Bangga Menjadi Muslim

Bangga Menjadi Muslim



Oleh : Hastaria Marissa, S.P



Kisah perjalanan kehidupan sahabat  yang memeluk Islam. Begitu bahagianya hati seorang laki-laki dari Kabilah Ghifar, Abu Dzar al-Ghifari. Bernama asli Jundub bin Junadah itu. Orang keenam yang saat itu masuk Islam itu ternyata lebih ekstrem dibanding dengan yang lainnya. Orang-orang yang memeluk Islam mengalami berbagai macam penindasan serta penyiksaan. Akhirnya Rasulullah meminta kepada para sahabatnya ketika itu agar menyembunyikan keislaman mereka. Rasulullah berkata kepada Abu Dzar,  “Kembalilah kepada kaummu sampai ada perintahku nanti."
Semangat Islam yang begitu besar pada dirinya.  Kebahagiaannya yang telah memeluk Islam membuat dirinya ingin dikenal sebagai seorang Muslim. Perkataannya  yang sungguh indah kepada Rasulullah,“Demi Tuhan yang menguasai jiwaku, aku takkan kembali sebelum meneriakkan Islam di depan Ka’bah."

Akhirnya ia pun percaya diri dan lantang menyerukan syahadat di depan Ka'bah. Ini membuat  masyarakat jahiliyah Makkah berdatangan mencari sumber suara yang nekad itu. Hal terburuk yang diduga terjadi. Beliau disiksa masyarakat jahiliyah  dan hampir  meninggal.
Luar biasa kisah kebanggaan seorang Abu Dzar dengan Islamnya.  Bukan hanya  hinaan semata, hal terburuk yang akan merenggut nyawanya tak beliau hiraukan. Begitu besar kebanggaannya menjadi seorang Muslim.

‌Potret yang berbeda dengan kaum muslim remaja saat ini. Mereka merasa tidak pede dengan keislamannya. Muslimah tidak percaya diri dengan identitas kerudung dan jilbabnya. Takut dibilang kampungan,kuno, sok alim dan lainnya. ‌Mereka lebih pede dengan budaya barat atau identitas atau gaya hidup di luar Islam.

‌Pesan indah  Umar bin Khattab RA pernah berpesan, “Kita adalah kaum yang dimuliakan oleh Allah dengan Islam. Jika kita mencari kemuliaan selain daripada Islam maka kita akan dihina oleh Allah.”

Rasulullah Saw pun  sudah mengingatkan jauh hari bahwa  umatnya suatu saat nanti akan dihinakan kaum kafir. Rasulullah mengibaratkan umatnya pada akhir zaman seperti makanan lezat yang diperebutkan orang kafir. “Apakah umat Islam waktu itu sedikit, wahai Rasulullah?” tanya salah seorang sahabat.“Bahkan, jumlah kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi, keadaan kalian seperti buih di lautan,” jawab Rasulullah. (HR Abu Daud)
Ini terjadi karena kebanggaan yang mrosot pada keyakinannya. Kecintaan pada dunia yang begitu dalam hingga waktu pun dihabiskan untuk  mengejar dunia dan melupakan akhirat yang kekal. Penyakit yang dinamakan Rasulullah SAW dengan sebutan wahn. Wahn adalah  cinta kepada dunia dan takut mati.

Bila ketika pelajari perjalanan Islam dahulu. Di abad pertengahan, bukti peninggalan Islam. seluruh aspek kehidupan dalam penerapan Islam. Hadirnya para ilmuwan dan cendekiawan luar biasa.  Bangunan atau arsitektur peninggalan zaman keemasan Islam, mulai dari Cordoba (Spanyol), Persia, sampai peninggalan Wali Songo di Indonesia.  Itu terwujud karena kebanggaan mereka mengusung dalam setiap sisi kehidupannya gaya hidup, hukum dan lainnya.

Kita kaum muslimah adalah umat terbaik yang pernah ada di muka bumi. Allah menegaskan di dalam-Nya, “Kalian (umat Muhammad) adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi umat manusia (karena) kamu menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.” (QS Ali Imran : 110).

Masya Allah kisah sahabat yang begitu mengharu biru menjadi motivasi kita untuk hijrah dalam ketaatan terhadap Islam secara sempurna (kaaffah).

So, apalagi yang membuat kamu tidak pede ketika kalam Allah sebagai pengingat, motivasi diri tidak juga dapat meluluhkan hatimu. Ingat perkataan bijak, "Menangislah karena dosa-dosamu. Bila kamu tidak bisa menangis karena dosamu, maka menangislah karena itu."

Semoga kita senantiasa diberi kesabaran dan tetap semangat untuk terus meniti jalan kebaikan.(*HM)
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: