Menyudahi Episode Rasisme

Menyudahi Episode Rasisme




Oleh: Amirza Fahma Addiniyyah

Sungguh miris melihat kematian George Floyd, kehabisan napas karena ditindih lutut salah satu petugas kepolisian AS. Berawal dari petugas minimarket yang melaporkan bahwa uang yang diberikan Floyd dianggap sebagai uang palsu. Hingga datanglah pihak kepolisian Minneapolis untuk menangkap Floyd dan malah terjadi kematian tragis yang membuat geram masyarakat AS. Protes masyarakat AS ini terjadi karena mereka melihat adanya diskriminasi ras terhadap kelompok kulit hitam atau rasisme. (m.merdeka.com, 01/06/20)

Sebenarnya sudah banyak kasus yang serupa dengan kasus Floyd di AS. Terutama pihak kepolisian yang banyak salah sangka terhadap beberapa orang kulit hitam. Mereka telanjur mati terbunuh oleh peluru polisi atau kekerasan lain seperti Floyd, namun ternyata dugaan tersebut salah. Sungguh disayangkan, banyak yang meregang nyawa secara sia-sia. (https://youtu.be/0WIqANVKsGQ)

Kita ketahui bersama bahwa perlakuan polisi terhadap terduga Floyd, maupun kasus-kasus sebelumnya --yang masih belum jelas apa kesalahan mereka ataupun belum ditindakadili oleh yang berwenang-- terlalu berlebihan, hingga nyawa harus melayang sia-sia. Kasus Floyd tentu membuat geram pasukan anti-rasis sehingga mereka melakukan aksi kemanusiaan dengan harapan kejadian rasisme seperti ini tidak terulang kembali.

Rasisme memang masih menjadi permasalahan, meskipun Politisi AS, bahkan Obama dan Nelson Mandela pernah berpidato mengenai konflik antar ras kulit hitam-putih. Tampaknya pidato yang disampaikan hanya hangat diawal saja, tidak bisa mengatasi secara komprehensif dan keseluruhan, serta belum solutif secara global. Jika disangkut pautkan dengan isu rasis ini, di Indonesia sendiri pun juga terjadi. Pengibaran Bendera Bintang Kejora satu tahun silam cukup membuktikan rasisme itu pernah ada di negeri ini. (suara.com, 28/08/19)

Hakikatnya, semua manusia menginginkan keadilan dan perlakuan yang sama. Tidak ada yang boleh merendahkan satu sama lain. Namun kata-kata ini percuma, dan kejadian mengenai rasisme terulang kembali. Memang tidak ada yang menginginkan hal ini terjadi, namun kenyataannya begitu. Beberapa mahasiswa asal Papua mengakui pernah diperlakukan tidak sama, bahkan oleh dosennya sendiri. Mulai dari diejek 'hitam', 'dekil', hingga 'seperti monyet'. Meskipun mereka sudah meyakinkan diri karena kuliah di negeri Indonesia, --tanah air orang Papua juga-- tapi ternyata masih ada yang melakukan diskriminasi terhadap mereka. (https://www.instagram.com/tv/CA__OiQABnN/?igshid=qmm43e5pz21a)

Disini kita bisa menyimpulkan bahwa ada beberapa hal yang dapat merugikan bila keberadaan rasisme ini masih hidup tanpa kita sadari. *Yang pertama adalah hak asasi manusia, dimana manusia punya hak yang sama dimuka bumi ini, tanpa terkecuali. Manusia tahu bahwa ia tidak bisa memilih untuk terlahir seperti apa. Sungguh apa yang terjadi pada ras kulit hitam menyalahi kemanusiaan dan keadilan itu sendiri. Saat ini bisa jadi kita masih termasuk mayoritas sebagaimana ras kulit putih. Namun, jika rasisme masih ada, bagaimana kalau kita menjadi yang minoritas? Pada dasarnya semua manusia ingin diperlakukan sama. Perang melawan rasisme bukan hanya untuk ras kulit hitam saja, namun untuk kita semua.

Padahal Allah telah berfirman di Al-Qur'an Surah Al-Maidah ayat 13 : '...Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu.'

Terlampau banyak manusia di muka bumi ini yang tidak tahu bahkan lupa tentang firman Allah tersebut, Sang Pengatur Semesta. Juga tak mengerti bahwa kita tidak bisa memilih untuk terlahir dengan kulit putih atau hitam, dari suku papua atau bukan, karena hal itu mutlak kuasa Sang Pencipta, Allah SWT.

*Hal kedua yang sangat merugikan adalah nyawa yang terbuang sia-sia. Sudah terbukti bahwa sistem yang ada saat ini tidak bisa menjaga nyawa atau hak hidup semua orang. Sistem yang mendominasi saat ini ialah sistem kapitalisme yang orientasi hidupnya adalah kepentingan, harta atau bentuk fisik yang sempurna. Tak heran apabila urusan nyawa orang lain bisa dinomorduakan dan menjadi korban.

Jika kita melihat aksi untuk Floyd, para anti-rasis sangat mendukung Floyd dan mengecam beberapa kepolisian yang terlibat dalam kematian Floyd. Hanya karena kematian satu orang saja, sudah membuat geger warga AS yang mengelu-elukan kemanusiaan atau HAM. Lantas, tidak terpikirkan kah oleh kita akan banyak sekali umat islam yang mati dibom, diusir dan terombang-ambing di laut, di masukkan ke dalam kamp-kamp yang tidak maunusiawi, ditambah lagi dihukum hingga tak sewajarnya?

Sudah terlampau banyak sekali jiwa yang dikorbankan oleh umat islam di luar sana, namun jarang sekali media-media besar mengungkap ketidakadilan ini. Jika dikembalikan lagi kepada HAM, mana HAM untuk ummat islam?! Isu tentang HAM seperti hanya omong kosong belaka.

“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).Allah saja lebih ringan kehilangan dunia daripada terbunuhnya seorang muslim yang menyalahi hak. Apalagi hingga saat ini muslim yang terbunuh tidak hanya satu jiwa saja.

Islam hanya satu-satunya jalan untuk menyelesaikan masalah pelik ini. Islamlah yang bisa menjaga jiwa manusia seluruhnya. Islam tidak memandang sesuatu yang menguntungkan atau hanya indah secara fisik saja. Hanya Allah lah yang berhak menilai kita dalam urusan ketakwaan. Kita harus kembali pada aturan Allah yang memberikan keadilan serta menempatkan manusia pada hak-haknya. Jika kita menjalankan seluruh aturan-Nya, kita akan menggapai kebaikan dan rahmat di seluruh alam dengan seizin-Nya. Satu-satunya cara adalah dengan menerapkan kembali syariat Allah -tanpa terkecuali- dalam seluruh aspek kehidupan kita.
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: