Sudahkah Kita Meraih Ketakwaan Hakiki?

Sudahkah Kita Meraih Ketakwaan Hakiki?





Oleh: Ummu Ainyssa* 



Bulan Ramadan sudah berlalu, dan kini kita berganti memasuki Bulan Syawal. Sebagai seorang mukmin tentu kepergian bulan Ramadan meninggalkan banyak kesedihan. Bagaimana tidak, bulan yang di dalamnya penuh dengan rahmat, barokah, dan ampunan yang hanya bisa kita dijumpai setahun sekali itu telah pergi. Semoga kita masih bisa menjumpainya tahun depan.

Salah satu keinginan terbesar kaum Muslimin saat berjumpa dengan bulan suci Ramadan adalah meraih ketakwaan. Karena takwa merupakan derajat tertinggi keberhasilan orang-orang yang berpuasa dengan ikhlas dan penuh ketaatan. Sebagaimana Allah sampaikan dalam Alquran Surat Al Baqarah : 183 yang artinya : "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa". 

Selanjutnya suasana suka cita akan kita rasakan saat menyambut hari kemenangan, yaitu hari raya Idulfitri. Kemenangan dalam mengendalikan hawa nafsu setelah sebulan penuh berpuasa. Namun demikian, kemenangan yang hakiki bukanlah semata kita mampu menahan makan dan minum serta segala hal yang membatalkan puasa selama Ramadan. Kemenangan hakiki adalah saat ketakwaan bisa kita raih dan bisa benar-benar terwujud dalam diri kita. 

Akan tetapi suasana yang kita rasakan sungguh sangat berbeda untuk tahun ini, Allah masih menguji kesabaran kita. Kita harus merayakan hari raya di tengah pandemi wabah corona (Covid-19).
Ada suka dan duka, sholat Idul fitri yang dibatasi dengan berbagai protokol kesehatan, bukan salat Idulfitri penuh dengan suasana bahagia seperti biasanya, tidak ada acara mudik ke kampung halaman, kita tidak lagi bisa bersilaturahmi secara bebas dengan sanak saudara kita, tidak ada jabat tangan, dan lainnya.

Walau demikian, sebagai seorang muslim kita harus tetap bersabar dengan keadaan ini. Bisa jadi wabah ini sebagai salah satu ujian bagi kita untuk meraih derajat takwa tersebut. Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengungkapkan perayaan Idul Fitri tahun ini kita sedang menghadapi ujian berat dan harus dirayakan dengan cara berbeda karena Indonesia sedang menghadapi pandemi virus corona. Sehingga, tradisi lebaran seperti mudik dan silaturahmi tak bisa dilakukan dengan cara biasanya. 

"Hari raya Idul Fitri ini kita rayakan dengan cara yang berbeda, karena menuntut pengorbanan kita semua untuk tidak mudik dan tidak dapat bersilaturahmi seperti biasanya," ucap Jokowi.
"Saya merasakan hal ini sangatlah berat, tapi keselamatan handai taulan dan sanak saudara tentu lebih penting dan harus menjadi prioritas kita semua, saya yakin bersama-sama kita bangsa Indonesia akan mampu melewati ujian berat ini," lanjutnya pada Sabtu 23 Mei 2020. (Kumparan.com, 23 Mei 2020)

Sementara Wakil Presiden Ma'ruf Amin saat memberikan sambutan dalam acara Takbir Virtual Nasional dan Pesan Idul Fitri dari Masjid Istiqlal, Sabtu, 23 Mei 2020 mengingatkan umat muslim agar tetap dapat merayakan hari kemenangan ini, serta
menjadikannya sebagai momen untuk memperkuat iman dan takwa. Mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu mengatakan bahwa umat yang beriman dan bertakwa akan diberi ganjaran dan keberkahan oleh Allah SWT.

"Kalau beriman dan bertakwa pasti Allah turunkan kesuburan, kemakmuran, keamanan, keselamatan dan dihilangkan berbagai kesulitan. Itu adalah janji Allah di dalam Alquran," kata Ma'ruf.

Ia pun meminta masyarakat untuk lebih bersabar di tengah pandemi wabah Corona. Ia meyakini Indonesia dapat memenangkan perang melawan virus tersebut.
"Mudah-mudahan kita bisa bersabar untuk saat ini dan akan bangkit dan kembali meraih kemenangan dan kesuksesan dalam waktu yang tidak akan lama lagi," kata Ma'ruf. Seperti dilansir oleh Tempo.com, Sabtu 23 Mei 2020.

Memang benar, sebagai seorang muslim tentu kita harus bersabar dan tawakal dalam menghadapi segala cobaan dan ujian , terutama sebagai muslim yang ingin meraih derajat ketakwaan yang hakiki. Takwa yang diharapkan tentu takwa yang sebenarnya. Demikian sebagaimana yang juga Allah SWT tuntut atas diri kita: "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenarnya, dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan Muslim" (QS Ali Imran:102)

Sayangnya, negara kita saat ini belumlah menunjukkan tanda ketakwaan secara totalitas. Dalam perekonomian sistem yang diterapkan adalah kapitalisme, praktek ribawi masih terus dilegalkan. Sumber daya alam yang dalam syariah menjadi milik publik, diserahkan kepada swasta dan asing. Dalam hukum yang diterapkan bukan hukum Islam. Sebaliknya syariah Islam sering disudutkan. Sistem pemerintahan yang diterapkan sistem warisan Yunani kuno, demokrasi. Sedangkan khilafah yang merupakan ajaran Islam dan warisan Rasulullah saw. justru dimusuhi.

Di satu sisi kepala negara dan wakilnya menyebut bahwa modal untuk keluar dari wabah ini adalah tawakal, takwa dan mendapat rida Allah SWT. Akan tetapi kebijakan-kebijakan mereka dalam menangani wabah tidak berpijak pada syariah. Kendatipun banyak pihak yang memberikan masukan tentang solusi penanganan wabah seperti yang pernah diajarkan oleh Rasulullah mereka tetap abai. Saat pandemi semakin menyebar pun tidak ada ajakan untuk taubatan nasuha dan kembali kepada hukum Allah SWT.

Lantas seperti apa takwa yang hakiki itu? 
Jika kita tengok mengenai arti takwa, kata taqwâ berasal dari kata waqâ. Artinya, melindungi. Kata tersebut kemudian digunakan untuk menunjuk pada sikap dan tindakan untuk melindungi diri dari murka dan azab Allah SWT. Caranya tentu dengan menjalankan semua perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya. 
Pengertian takwa tersebut sebagaimana dikatakan Thalq bin Habib, seorang Tabi’in, salah satu murid Ibnu Abbas ra. Dikatakan, “Takwa adalah mengerjakan ketaatan kepada Allah SWT berdasarkan cahaya-Nya dengan mengharap pahala-Nya dan meninggalkan kemaksiatan kepada Allah berdasarkan cahaya-Nya karena takut terhadap azab-Nya.” (Tafsîr Ibnu Katsîr, I/2440).

Dengan demikian ketakwaan hakiki haruslah secara totalitas. Menerapkan semua hukum Allah (syariah Islam) tanpa terkecuali dan mewujudkannya dalam segala aspek kehidupan. Bukan memperlakukan syariah seperti halnya hidangan prasmanan. Yang disukai diambil, sementara yang tidak disukai ditinggalkan. Takwa juga bukan hanya harus ada pada tataran individual saja. Tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Karena ketakwaan negara adalah mahkota sekaligus benteng bagi ketakwaan individu dan masyarakat.

Negara yang bertakwa yang menerapkan aturan Islam secara kaffah inilah yang akan mampu menghadapi pandemi. Mengeluarkan kebijakan sesuai dengan hukum syara. Sebagaimana yang dilakukan para pemimpin sebelumnya di negara Islam. Jika masalah pandemi sudah merambah ke mana-mana, buah ketakwaan dari pemimpin harusnya taubatan nasuha. Minta ampunan kepada Allah sebanyak-banyaknya. Dan mengubah segala kebijakan disesuaikan dengan pandangan Islam. 

Dengan ketakwaan hakiki seperti ini maka Allah pasti akan meridai dan memberkahi negeri ini. Sebagaimana firman Allah SWT: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS Al A’raf:96)
Wallahu A'lam bishawab.


*(Pendidik Generasi dan Member AMK)
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: