Ramadhan: Titik Tolak Berislam Kaffah

Ramadhan: Titik Tolak Berislam Kaffah



Oleh: R. Nugraha
(Member Tinta Pelopor)


وَاتَّقُوا فِتْنَةً لاَ تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ


Peliharalah diri kalian dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian. Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.

Ramadhan tahun ini menjadi Ramadhan yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kali ini Ramadhan datang ditengah keramaian pendemi corona. Banyak masjid ditutup. Tiada lagi buka puasa bersama. Tanpa tarawih berjamaah dimasjid. Bahkan sebagian besar sudah menginformasikan ditiadakannya iktikaf di sepulah malam terakhir di bulan penuh kemuliaan ini. Sedih mendapati kenyataan seperti ini. Tapi, inilah yang sekarang sedang terjadi. Pendemi corona semakin merajalela.

Diawal Ramadhan ini, stay at home masih diberlakukan. Hingga hiruk pikuk Ramadhan tak lagi didapati seperti sebelumnya. Mulai dari pasar hingga masjid kehilangan keramaiannya. Orang yang terbiasa dekat dengan masjid, menjadi merasa terjauhkan. Aktifitas bersosialisasi benar-benar dibatasi. Seminimal mungkin interaksi secara langsung dihindari untuk mencegah semakin tersebarnya pendemi ini. Dan kondisi semacam ini belum terprediksi kapan akan berakhir.

Dengan adanya kondisi pendemi, pada Ramadhan kali ini kaum mulimin harusnya semakin sadar untuk mengintrospeksi diri lebih dalam. Adakah kemaksiatan telah dilakukan? Kemaksiatan individu? Kemaksiatan masyarakat dan negara? Ataukah telah terjadi kemaksiatan secara kolektif?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوْا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيْهِمْ الطَّاعُوْنُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ قَدْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِيْنَ مَضَوْا…
”Tidaklah nampak perbuatan keji (zina) di suatu kaum, sehingga dilakukan secara terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka tha’un (wabah) dan penyakit-penyakit yang tidak pernah menjangkiti generasi sebelumnya.” [HR. Ibnu Majah, lihat ash-Shahihah no. 106].

Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa penyakit ini muncul akibat maksiat ini, beliau berkata:
ففي هذه الأحاديث أن الطاعون قد يقع عقوبة بسبب المعصية
“Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa tha’un muncul sebagai hukuman akibat maksiat/ fahisyah.” [Fathul Bari 10/193].

Kaum muslimin banyak yang bersedih dengan ditutupnya masjid-masjid akibat pendemi virus corona. Namun, ada yang telupakan. Banyak pula dari kaum muslimin tidak bersedih akan hilangnya penerapan hukum-hukum Allah secara sempurna paripurna.

Banyaknya media memberitakan kasus corona membuat sebagian besar orang menjadi panik. Sedangkan pedihnya siksa neraka yang secara gamblang tertuliskan dalam Al-Qur’an tidak membuat mereka berpikir panjang agar terhindar.

Tanpa disadari telah terjadi kemaksiatan kolektif karena mengabaikan hukum Allah. Tidak adanya penerapan hukum Allah secara sempurna merupakan tanggung jawab kaum muslim diseluruh dunia. 

Karena itulah saatnya untuk menjadi insan dan bangsa yang taat sempurna pada syariatNya. Padahal Allah telah menegur kita:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا…..
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).…”. (QS At-Tahrim : 8).

Mengapa kita harus bertaubat? Agar kita taat kepada Allah dan agar amal ibadah kita dapat diterima Allah SWT. Perbuatan dosa dan maksiat dapat menghalangi perbuatan taat. Itulah mengapa kita acapkali menjadi malas, enggan atau tidak bergairah menunaikan ibafah. Itu semua karena kita sudah kelebihan dosis dosa dan maksiat. taubat merupakan inti dasar untuk diterimanya ibadah. Sedangkan ibadah itu sendiri seolah-olah tambahannya saja. Bagaimana mungkin tambahan diterima, kalau intinya tidak dilakukan, yaitu taubat.

Karena kemaksiatan yang terjadi merupakan kemaksiatan kolektif, maka taubat dan taatnya pun harus dilakukan secara kolektif. 

Marilah kita jadikan bulan Ramadhan ini sebagai momentum bagi kita untuk kembali pada pangkuan Islam, makin taat syaria’t serta menjadikan akidah Islam dan hukum-hukumnya sebagai tali pengikat sesama Muslim. Menanamkan keyakinan bahwa taubat dan taat akan menghantar pada solusi tuntas problem dunia dan membawa obat bagi pandemic covid 19. Taat sempurna dengan perjuangan tegaknya khilafah. Hingga tiba masanya nanti.
Wallahu’alam bi showab
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: