Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Menyikapi Wacana 'New Normal Life'

Senin, 29 Juni 2020


Penulis: Halimah dkk

Tak dapat dipungkiri sejak wabah Covid-19 ini merebak di Indonesia, roda perputaran ekonomi mulai lesu, nilai mata uang pun mengalami penurunan, PHK dimana-mana, bahkan kematian karena kelaparan tidak dapat diindahkan. Banyak rakyat yang sulit bukan hanya karena Covid-19 tapi juga karena ekonomi rendah dan mata pencaharian yang hilang.
Karena penurunan ekonomi tersebut, pemerintah mencari solusi dengan dibentuknya new normal life, diharapkan kita tetap beraktifitas normal seperti sedia kala agar roda perekonomian kembali bergerak. Pemerintah pun tetap siap memberikan protokol kesehatan yang memadai bahkan ketat untuk menunjang aktifitas kita. Namun, tersimpan kekhawatiran mendalam, dengan aktivitas yang kembali normal maka tidak dapat dielakkan penyebaran Covid-19 akan semakin cepat, sedangkan vaksin belum ditemukan. Bisa jadi ini awal kematian massal bagi kita semua karena tanpa adanya vaksin tentu mustahil penyebaran Covid-19 dapat ditekan bahwan dihindarkan. Lalu benarkah new normal life ini solusi bagi rakyat atau hanya bagi korporasi semata?. Lantas bagaimana islam memberikan solusi yang sempurna dimasa wabah sedang terjadi?.

Seabad lalu, peradaban islam berjaya hampir di seluruh dunia, negara-negara besar pun tunduk dibawah naungan sistem Islam Kaffah. Islam adalah agama yang sempurna, dimana segala lini kehidupan sudah diatur didalamnya, tak ada agama yang berpolitik, hanya islamlah satu-satunya. Dengan kesempurnaan itu islam dapat mengatasi segala macam persoalan.

Sudah sepantasnya kita sebagai manusia yang lemah menyandarkan segalanya hanya pada aturan-aturan Allah. Karena hanya Allah yang berhak mengatur makhluknya dan hanya Allahlah yang paling mengerti tentang makhluknya. Adanya ketundukan kita pada Allah disertai iman yang kuat, tentu kemenangan gemilang tak hanya di dunia namun juga di akherat pasti diberikan oleh Nya.

Pemimpin yang menerapkan islam secara kaffah juga akan sangat takut dengan azab Allah dan menjadikannya pemimpin yang berkualitas, dimana dia tidak akan berani sedikitpun menyesatkan umat, bahkan sampai mengorbankan rakyatnya.

Peradaban Islam Kaffah Normal Life

Karakter yang begitu sempurna telah ditegaskan Allah SWT. dalam firman-Nya, “Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan penyejahtera bagi seluruh alam.” (TQS Al Anbiya [21]: 107). Lebih daripada itu, keberadaan peradaban Islam yang berdasarkan akidah Islam menjadikannya sebagai satu-satunya peradaban yang sesuai fitrah manusia. Selain gambarannya tentang kehidupan sebagai aktivitas yang berjalan sesuai dengan perintah dan larangan Allah adapula arti kebahagiaan berupa ridha Allah SWT. Ketika keridhaanNya hadir, ketentraman hidup tentu terwujud karena-Nya.

Semua hal ini meniscayakan dalam peradaban Islam terwujud nilai materi, spiritual, kemanusiaan, dan moral secara serasi. Ini di satu sisi, di sisi lain menihilkan aspek hegemoni bersamaan dengan terwujudnya fungsi negara yang sahih. Sehingga, manusia pada posisi mulia di tengah pesatnya kemajuan sains dan teknologi. Buah manis keharmonisan peradaban Islam dengan kebenaran sains. Allah SWT. menegaskan dalam QS Al Isra (17): 70, yang artinya, “Kami telah memuliakan anak-anak Adam.” Karenanya, tidak sekadar konsep, peradaban Islam dengan karakternya yang mulia sebagai pewujud kesejahteraan seluruh alam, benar-benar telah teruji selama puluhan abad dan di dua per tiga dunia. Ini semua telah diukir oleh tinta emas peradaban sejarah.

Hari ini, dengan karakternya yang begitu sempurna, peradaban Islam adalah satu-satunya harapan dunia. Pembebas dari pandemi Covid-19 yang berlarut-larut. Pada gilirannya, peradaban Islam kaffah akan membawa dunia pada puncak kesejahteraan untuk kedua kalinya dengan izin Allah SWT dan inilah peradaban yang menunjukkan normal life manusia utamanya,“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan din yang benar agar dimenangkan-Nya atas semua din. Dan cukuplah Allah sebagai saksi…” (TQS Al Fath[48]: 28). Allahu A’lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar