Corona, Anak dan Tahun Ajaran Baru

Corona, Anak dan Tahun Ajaran Baru



Oleh: Herawati,S.Pd.I

Tahun ajaran baru, biasanya disambut riang gembira oleh para peserta didik yang akan masuk sekolah, namun kondisi tahun ajaran baru saat ini, terasa berbeda. Kegembiraan dan semangat belajar yang tinggi dari calon peserta didik seolah sirna dikarenakan pandemi covid-19 yang masih berlangsung. 

Dilansir dari KOMPAS.com - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) kembali merilis anjuran terbaru mengenai Kegiatan Belajar Mengajar di Masa Pandemi Covid-19.

Anjuran IDAI yang dirilis Sabtu (30/5/2020), seiring dengan rencana pelaksanaan tahun ajaran baru pada pertengahan Juli mendatang.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sendiri menegaskan bahwa tahun ajaran baru 2020/2021 akan tetap dimulai pada 13 Juli 2020.

"Dengan memperhatikan jumlah kasus konfirmasi Covid-19 yang masih terus bertambah, mulai melonggarnya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), kemungkinan terjadi lonjakan jumlah kasus kedua dan masih sulitnya menerapkan pencegahan infeksi pada anak-anak, maka Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menganggap perlu memberikan anjuran," tulis IDAI dalam keterangan tertulis di situs resminya, Sabtu (30/5/2020).

Pemerintah pusat dan daerah harus ekstra hati-hati dan cermat dalam mengambil keputusan membuka sekolah di masa pandemi covid-19 sedang berlangsung. 

Kebijakan yang terburu-buru untuk melaksanakan new normal life dan membuka sekolah, malah akan menimbulkan masalah baru, yakni sekolah bisa menjadi klaster baru penyebaran covid-19. Hal ini sudah  terbukti ditiga negara yaitu Korea Selatan,Inggris dan prancis. 

Ketiga negara tersebut telah menerapkan new normal serta telah membuka sekolah di masa  pandemi, namun tidak lama pasca sekolah dibuka, pertambahan kasus positif covid-19 pada anak-anak sekolah melonjak tajam. Sehingga pemerintahan Korea Selatan, Inggris, dan Prancis menutup kembali sekolah sampai kondisi aman. 

Kenaikan jumlah positif di beberapa negara besar pasca penerapan new normal life dan pembukaan sekolah, seharusnya menjadi bahan pertimbangan pemerintah Indonesia, untuk menetapkan kebijakan membuka sekolah di bulan Juli mendatang. 

Para ahli dari Ikatan Guru Indonesia, Ikatan Dokter Anak Indonesia, dan Komnas anak telah mengingatkan kepada pemerintah pusat dan daerah akan bahaya yang mengintai anak-anak apabila sekolah jadi dibuka. Karena sebelum sekolah dibuka saja, jumlah anak yang positif covid-19 sudah mencapai angka 1000 anak. 

Terus meningkatnya angka positif covid-19 pada anak, menimbulkan kecemasan pada orang tua peserta didik, dari jenjang paud hingga perguruan tinggi, para orang tua menghawatirkan keselamatan anak-anaknya saat berada di sekolah atau kampus, hawatir apa bila anak-anaknya tidak bisa disiplin melaksanakan protokol kesehatan seperti menjaga kebersihan, menjaga jarak aman dan mengganti masker empat jam sekali, atau saat masker kotor dan basah. 

Inilah bentuk kegagalan pemimpin negri yang menjalankan pemerintahan kapitalis, gagal dalam menjamin keselamatan jiwa rakyat, dan gagal dalam memenuhi kebutuhan pokok rakyat sehingga rakyat harus hidup normal  berdampingan dengan covid-19,  penetapan new normal  dan membuka sekolah dilakukan pemerintah demi pemulihan ekonomi. 

Kebijakan pemerintah yang  inkonsistensi dan setengah-setengah, menambah carut marut  penanganan covid-19, banyak ahli menilai kebijakan rezim sarat akan kepentingan politik global yang mencengkram rezim kapitalis saat ini. 

Berbeda dengan pemerintah Islam yang menerapkan sistem islam secara sempurna, sudah menjadi tugas utama  seorang Kholifah dalam menjaga jiwa dan keselamatan seluruh rakyat.
Karena disisi Allah nyawa kaum muslimin sangatlah berharga. 

Dari al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِغَيْرِ حَقٍّ

“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.”
 (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).

Dari dalil diatas,  maka wajar seorang kholifah Umar bin Khattab mengambil langkah karantina wilayah (lockdown) saat menghadapi wabah, kholifah lebih berfokus pada menghilangkan wabah terlebih dahulu, dan menyelamatkan jiwa rakyat.

Islam mengajarkan apabila terjadi wabah di sebuah negri, maka hal yang harus dilakukan adalah karantina wilayah (lockdown). Sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, yang artinya, “Apabila kalian mendengar wabah di suatu tempat maka janganlah memasuki tempat itu, dan apabila terjadi wabah sedangkan kamu sedang berada di tempat itu maka janganlah keluar darinya.” HR Imam Muslim).

Maka belajar dirumah adalah pilihan terbaik demi memutus rantai penyebaran covid-19,  didalam islam menghindari mudhorot adalah menjadi kewajiban bagi setiap muslim. 

Maka belajar dirumah lebih aman untuk siswa dan guru di masa pandemi sedang berlangsung, karena Kebijakan belajar di rumah dalam sistem khilafah tidak sampai mengurangi esensi pendidikan. 

Negara Khilafah berasaskan akidah dan syariah Islam. Berdasarkan asas ini, Negara menegaskan tujuan pendidikan baku yang harus diemban seluruh pemangku pendidikan baik negara, siswa, guru, tenaga kependidikan, hingga oleh orang tua siswa.

Sebab, belajar di rumah melibatkan orang tua. Asas pendidikan juga akan sangat menentukan dalam penentuan materi ajaran (kurikulum) saat siswa belajar di rumah.

Kesadaran yang dimiliki orang tua juga sangat berpengaruh. Mereka akan mendidik sesuai target dan tujuan pembelajaran dalam Islam. Mendidik dengan penuh kasih sayang karena berangkat dari kesadaran terhadap kewajiban dari Allah SWT.

Berdasarkan tujuan tersebut, maka saat belajar di rumah, dibagi dalam tiga bagian, pertama pembentukan kepribadian Islam dan life skill bisa 30%, kedua konten materi tsaqofah Islam 30% dan yang ketiga adalah materi sains dan teknologi 40%. Bentuk penyampaian pun tidak akan keluar dari tujuan dan landasan akidah Islam.

Misalnya, guru tidak bersifat kaku dan memaksa atas tugas-tugas yang dibebankan kepada siswa. Dalam kondisi wabah, maka materi pembelajaran terutama untuk menguatkan ketaatan kepada Sang Pencipta yang menguasai manusia.

Negara Khilafah menguasai ilmu dan teknologi komunikasi yang handal. Maka, keterbatasan guru, siswa dan orang tua untuk melakukan pembelajaran daring bisa diminimalisir. Berbeda dengan kondisi saat ini, masih banyak guru, siswa, dan orang tua yang gagap teknologi komunikasi.

Padahal, pembelajaran jarak jauh telah cukup jamak digunakan di berbagai belahan dunia. Hanya saja, kapitalisme telah membelenggu banyak kalangan dari mengenal dan menggunkan teknologi ini. Baik karena keterbatasan ekonomi untuk memiliki alat (media) dan akses internet, maupun keterbatasan ilmu.

Dalam sejarah, negara Khilafah dikenal sebagai negara maju yang menguasai jagad teknologi. Berbagai penemuan teknonogi dilakukan oleh kaum muslim. Hal ini karena Islam mendorong setiap muslim untuk terus belajar dan mengembangkan ilmunya. Negara pun mendukung sepenuhnya.

Belajar di rumah dalam Khilafah ditopang oleh perekonomian yang stabil bahkan maju. Dengan kondisi tersebut, negara mampu menopang kehidupan ekonomi rakyat yang membutuhkan bantuan akibat karantina wilayah. Orang tua tak perlu bekerja di luar. Mereka bisa optimal membantu proses belajar di rumah dengan sebaik-baiknya.

Tak hanya dalam pemenuhan kebutuhan pokok, negara Khilafah juga mampu memberikan berbagai fasilitas pendukung pembelajaran. Negara menyediakan platformpendidikan gratis dan sarana pendukungnya, seperti internet gratis dan media (alat komunikasinya).

Mahasiswa pun tak perlu teriak meminta keringanan biaya pendidikan. Karena dalam kondisi tidak wabahpun mereka dibiayai oleh negara. Walhasil, semua kebutuhan belajar di rumah tidak ada kendala, karena negara men-support penuh semua kebutuhan tersebut. Hal itu hanya terjadi jika negara kuat, maju dalam perekonomian. Yakni, negara yang menerapkan syariat Islam.

Demikianlah, hanya negara Khilafah Islam yang mampu memberikan pelayanan pendidikan optimal lagi sahih kepada rakyatnya baik pada kondisi wabah maupun tidak.
Previous Post
Next Post

post written by:

Cerdaskan Umat, Raih Kebangkitan!

0 Comments: