Ramadhan, Momentum Kembali pada Al-Qur'an

Ramadhan, Momentum Kembali pada Al-Qur'an



Oleh : Sri Wahyuni
Ummu Warrobatulbait dan Pegiat Dakwah



Saat ini kita berada di bulan ramadhan, bulan dimana di turunkannya Al- Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia. Di dalamnya terdapat banyak sekali perintah maupun larangan untuk ditaati oleh kaum muslim. Oleh karenanya bulan ini hendaknya dijadikan momentum untuk kembali kepada Al-Quran agar kemuliaan dan keberkahan dapat segera diraih.

Al Qur'an adalah mukjizat Nabi Muhammad Saw yang paling istimewa, karena tidak terbatas oleh ruang dan waktu, berbeda dengan mukjizat para rosul yang lain yang hanya berlaku pada saat mereka hidup. Contohnya mukjizat Nabi Musa as, dalam membelah lautan hanya terjadi dan di saksikan oleh orang-orang yang hidup pada zamannya. Berbeda dengan ke mukjizatan Al-Qur'an yang berlaku hingga saat ini meski Rasulullah telah wafat.
Allah SWT berfirman dalam surat Al-hijr ayat 9 " Sungguh kamilah yang telah menurunkan Al-Qur'an. Sungguh kami pula yang menjadi penjaganya".

Sebagai kaum muslim kita wajib berinteraksi dengan Al-Qur'an jika kita ingin selalu berada di jalan yang lurus. Sejarah mencatat, kejayaan umat Islam berbanding lurus dengan tingkat interaksi mereka dengan Al Qur'an.  Jika interaksi umat Islam dengan Al-Qur'an tinggi maka kejayaan, kesuksesan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat sudah pasti menjadi milik umat Islam. Sebaliknya, jika mereka jauh dari Al-Qur'an maka kesedihan, kekhawatiran dan kesengsaraan sudah pasti akan menimpa mereka di dunia dan akhirat.(As-sa'di, Taysir Karim ar-Rahman fi tafsir Kalam al-Manna, 1/50)

Bukti terbesar cinta seseorang pada Al-Qur'an adalah dengan berusaha memahami, merenungi dan memikirkan makna-maknanya. Sebaliknya, bukti kelemahan cinta seseorang pada Al-Qur'an adalah berpaling dari Al-Qur'an dan tidak merenungi maknanya. Allah SWT telah menjelaskan bahwa Al Qur'an adalah petunjuk bagi manusia dari kegelapan menuju cahaya. Namun masih saja ada manusia yang tidak mengimani Al Qur'an, menolak isi dan aturan yang ada di dalamnya. Bahkan mereka berani mengatakan jika Al Qur'an sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman dan mengekang kebebasan. Jelas perilaku tersebut adalah termasuk tindakan yang lancang terhadap Allah dan rasul-Nya.

Perilaku mencampakan Al-Qur'an adalah dosa besar dan Allah mencela orang-orang yang berperilaku demikian. Tidak meyakini kebenaran Al-Quran, tidak mau mendengarkan dan tidak memperhatikan Al-Qur'an. Mengimani Al-Qur'an namun tidak mau mempelajarinya dan mempelajari Al-Qur'an namun jarang sekali membacanya. Sering membaca Al-Qur'an namun tidak men tadabburinya. Merenungi dan memahami maknanya, namun tidak mengamalkannya. Tidak mau menjalankan perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya. Semua itu adalah contoh perilaku yang mencampakkan Al-Qur'an.

Tindakan mencampakkan Al-Qur'an akan menjadikan pelakunya tenggelam dalam lumpur kesesatan yang nyata. Dadanya terasa sempit dan sesak meskipun dia memiliki harta yang berlimpah. Dia terkekang dalam kehidupan yang sempit dan kelak akan di bangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan buta. Mata hatinya menjadi buta sehingga tidak memahami kebenaran Al-Quran.  
Sebaliknya ada kewajiban mengamalkan Al Qur'an.  Ibnul Qayyim dalam Zad Al ma'ad berkata " Sebagian salafush shalih mengatakan sesungguhnya Al Qur'an diturunkan untuk diamalkan".

Ramadhan adalah bulan Al-Qur'an. Karena itu sejatinya bulan Ramadhan di jadikan momentum oleh kaum Muslim untuk kembali membumikan Al-Quran dengan cara mengamalkan seluruh isi Al-Qur'an sekaligus berhukum pada Al-Qur'an. Karena umat Islam secara keseluruhan wajib berhukum pada Al-Qur'an. Jika ramadhan saja bisa mulia karena Al Qur'an diturunkan di dalamnya apalagi manusia. Manusia akan mulia jika aktivitas kehidupan mereka diatur dengan hukum-hukum Al Qur'an. Oleh karena itu Berhukum pada Al Qur'an adalah suatu keniscayaan.  Berhukum pada Al-Qur'an adalah wujud nyata ketakwaan kepada Allah SWT. Jika puasa ramadhan benar-benar menghasilkan ketakwaan pada pelakunya, sejatinya mereka akan berhukum kepada Al Qur'an. Kembali pada Al-Qur'an dengan cara melaksanakan apa yg diperintahkan Allah SWT yang terdapat dalam ayat -ayat Al-Qur'an  secara kaffah  niscaya kemuliaan dan keberkahan akan dapat diraih.

Wallahu a'lam bi ash-shawab
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: