Masihkah Berdakwah Di Tengah Wabah ?

Masihkah Berdakwah Di Tengah Wabah ?



Oleh : Ummu Hanif, Anggota Lingkar Penulis Ideologis

Pandemi virus corona masih terus menghantui dunia. Hingga kini, kasus positif virus corona masih mengalami lonjakan. Banyak pasien yang sudah dinyatakan sembuh. Tetapi, banyak juga korban yang meninggal dunia akibat virus corona. Dan berdasarkan informasi ahli kesehatan, virus ini memang membahayakan bagi siapa saja.

Kondisi ini tentu menjadi tantangan besar bagi manusia untuk keluar rumah. Lepas dengan alas an takut, atau bentuk kehati – hatian sebagaimana yang juga diajarkan dalam agama islam. Sementara itu, selain serangan keganasan virus corona, serangan ekonomi juga sedang mengintai kita. Ekonom nasional dari institute for development of economic and finance (INDEF) dan Universitas Indonesia, Faisal Basri, memprediksi bahwa kondisi perekonomian indonesia akan sulit pulih akibat pandemi virus corona (covid-19).

Lebih lanjut Faisal Basri menyatakan bahwa pemerintah tidak punya kemampuan yang besar untuk menahan laju anjloknya ekonomi meskipun ada stimulus fiskal untuk penanganan pandemi. Beliau memperkirakan ekonomi indonesia dan negara lain akan pulih secara bertahap mulai 2021. Namun diperkirakan pemulihannya tidak secepat yang diprediksi IMF. (kompas.com 24/04).

Yang tentu menjadi pertanyaan bagi para pengemban dakwah adalah, masih adakah kewajiban berdakwah di tengan wabah? Mengingat keselamatan jiwa diri dan keluarga sedang terancam, baik karena pandemi ataupun ekonomi.
 
Dakwah adalah perintah yang diwajibkan oleh Allah dan Rasul-Nya kepada kita, baik sebagai pribadi, jamaah maupun negara.
Allah SWT berfirman, ”Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk seluruh umat manusia, maka kalian harus memerintahkan kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, serta beriman kepada Allah SWT.”. (QS Ali ‘Imran [3]: 110).

Selain tuntutan keimanan dan syariat, sebagaimana yang dinyatakan di atas, Allah mengingatkan, “Takutlah kalian terhadap fitnah, yang tidak hanya akan menimpa orang zalim di antara kalian saja–tetapi juga orang yang tidak zalim”. (QS al-Anfal [8]: 25).

Fitnah ditimbulkan oleh orang zalim karena kemaksiatan yang mereka lakukan. Pada saat seperti itu, kewajiban dakwah—amar makruf dan nahi munkar—memanggil kita. Panggilan ini berlaku untuk pribadi, jamaah dan negara karena seruannya umum. Bahkan, di sana disertai ancaman, bahwa jika kita tidak melakukan apa pun untuk mengubah kemaksiatan tersebut, maka kita pun akan terkena dampaknya meski kita tidak ikut melakukannya.

Inilah kondisi yang dialami oleh umat Islam saat ini. Di negeri yang penduduknya mayoritas muslim, dan negerinya memiliki kekayaan alam yang luar biasa ini, ternyata rakyatnya hidup miskin. Mereka semua menjadi korban dari kejahatan yang tidak mereka lakukan, tetapi dilakukan oleh orang lain.
Sehingga dakwah seharusnya menjadi arus utama hidup kita. Adapun yang lain mengikuti arus utama ini. Allah juga mengingatkan, “Carilah apa yang Allah berikan kepada dirimu untuk negeri akhirat”. (QS al-Qashash: 77). 

Menjadikan dakwah sebagai arus utama, artinya semua urusan kehidupan kita yang lain, seperti bisnis, materi maupun yang lain menyesuaikan dengan kehidupan kita sebagai pengemban dakwah. Bukan sebaliknya.

Benar, semua orang mempunyai masalah dengan kadar dan tingkatan yang berbeda. Namun, bukan di situ masalahnya, karena semua orang pasti akan mengalaminya. Masalahnya justru terletak pada bagaimana sikap kita dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah itu. Misalnya, kadang kita mengalami kekurangan. Sebenarnya tidak ada masalah, asal kita bisa menyikapinya dengan benar. Kita tidak mengeluh, tidak meminjam kepada orang lain tetapi tidak jelas kapan bayarnya, tidak meminta-minta atau iri dengan nikmat yang Allah berikan kepada mereka.

Pada saat yang sama, kita terus berusaha untuk bisa hidup dengan kedua tangan dan kaki kita. Dengan cara seperti itu, Allah pasti akan memuliakan kita, meski secara materi kita kekurangan. 
Demikian pula dalam me-manage persoalan yang kita hadapi. Kita harus mempertebal keimanan kita kepada Allah, Fokus pada akhirat, menguatkan nafsiyah. Boleh jadi dalam ketaan, Allah tunjukan jalan. Bukankah tugas kita hanya taat, selanjutnya Allah yang akan selalu terlibat.

Jadi, boleh jadi akibat pandemi, para pengemban dakwah akan diserang secara ekonomi. Namun itu adalah bagian kehidupan yang memang harus kita lalui. Dan hal itu tidak menggugurkan kewajiban dakwah. Justru dengan berdakwah, semoga Allah membuka tabir setiap masalah. 

Adapun jika pandemi ini membawa dampak kesehatan, maka yang harus kita lakukan adalah kehati – hatian. Maka kreatifitas dakwah harus kita miliki. Bukankah sekarang Semua bisa dilakukan secara online? maka belajar dan terus meningkatkan kemampuan, kunci kita tetap bisa berdakwah di tengah wabah. 

Wallahu a’lam bi ash showab.
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: