Potensi Krisis Ekonomi Akibat Pandemi

Potensi Krisis Ekonomi Akibat Pandemi



Oleh : Ummu Hanif, Anggota Lingkar Penulis Ideologis 

Kristalina Georgiva, Managing director IMF, dalam konferensi persnya seperti yang dituliskan dalam laman CNBC (06/04) menyatakan bahwa tidak pernah dalam sejarah IMF, kita menyaksikan perekonomian dunia melambat kemudian terhenti. Lebih lanjut Kristalina menyatakan semua pihak perlu bekerja sama, bersatu, dan melindungi masyarakat yang paling rentan. IMF kini bekerja sama dengan bank dunia dan institusi finansial lainnya untuk mengatasi kejatuhan ekonomi akibat pandemi COVID-19. (tirto.id, 06/04).

Hal senada juga disampaikan oleh Gita Gopinath, ekonom IMF, dia menyatakan bahwa untuk pertama kalinya sejak depresi besar, baik negara maju dan berkembang, seluruh negara akan sama-sama memasuki krisis ekonomi. Gopinath lebih jauh menyatakan bahwa krisis ini bisa menghabiskan USD9 trilyun GDP Global selama dua tahun. Bahkan Gopinath meprediksi bahwa pertumbuhan negara-negara maju tidak akan kembali ke tingkat sebelum serangan virus, setidaknya sampai tahun 2022. (okezone.com, 19/04).

Pandemi global COVID-19 memang telah membawa suasana ekonomi global jatuh dalam sebuah krisis. Para ekonom global maupun nasional, satu sama lain telah mengungkapkan kekhawatirannya. Mereka mengungkapkan adanya kemungkinan terjadi krisis ekonomi global parah yang tidak bisa disembuhkan dalam waktu yang cukup singkat. 

Sementara itu, ekonom nasional dari institute for development of economic and finance (INDEF) dan Universitas Indonesia, Faisal Basri, memprediksi bahwa kondisi perekonomian indonesia akan sulit pulih akibat pandemi virus corona (covid-19). 

Lebih lanjut Faisal Basri menyatakan bahwa pemerintah tidak punya kemampuan yang besar untuk menahan laju anjloknya ekonomi meskipun ada stimulus fiskal untuk penanganan pandemi. Beliau memperkirakan ekonomi indonesia dan negara lain akan pulih secara bertahap mulai 2021. Namun diperkirakan pemulihannya tidak secepat yang diprediksi IMF. (kompas.com 24/04).

Adanya ancaman krisis ekonomi akibat pandemi tentu secara korelatif akan mengancam aspek produksi dan distribusi barang dan jasa di tengah-tengah kehidupan mereka. Terlebih saat ini dengan kebijakan isolasi penduduk dengan skala yang sangat besar telah menutup sebagian dari pintu-pintu produksi dan dan distribusi.

Dalam alam kapitalis, Krisis ekonomi adalah hal yang bakal sering. Mengutip Britannica dalam cnbcindonesia.com (10/12/2019) disebutkan bahwa telah terjadi 5 krisis keuangan global yang cukup parah sejak Barat bangkit dengan sistem kapitalismenya.

Krisis pertama kali terjadi pada tahun 1772 yang disebut dengan krisis kredit. Krisis inu terjadi saat Alexander Fordyce yang merupakan mitra perbankan perumahan Inggris “Neal, James, Fordyce and Down” kabur ke Prancis untuk mengindari pembayaran hutangnya. Kabar ini berhembus dengan cepat dan memicu kekacauan sektor perbankan di Inggris. 

Akhirnya para kreditor beramai-ramai melakukan penarikan tunai di bank-bank inggris. Krisis ini berdampak ke Skotlandia, Belanda, negara-negara bagian Eropa dan negara koloni Inggris-Amerika. 

Krisis keuangan parah juga terjadi pada periode tahun 1929-1939 yang disebut dengan great depression. Great Depression ini menurut para sejarah disebut dengan bencana keuangan dan ekonomi terburuk pada abad 20. Menurut para sejarawan, krisis ini dipicu oleh kehancuran pasar saham Wall Steet pada tahun 1929 dan buruknya kebijakan pemerintah AS pada masa itu. 

Krisis yang berlangsung selama 10 tahun ini telah mengakibatkan hilangnya pendapatan secara besar-besaran, tingkat pengangguran yang tinggi, produksi terhenti di berbagai kawasan, terutama di negera-negara industri. Bahkan di Amerika Serikat, pada puncak krisis telah mengakibatkan angka pengangguran mencapai 25%. 

Krisis ketiga terjadi pada tahun 1973. Krisis ini terjadi ketika anggota negara-negara OPEC mengembargo ekspor minyak ke Amerika Serikat akibat pengiriman senjata ke Israel selama perang Arab-Israel. Akibatnya Amerika Serikat dan sekutunya kekurangan minyak dan mengakibatkan harga minyak melonjak naik

. Terjadilah krisis ekonomi di Amerika dan banyak negara maju lainnya. 

Krisis keempat terjadi pada tahun 1997 di Asia. Krisis ini muncul pertama kali di Thailand pada tahun 1997 dan sangat cepat menyebar ke seluruh wilayah Asia Tenggara dan mitra dagangnya. Aliran modal yang sangat spekulatif dari negara maju ke negara AsiaTenggara seperti Thailand, Malaysia, Singapura, Indonesia telah mengakibatkan kredit yang berlebihan dan tingkat hutang yang cukup tinggi. 

Dengan kondisi tersebut, pada juli 1997, pemerintah Thailand meninggalkan kebijakan nilai tukar tetapnya(fixed exchanged rated) terhadap dolar AS dan memicu gelombang kepanikan pasar keuangan negera-negara asia tenggara yang lain. 

Akibatnya para investor asing menarik investasinya yang bernilai milyaran dollar dari negera-negara tersebut. Nilai tukar mata uang jatuh termasuk di Indonesia dari Rp 2.000 pada juni 1997 menjadi Rp 16.000 pada juni 1998. 

Krisis kelima terjadi pada tahun 2008 yang dikenal dengan krisis suprame mortage. Krisis ini terjadi karena kredit macet yang dialami oleh pasar perumahan di AS dan investor terbesar di dunia, Lehman Brothers. Kehancuran Lehman Brothers menyebar ke berbagai lembaga keuangan dan bisnis utama lainnya. Kekacacauan ini juga menarik sejumlah besar dana talangan atau bailout seperti bailout bank century di Indonesia.

Krisis keuangan yang jamak terjadi pada sistem kapitalisme sebenarnya disebabkan tidak hanya sekedar oleh terjadinya kekacauan tertentu semisal terjadinya pandemi seperti saat ini. Pakar Ekonomi Syariah, Dwi Condro Triyono, menyebut bahwa krisis ekonomi akan terus terjadi karena pilar-pilar sistem ekonomi kapitalis ini sangat rapuh. Ada 3 pilar yang menyumbang kerapuhan sistem ekonomi ini, yakni :
sistem mata uangnya, yaitu sistem mata uang kertas yang hanya berbasis pada kepercayaan (trust), bukan pada nilai intrinsiknya, kemudian sistem utang piutang yang berbasis pada bunga yang bersifat tetap (fixed rate), serta investasi asing yang berbasis pada perjudian (speculation) dalam sistem pasar modal. 

Wallahu a’lam bi ash showab
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: