapak biarkan, di tempat-tempat keramaian yang lain dibiarkan, kata John dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VIII dengan BNPN yang disiarkan langsung dpr.go.id, Kamis 12/5. (CNN Indonesia).

Kritikan yang sama dilontarkan oleh Lisda Hendrajoni. Lisda mengkritik kejanggalan Koordinasi Pemerintah dalam menetapkan PSBB. Ia merasa prihatin dengan kebijakan ini, yang merasa masyarakat bingung. Apalagi diberlakukan nya penutupan tempat ibadah (masjid) sedangkan tempat pembelanjaan (pasar dan mal) buka.

Komisi VIII DPR RI meminta ketegasan Pemerintah terkait hal tersebut. BNPB juga memainkan peran sebagai Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan covid 19 diminta berkoordinasi. Dengan kemeneg, sebab kemeneg sedang menyusun rencana pelonggaran rumah ibadah.

Kapitalis Penuh Intrik dalam Mewujudkan Tujuannya

Sudah terlibat, bagaimana kapitalis dalam menangani negara di tengah penyebaran wabah ini. Antara penguasa dan staf-stafnya saling menghujat, tidak ada kesepakatan dalam memutuskan kebijakan. Penguasa dalam sistem kapitalis lebih cenderung kepada yang memiliki modal besar alias pengusaha. Ini terbukti saat mengeluarkan kebijakan di masa pandemik begini. Tempat ibadah yang menurut sistem demokrasi merupakan tempat untuk kebutuhan manusia dalam memenuhi kebutuhan rohani saja, sedangkan tempat pembelanjaan merupakan tempat untuk kebutuhan manusia dalam memenuhi kebutuhan jasmani, dan itu lebih penting.

Dengan lebih mementingkan kebutuhan jasmani daripada rohani, jelas sistem kapitalis hanya memikirkan kehidupan jasmani saja. Di sisi lain, pemberlakuan PSBB juga carut marut. PSBB diberlakukan kepada orang-orang kecil saja yang tidak dapat menghasilkan keuntungan, sementara infestor-infestor asing dibiarkan keluar masuk negeri ini dengan bebas nya. Karena mereka dapat menghasilkan keuntungan negara dalam bidang ekonomi.

Padahal, kalau ditelaah lebih jauh, bukan nya akan menguntungkan negeri ini. Malah mereka datang ke Indonesia ada tujuan-tujuan tertentu, yaitu ingin menguntungkan negaranya sendiri, mereka menguasai negeri ini, seperti halnya Freeport. Namun, pemerintah sudah berada dalam cengkraman penjajah, jadi tidak bisa berkutik. Termasuk dalam situasi pandemik ini, dengan keputusannya dalam membatasi ruang gerak kaum muslimin dalam beribadah, dan tetap membuka mal-mal dan pasar, pasti ada campur tangan asing dan aseng.

Sedangkan, antara tempat ibadah dan tempat pembelanjaan, lebih rawan tempat pembelanjaan dibanding tempat ibadah. Coba lihat, orang-orang yang sedang melaksanakan sholat di  masjid lebih teratur dan bisa dihitung dengan jari, antara pria dan wanita terpisah dalam melakukan sholatnya, sementara orang-orang yang berada di mal, manusia pada hilir mudik, bercampur baur antara pria dan wanita.

Di balik Musibah Ada Hikmahnya

Dalam situasi pandemik seperti ini, seharusnya yang  dibatasi itu mal dan pasar, bukannya masjid. Mal dan pasar lebih riskan dengan bersentuhan  dan tidak bisa menjaga jarak. Sedangkan masjid, tempat manusia beribadah kepada Sang Pencipta alam ini. Dalam keadaan ini, sebaiknya manusia lebih banyak mendekatkan diri kepada Al Khaliq, meminta perlindungan dari musibah wabah yang sedang terjadi saat ini. 

Bukankan setiap ujian atau musibah, Allah yang kirimkan? Begitu juga dengan mewabahnya virus Corona ini, Allah kirimkan kepada manusia untuk memperingati manusia agar tidak melampaui batas. Mintalah perlindungan dan pertolongan kepada yang membuat wabah ini ada. Karena tidak mungkin Allah SWT. mengirimkan ujian kepada hamba-Nya, kalau tidak ada tujuan dibaliknya.

 Semoga virus Corona segera berlalu. Wallahu'alam.
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: