Sejarah Islam di NTT dan Tantangannya

Sejarah Islam di NTT dan Tantangannya

  

 Oleh: Rumaisha 1453

 Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin, yang dibawa dan disebarluaskan  oleh Rasulullah Saw, sehingga tersebar diberbagai belahan dunia. Islam pun masuk dan diterima serta berkembang di Indonesia, khususnya di NTT.

 NTT adalah wilayah dengan berbagai corak suku, bahasa, serta agama yang sudah dahulu ada di wilayah ini.  Namun Islam tetap masuk, diterima dan berkembang sampai saat ini.
 Dari berbagai literatur disebutkan, Islam pertama kali masuk ke NTT pada abad ke-15 tepatnya di Flores, Pulau Solor yang dibawa oleh seorang pedagang sekaligus ulama dari Palembang yang bernama Syahbudin Al-Faris, yang kemudian dikenal dengan sebutan Sultan Menanga, yang sekarang diabadikan menjadi nama ibu kota  kecamatan Solor Timur. Hal ini tentu wajar, karena wilayah  tersebut menjadi titik pertama hadirnya Islam di NTT.

Pulau Solor mayoritas penduduknya adalah Muslim, kecuali daerah-daerah yang dibuka oleh para pendatang, seperti penduduk dari pulau seberang yang beragama selainIslam yaitu Kristiani. Daerah selanjutnya yang yang dimasuki Islam adalah Pulau Flores secara keseluruhan, Pulau Alor, Pulau Sumba serta Pulau Timor. Sampai saat ini, jumlah penduduk Muslim terbanyak adalah di Pulau Flores.

 Bukti kejayaan Islam di NTT khususnya di daerah pertama kali Islam masuk adalah pemerintahan Persekutuan “Solor Watan Lema” yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai Kerajaan Lima Pantai, dari tiga pulau berbeda yaitu Pulau Solor, Pulau Adanara, dan Pulau Lembata. Persekutuan kerajaan Islam itu meliputi Lohayong dan Lamalera yang berada di Pulau Solor, Lamahala dan Terong yang terletak di Pulau Adonara serta Labala yang terletak di Pulau Lembata. Daerah-daerah ini letaknya di pesisir pantai, Sampai hari ini masyarakat yang di pesisir pun rata-rata Muslim dibandingkan didaerah pedalaman atau pegununggan atau pegunungan.


 Pusat kesultanan “Solor Watan Lema” ini terletak di Kerajaan Lohayong, pulau Solor. Sebelum datangnya Islam di Lohayong sendiri sudah ada kerajaan Portugis, mereka menguasai Pulau Solor khususnya Lohayong serta membangun benteng disana  yang dikenal dengan Benteng Portugis. Setelah Islam masuk dan berkembang, semangat Jihad pun sudah dipupuk dengan berjalannya waktu, sehingga tepatnya pada tahun 1613 Portugis berhasil diusir oleh masyarakat walaupun dengan bantuan VOC. Benteng Portugis ini pun masih ada sampai sekarang yang banyak digunakan oleh sejarawan sebagai bukti sejarah.


 Tersebarnya Islam sampai ke pelosok-pelosok Pulau Solor, Adonara serta lembata tidak terlepas dari usaha-usaha yang dilakukan oleh lima kerajaan Islam ini. Mereka menyebarkan Islam dengan cara berdagang, ataupun mengadakan perkawinan dengan oarang-orang yang berada di pelosok-pelosok. Berkat usaha-usaha yang dilakukan oleh para pedagang serta raja dan rakyatnya hingga saat ini Islam pun berkembang di NTT.


 Perkembangan Islam yang paling menonjol  di NTT sampai saat ini  adalah pendidikan, walaupun pendidikannya belum sepenuhnya menerapkan aturan Islam. Contohnya adalah terdapat pesantren-pesantren yang terletak di Pulau Solor dan Adonara, Pesantren ini pun letaknya di pesisir pantai, serta sekolah-sekolah Islam dibawah naungan kementerian agama. Meskipun Islam belum masuk sempurna di semua bidang kehidupan, akan tetapi suasana keIslaman sangat terasa bila berada di daerah pesisir ini.

 Islam juga masih meninggalkan jejak budaya berupa tarian dana-dani yang katanya berasal dari Arab. Sampai saat ini pun tariannya masih populer baik di tengah-tengah masyarakat Muslim maupun Non Muslim.


 Meskipun Islam berkembang di NTT hingga saat ini, akan tetap Islam tetap berhadapan dengan tantangan dan rintangan supaya  tetap eksis. Karena sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwasannya Islam bukan hanya sebuah agama yang mengajarkan tentang bagaimana menjalankan ibadah kepada Pencipta-Nya saja, tetapi Islam diturunkan dengan seperangkat aturan kehidupan yang mengatur hubungan manusia dengan Allah Swt. Manusia dengan manusia yang lain maupun manusia dengan dirinya sendiri yang bersumber pada seluruh hukum Islam terkhususnya Al-Qur’an dan Hadis. Maka tidak heran jika banyak tantangan serta rintangan yang dihadapi, baik dari orang-orang yang menepati wilayah/daerah tersebut maupun dari adat atau kebiasaan dari daerah tersebut.

Melihat realita yang ada di NTT yang dijuluki “Daerah Nusa Terindah Toleransi”, bahkan sampai disebutkan sebagai provinsi paling toleran di dunia, maka tidak heran jika daerah ini sangat menjunjung tinggi  pluralisme. Paham yang menganggap bahwa semua agama adalah sama, sehingga toleransinya pun sampai kebablasan. Padahal dalam ajaran Islam, kita hanya mengenal agama yang paling benar disisi Allah swt adalah Agama Islam.

 Pluralisme  bukan hanya menjadi paham dan kebiasaan para tetua adat ataupun masyarakat awam, tetapi kini paham ini meggerogoti aktivis mahasiswa maupun pemuda-pemudi  yang ada di NTT. Kita bisa melihat semua ini dari kebiasaan para aktivis mahasiswa dalam melaksanakan kegiatan yang mereka sebut-sebut sebagai “toleransi”. Dan tak heran lagi yang menjadi pelopor utamanya adalah aktivis mahasiswa Islam, seperti membersihkan tempat peribadatan umat agama lain sebagai ajang kebersamaan.

 Bukan sekedar pluralisme, di NTT masih banyak masyarakat yang masih berpegang teguh terhadap adat yang diwariskan oleh nenek moyang mereka. Banyak sekali adat-adat yang berbau syirik, padahal kita mengetahui bahwa syirik adalah dosa besar yang tidak akan diampuni oleh Allah Swt. Bisa dikatakan banyak masyarakat NTT, terutama yang masih berpemukiman di pedalaman, masih mempercayai roh-roh halus, animisme, dll. Seperti yang terjadi baru-baru ini, banyak daerah-daerah yang ada di NTT menggelar ritual “Tolak Bala” untuk mencegah Covid-19 serta gagal panen yang dialami oleh warga. Banyak kaum Muslim juga yang mencampuradukkan Islam dan adat-istiadat, seperti ritual yang dilakukan untuk mencegah Covid-19 dengan menggirikan azan di pojok-pojok kampung.

Masyarakat belum bisa memandang sebuah masalah dari sudut pandang Islam. Ini merupakan PR besar bagi pengemban dakwah untuk mengenalkan dan menawarkan solusi Islam kepada mereka, sehingga masyarakat benar-benar bisa memahami Islam secara kaffah.
Wallahu A'lam [SP]




Previous Post
Next Post

post written by:

3 komentar: