Menjadi Senior itu Horor

Menjadi Senior itu Horor





Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
Institut Literasi dan Peradaban

Ada ungkapan menarik, entah siapa yang memulai. Penyairkah? Musisi band masa kini? publik figur atau malah perkataan sendiri? Entahlah, namun selalu cocok disetiap saat. Tulisannya begini, " Allah senantiasa memberi sesuatu itu indah pada waktunya, nikmatilah prosesnya abaikan hasilnya".


Ini menyangkut status senior. Baik dari sisi usia, maupun keilmuan. Kalau dari sisi usia bisa jadi, mengingat sekarang sudah mulai memasuki usia jelita, semua orang yang bertemu tak lagi memanggil mbak atau dik, sapaan untuk orang yang usianya sebaya, tapi sudah bu. Bahkan suami juga sudah dipanggil bapak. Awalnya beliau protes, tapi uban yang mulai terselip diantara hitamnya rambut tak bisa bohong.


Lantas bagaimana dari sisi keilmuan? Sebenarnya sadar diri sih, masih banyak kekurangan. Sebab meskipun masuk kelasnya duluan dibanding rekan-rekan lain, tapi mengenal Islamnya sedikit terlambat. Dan upaya menambal kekurangan itu luar biasa, disinilah epicnya, bak dalam drama berkejaran dengan waktu upaya mengenyahkan kejahiliyahan dengan berusaha menenggak ilmu meskipun setengah mabuk.


Dan... Skenario Allah berjalan, begitu indah. Perlahan diberi kesempatan menuntut ilmu, kemudian diberi amanah untuk meriayah, membina sekaligus mengatur. Hingga akhirnya bertemu dengan orang-orang yang dahulu sesama pemula tapi menjadi orang yang berada dalam amanah tersebut.


Malu, gugup, sungkan, dan entah perasaan apalagi yang menghinggapi, kalau bisa sih tenggelam saja ke dalam bumi. Tapi firman Allah menarik kembali penyesalan dan perasaan tak karu-karuan itu,

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan untuk mengatakan, ‘kami telah beriman’ TANPA diuji?! Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, sehingga Allah benar-benar tahu orang-orang yang tulus dan orang-orang yang dusta“. (QS. Al-Ankabut: 2-3).

Sedangkan Rasulullah bersabda:

Manusia yang paling berat cobaannya adalah para nabi, kemudian orang yang paling baik (setelahnya), lalu orang yang paling baik (setelahnya). Maka siapa yang agamanya berbobot, cobaannya juga berat. Siapa yang agamanya lemah, cobaannya juga ringan. Dan sungguh seseorang akan terus ditimpa cobaan, hingga dia berjalan di tengah-tengah manusia tanpa dosa sedikitpun“. [(HR. Ibnu Hibban no. 2900, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’ 993).

Artinya, Allah tidak salah dan tak akan salah jika menempatkan kita pada suatu keadaan yang tak pernah terlintas dalam benak. Sebab Allah Maha Tahu siapa diri kita saat orang lain tak tahu bahkan diri sendiri sekalipun. Allah yakin kita mampu saat kita sedang meraba dimana kelebihan dan kekurangan kita. Allah dekat dengan Rahmat dan Kasih SayangNya disaat kita butuh sandaran ketika menjalani amanah itu.


Sayangnya banyak manusia yang mengisi umurnya dengan kesia-siaan hingga keseniorannya menjadi horor. Coba saja ketik di mesin pencarian Google " Kakek Cabul" akan ada banyak berita yang menunjukkan betapa usia tua tak mempengaruhi perilakunya. Dan banyak lagi kasus yang pelakunya tak lagi muda. Tentu bukan kesalahan dia semata, tapi ada yang memaksa seseorang untuk melakukan suatu keburukan, yaitu sistem dan penguasa yang tak mampu memberi teladan. Wallahu bish showab.
Previous Post
Next Post

post written by:

ibu rumah tangga yang ingin melejitkan potensi menulis, berbagi jariyah aksara demi kemuliaan diri dan kejayaan Islam

0 Comments: