Terserah atau Berdamai dengan Corona?

Terserah atau Berdamai dengan Corona?



Oleh: Nursonah

Beberapa hari ini saat pergi untuk mengisi presensi kantor, susanana jalan sudah mulai ramai. Suasana akhir ramadhan mulai terasa, berburu perlengkapan lebaran.  Pusat perbelanjaan yang saya lewati, mulai pasar Uber, borma cipadung, borma cinunuk, sampai griya grand cinunuk penuh oleh pengunjung. Padahal, masih PSBB, virus Corona belum jelas perginya.
Berita terbaru dari Kang Emil, Gubernur Jawa Barat, kasus Corona di Jawa Barat setelah kemarin turun sekarang mulai meningkat kembali. Semuanya dimulai dari himbauan yang mengajak masyarakat untuk berdamai dengan virus corona sampai vaksin ditemukan.

Pertanyaannya sampai kapan? Kapan vaksin ini akan ditemukan? Sementara perintah memotong anggaran kemenristek tak tanggung-tanggung langsung 40T. Ini menunjukan ketidak konsistenan pemerintah dalam menanggulangi wabah ini. Jika pemerintah memang serius bukankah harusnya menambah anggaran riset agar vaksin segera ditemukan, atau memang yang ada dipikirannya adalah menunggu vaksin ditemukan oleh Negara lain sehingga pemerintah tinggal beli? Sebegitu membudayanya kah import bagi Indonesia?

Ketidak konsistenan pemerintah dalam menanggulangi wabah ini memviralkan #TERSERAH yang dilakukan oleh para tenaga medis. Karena kebijakan yang diambil oleh pemerintah tidak dikoordinasikan dengan pihak lain, salah satunya tenaga medis, pemerintah seolah-olah mengacuhkan perjuangan para tenaga medis yang berada di garis depan, mengacuhkan Fasilitas rumah sakit yang sebenarnya tidak semuanya mumpuni untuk penangangan Virus Covid-19 ini. Kalau sudah seperti ini tenaga medis hanya bisa mengatakan terserah, bodo amat.

Tapi, kita sebagai umat muslim tentu tidak boleh #TERSERAH atau bersikap masa bodo. Bayangkan jika Rasullullah ketika dakwahnya tidak diterima oleh kaum kafir quraisy atau oleh masyarakat Thaif yang bukannya menyambut dakwah Rasul tetapi malah melempari Rasullullah dengan batu sampai seluruh badannya terluka, Rasullah menyerah dan mengatakan,  ”Terserah kalian”. Mungkinkah islam akan menyebarkan sampai masa kejayaannya menguasai  2/3 dunia? Begitu pula ketika terjadi wabah thaun pada kekhalifahan Umar bin Khatab bagaimana Umar mengambil keputusan untuk tidak memasuki Syam, tetapi tetap mencari cara untuk menanggulangi wabah tersebut dengan mengirim Amr bin ash untuk mempelajari sehingga menemukan solusi sehingga wabah dapat tertangani. Semuanya dilakukan oleh Rasullullah maupun para sahabat untuk mencari ridho Allah, karena berharganya nyawa dari seorang manusia. Karena  tujuan hidup mereka hanya satu untuk mencari ridho Allah.

Itupun yang harus kita lakukan saat ini, sebagai seorang muslim kita tidak boleh menyerah kepada kedaan karena khawatir Allah mengatakan terserah pada kita. Sebagai seorang muslim kita tetap menjalankan social distancing, tetap jaga kesehatan tetap jaga kebersihan, hindari kerumunan. Bukan karena kita takut akan virus, tetapi kita sedang berusaha berikhtiar, bersyariat islam mengikuti sunnah rasul dan para sahabat  agar Allah ridho sehingga wabah ini cepat berlalu. aamiin
Wallahu'alam bish shawab

Previous Post
Next Post

post written by:

Cerdaskan Umat, Raih Kebangkitan!

0 Comments: