Atasi Depresi Saat Pandemi

Atasi Depresi Saat Pandemi



Oleh Liza Pratiwi, S.Pd

Wabah Covid-19 semenjak bulan Februari 2020 lalu masuk ke Indonesia telah banyak berdampak kebanyak hal. Baik itu ke hal yang positif maupun ke hal yang negatif. Hari demi hari korban dari wabah ini terus bertambah dan meningkat. Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk mengatasi wabah Covid-19 ini, dimulai dari social distancing hingga ke PSBB atau yang dikenal dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar yang saat ini telah menjadi salah satu solusi untuk mengatasi penyebaran Covid-19 di Indonesia. 

PSBB lebih dipilih Indonesia daripada lockdown seperti yang dilakukan oleh negara-negara lain karena alasan tidak boleh matinya roda ekonomi, masyarakat tetap bisa beraktifitas, namun dibatasi dengan memperhatikan protokol kesehatan. Belum lama pemberlakuan PSBB, kemudian ada pernyataan-pernyataan pelonggaran terhadapnya. Menteri Koordinator hukum dan HAM, Mahfud MD mengatakan kepada Pemerintah untuk mempertimbangkan pelonggaran PSBB demi menjaga perekonomian masyarakat. Namun ketidak jelasan PSBB ini bukan malah jumlah korban wabah dari Covid-19 ini turun  atau bahkan hilang tetapi kian hari kian bertambah. Bahkan belum usai pro kontra PSBB, jagat maya digegerkan ketika keluar pernyataan Presiden Jokowi  melalui akun resmi media sosialnya (Kamis, 7/5), Jokowi meminta agar masyarakat untuk bisa berdamai dengan Covid-19 hingga vaksin ditemukan.  

Selama 3 bulan kurang lebih wabah Covid-19 ini ada di Indonesia belum juga wabah ini enyah dari Indonesia bahkan dari muka bumi ini. Dari pejabat hingga rakyat sudah mulai lelah dengan korban yang kian hari kian bertambah. Dampak dari Covid-19 ini pun sungguh tak terelakkan dialami oleh setiap masyarakat. Mulai dari depresi hingga bunuh diri. Sebab terjadi hal demikian pun beragam, mulai dari faktor internal (psikis) individu itu sendiri, cemooh dari masyarakat kepada para Nakes/orang yang bersangkutan yang bertugas menangani pasien Covid-19 ataupun yang masih berstatus ODP (Orang Dalam Pantauan) atau PDP (Pasien Dalam Pantauan), dan terakhir dari kebijakan negara itu sendiri. 

1. Depresi Karena Individu

Banyak yang akhirnya depresi karena menghadapi Covid-19 ini, tidak hanya para Nakes saja yang mengalami depresi karena banyaknya menangani pasien Covid-19 yang jumlahnya kian hari kian meningkat tetapi juga para wartawan, sebagaimana dikutip CNNIndonesia.com, Sabtu (16/5), "Terdapat 45,92 persen wartawan yang memiliki gejala depresi, jauh lebih tinggi dari tenaga kesehatan (28 persen)," demikian pernyataan dalam hasil survei tersebut. Tidak hanya itu, pandemi Covid-19 ini juga menimbulkan efek pada anak-anak, remaja milenial, hingga orangtua. Depresi Individu tersebut disebabkan oleh berbagai hal,  dari mulai kecemasan yang berlebihan, kurangnya interaksi, sepi job, banyak pekerja di PHK, kebutuhan hidup yang serba sulit dan sebagainya.  Seperti dikutip dalam CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu, "Isolasi adalah pemicu utama. Juga ketakutan tertular Covid-19, kehilangan pekerjaan, dan melihat orang-orang terdekat sakit bahkan meninggal karena Covid-19," kata Nova Riyanti Yusuf Dokter spesialis kesehatan jiwa.

2. Depresi Karena Masyarakat

Adanya opini negatif dari masyarakat, membuat pasien Covid-19 juga mengalami depresi bahkan orang yang belum pasti positif pun dibuat stigma negatif oleh masyarakat.  Dosen psikologi Universitas Muhammadiyah Jember Ria Wiyatfi Linsiya mengimbau masyarakat tidak memberikan stigma negatif kepada pasien positif COVID-19 dan keluarganya, karena dapat mempengaruhi kesembuhan pasien itu.

"Masyarakat tidak perlu berlebihan dan tidak boleh menghakimi seseorang yang memiliki gejala maupun yang positif terjangkit COVID-19 karena mereka justru butuh dukungan moral agar bisa segera sembuh," kata Ria Wiyati di Kabupaten Jember, Selasa, 5 Mei 2020.

Ia juga menyayangkan masyarakat yang secara sosial menjauhi orang-orang yang menderita COVID-19, bahkan di beberapa daerah terjadi penolakan jenazah warga atau tenaga medis yang terpapar virus corona, sehingga menambah duka dalam bagi keluarga pasien yang sudah kehilangan anggota keluarganya.

"Tidak perlu mengucilkan pasien COVID-19 dan keluarganya yang akan menyebabkan pasien semakin depresi dan rendah diri, justru masyarakat seharusnya menjalin komunikasi untuk memberikan dukungan moral dan semangat, agar mereka bisa segera sembuh," ucap psikolog di Jember itu, dilansir dari Antara.

3. Depresi Karena Kebijakan Negara

Imbas yang membuat seseorang depresi individu  dan depresi karena masyarakat adalah salah satunya karena kebijakan dari negara. Kebijakan yang dibuat pemerintah pada hari ini sungguh  banyak membuat rakyat umumnya depresi. Mulai dari  kenaikan listrik secara diam-diam oleh negara. Tetapi lagi-lagi tanggapan yang menyakiti rakyat adalah rakyat yang salah. Seperti dikutip dalam kompas.com, Sebelumnya, PT PLN (Persero) kembali menegaskan, membengkaknya tagihan bukan diakibatkan adanya kenaikan tarif listrik, melainkan meningkatkanya konsumsi pelanggan selama periode pembatasan sosial berskala besar (PSBB) diterapkan.

Tidak hanya itu kebijakan PSBB yang belum lama ini diberlakukan sehingga menyusul kebijakan lagi new normal juga membuat rakyat bingung dan cemas menghadapinya. Jumlah korban meninggal dunia akibat Covid-19 di Indonesia berada di urutan enam diantara negara-negara Asia. India berada di urutan teratas dalam jumlah kasus positif Covid-19 dan korban yang meninggal.

Berdasarkan data yang dilansir situs Worldometer pada Sabtu (13/6) pagi ini, kasus positif di Indonesia berada di urutan 11 di bawah Singapura, namun jumah korban meninggal 2.048 orang merupakan keenam terbanyak diantara negara-negara Asia (www.sinarharapan.com). Hal yang lebih menyakitkan lagi adalah hal itu dilakukan karena takut matinya roda ekonomi. 

Kemudian kebijakan lainnya adalah belajar online dengan segala permasalahannya yang tidak kunjung tuntas, mulai dari pro kontra new normal di bidang pendidikan dan kendala-kendala lain saat belajar online, seperti kurangnya fasilitas dari siswa dan guru untuk belajar online, evaluasi pendidikan dan seterusnya.
Menyempurnakan penderitaan rakyat +62 lagi,  kini satu beban ditambah lagi. Penyelenggaraan Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) diterbitkan dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 25 Tahun 2020 ini sukses menggenjot keuangan rakyat. Pasalnya, tabungan ini akan diwajibkan bagi PNS, TNI dan Polri, BUMN, BUMD, serta karyawan swasta. Besaran tabungan yang diambil dari gaji sebanyak 3%, dengan alokasi 2,5% pekerja dan 0,5% pemberi kerja. (Kompas, 5/6/20) Dan kita ketahui bersama, atas kebijakan-kebijakan tersebut hingga membuat rakyat cemas, takut, dan depresi. Hingga na'udzubillah min dzalik membuat bunuh diri.
Sebelum pandemi, sebenarnya banyak kebijakan negara hingga membuat rakyat sulit. Kebijakan tersebut berawal dari penerapan sistem sekulerisme kapitalisme yang diterapkan di dunia saat ini. Kebijakan ini terbukti gagal tidak mampu mengatasi permasalahan yang ada. 

Bagaimana dengan Pengemban Dakwah?
Sebagai seorang Muslim, apalagi ketika ia adalah pengemban dakwah, pengemban risalah, penerus perjuangan Rasul tentu ia tahu bagaimana bersikap menghadapi pandemi ini. Banyak dikalangan yang notabene nya aktifis dakwah, ketika menghadapi pandemi ini ia malah justru down, hilang semangat menuntut ilmu, jangankan berburu kajian online, untuk update tentang perkembangan dakwah terkini pun tidak. Padahal banyak sekali, para guru kita menshare ilmunya secara gratis di online. Tinggal kita siapkan kuota, tonton, kemudian share. 

Tidak jarang, aktifis dakwah banyak yang mengkambinghitamkan pandemi ini sebagai "senjata alasan" kenapa ia tidak menunaikan kewajibannya, yaitu melakukan aktifitas dakwah.  Dengan alasan, online kurang efektif serta alas an teknis lainnya. Sehingga menunggu pandemi ini berakhir. Na'udzubillah mindzalik.  Padahal melihat realita saat ini, umat Islam hidup di bawah sistem kapitalis yang memisahkan agama dari kehidupan. Sistem kufur yang tidak takut kepada Allah, juga tidak berharap akan rahmat-Nya. Sistem yang tidak adil dan dengki kepada agama ini [Islam] dan orang-orangnya [Muslim], jadi bagaimana bisa seorang muslim diam diri dan rela menerima ini?

Bagaimana bisa dia menerima hidup tanpa aturan dari Tuhannya diterapkan padanya? Bagaimana bisa dia tetap santai tanpa adanya seorang imam yang menerapkan ketentuan Islam dan melindunginya dari kejahatan jatuh ke keinginan dunia?

Bagaimana dia bisa merasa aman dari hukuman Rabbnya ketika dia puas dengan kepalsuan ini? Bagaimana mungkin dia tidak takut akan murka Tuhannya, ketika aturan-Nya diabaikan dan umat manusia kembali ke kegelapan dan kebodohan?

Hati seorang mukmin harus berdenyut dengan cinta Allah dan terbang seperti burung mengepakkan sayapnya, karena takut kepada Allah dan berharap akan rahmat-Nya, sehingga ia akan mencapai langit dan menjalani kehidupan yang telah diterima Rabbnya untuknya.

Dengan demikian ia akan menjadi, insya Allah, pemenang. Dia harus bersegera menyebarkan kebaikan dan mengembalikan cahaya Allah dan berjuang dengan para pejuang yang tulus untuk mendukung Din Allah dan mengangkat tinggi panji-panji al-‘Uqab karena takut Rabbnya turut murka padanya atas apa yang dilakukan oleh orang-orang jahil, dan berharap mendapatkan kegembiraan dariNya dan mencatatnya di antara orang-orang yang benar dan pembuat perubahan (Muslimahnews.com)

Tentunya ditengah pandemi ini, tidak boleh menjadikan kita lengah dari berbagai kedzaliman yang ada, namun justru kita wajib mengerahkan segala kemampuan yang kita punya untuk menyebarkan risalah Rasulullah yang mulia dengan memanfaatkan seluruh potensi diri, fasilitas dan media yang ada. Keadaan yang menuai banyak hikmah ini pula kita dimudahkan oleh Allah jalan mereguk pahala dengan adanya waktu yang tidak berkurang sedikitpun maka harus kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk membuktikan bahwa kita bagian dari para penolong agama Allah. Meringankan jemari untuk menyebarkan opini islam, menggerakkan hati untuk saling meringankan beban sahabat perjuangan, semakin menguatkan ukhuwah, menyadari betul posisi diri serta dinamika perjuangan dan merapatkan barisan agar layak menjadi bagian barisan Rasulullah. Kedzaliman yang terjadi dihadapan kita justru menjadi pemacu kita untuk segera mengakhiri kedzaliman ini. Semoga wabah ini semakin membuka mata ummat dan semakin meneguhkan hati kita, bahwa kapitalismelah biang masalah dalam kehidupan. Dan solusi satu-satunya adalah dengan mengembalikan institusi kaum Muslim yaitu Khilafah Rasyidah 'alaa Minhaj Nubuwwah dan kita menjadi bagian darinya hingga akhir nafas kehidupan.  Amiiin.

Orang-orang yang berbuat baik dengan cara melaksanakan apa yang diwajibkan Allah kepada mereka dan meninggalkan apa yang Allah haramkan kepada mereka akan mendapatkan ganjaran terbaik, yaitu Surga. Dan mereka akan mendapatkan tambahan ganjaran, yaitu memandang wajah Allah. Wajah mereka tidak diselimuti debu dan tidak diliputi kehinaan maupun kenistaan. Orang-orang yang baik tersebut adalah penghuni tetap Surga (QS. Yunus: 26).

Dan penuhilah janji, karena janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya (QS. Al-Isra': 34).

Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS. Al-baqarah: 148).
 wallahu'alam.

Previous Post
Next Post

post written by:

Cerdaskan Umat, Raih Kebangkitan!

0 Comments: