Nyawa Atau Transportasi, Polemik Pemerintah Derita Rakyat

Nyawa Atau Transportasi, Polemik Pemerintah Derita Rakyat



Oleh: Bunda Alfi
(komunitas ibu peduli anak)
Pandemi, bukanlah sebuah sejarah baru dalam peradapan kemanusiaan. Hampir setiap seratus tahun terjadi serangan pandemi yang mengurangi populasi manusia. Pandemi  dengan korban fatal dan berulang sehingga menyeret umat manusia ke dalam bencana ekonomi dan merubah tatanan dunia lama adalah pandemi Flu Spanyol (1918-1920).
Flu spanyol Merupakan pandemi flu pertama dan terbesar di dunia, setelah abad Masehi. Menariknya, kebanyakan para korban yang terjangkit flu ini adalah para anak muda yan9 kelihatannya sehat. Pandemi yang berakhir bulan Desember 1920 ini menelan 50 - 100 juta korban jiwa, dengan tiga kali gelombang serangan. Serangan yang kedua adalah yang paling mematikan, dipicu oleh pergerakan tentara pada saat perang dunia pertama sehingga wilayah sebaran meluas mencakup terutama daerah yang terutama terlibat dalam peperangan. Jika di lihat dengan persentasi jumlah penduduk dunia yang sekitar 1.7 milyar dan yang terinfeksi sekitar 500 juta orang(wikipedia). Ini tentu menarik untuk dibicarakan, melihat kemiripannya yang sama dengan virus Corona yang sedang mewabah di seluruh negeri.
Teknologi kesehatan yang belum maju, pesan kesehatan yang membingungkan, pemerintah yang lebih mengutamakan tugas negara dan kepentingan ekonomi (kompas.com 2020/04/30) dianggap sebagai penyebab virus ini meluas dan gagal di hentikan. Serbuan virus ini berhenti karena sebuah proses alami yang dikenal dengan herd imunity. berhenti karena mendadak si virus tidak lagi mampu menyerang manusia.
Pemerintah kita sekarang menganut sistem kapitalis neoliberalis dimana semua kebijakan  untuk membuat kapitalisme semakin tangguh, dan kekuasaan para oligarki-finans semakin kuat, dihadapan rakyat. Sehingga tujuan kebijakan adalah ekonomi, bukan rakyat.
Demikian pula cara menangani Corona adalah dengan penguatan ekonomi, bukan perlindungan terhadap rakyat. Kebijakan pemerintah bekerja di rumah saja telah mematikan sektor ekonomi, dan mempengaruhi sektor lain seperti  transportasi.Transportasi darat, laut dan udara berhenti. Sopir, pilot, masinis tidak bekerja, porter, penjaja makanan kecil, pramugara, tiket sampai petugas parkir tidak bisa bekerja. Di Jawa Barat saja, ada satu juta orang terdampak, (detik.com, 2020/04/22).
Ini baru dari satu bidang transportasi di Jawa Barat, bagaimana dengan seluruh sektor ekonomi. bagaimana di Indonesia? Maka tak pelak lagi, seluruh masyarakat bisa dikatakan terdampak. Ada yang berkurang penghasilannya,  pula yang hilang. Nauzubillah.
Bagaimana dengan negara? Mampukah negara memberikan perlindungan terhadap rakyatnya? mengeluarkan bantuan di tengah pandemi ini? Boro boro membantu, yang ada kehidupan masyarakat semakin sulit listrik naik, bpjs naik, harga kebutuhan pokok naik. sehingga slogan yang muncul adalah lindungi diri sendiri, lindungi keluarga anda.
Sebagai negara kapitalis neoliberalis, sumber pendapatan utama negara berasal dari pajak. Kalau ekonomi tidak berjalandengan baik, tentu pendapatan negara juga turun. Untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi, Menteri Perhubungan mengeluaran  Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 25 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi Selama Musim Mudik Idul Fitri 1441 Hijriah, maka sarana transportasi kembali dibuka.
Membuka pelayanan transportasi kembali  juga berarti akan mengurangi beban pemerintah karena sekian juta yang terdampak akan kembali bekerja, menghidupkan ekonomi rumah tangga, dan membuat himbauan untuk bekerja di rumah saja seolah hilang makna.
Pembukaan tranportasi juga berarti akan ada penumpang yang naik dan turun di lokasi yang berbeda, ada pergerakan massa dari daerah merah ke hijau, ada kemungkinan terkontaminasi dalam perjalanan. Sementara tidak ada protokol khusus yang disiapkan baik sebelum ataupun sesampainya di tempat tujuan baik untuk pihak penyelenggara transportasi maupun pemakainya. Selain kerumunan yang terjadi, juga terekspose surat jalan dan surat keterangan sehat yang diperjualbelikan.
Karut marutnya kebijakan juga terlihat dari tata cara pengaturannya.Transportasi dibuka, tempat duduk dijarangkan, otomatis biaya tiket menjadi naik. Penumpang diisyaratkan sehat, yang dibuktikan dengan adanya surat keterangan sehat, bebas Covid-19. Biaya pembuatan surat ini kabarnya sekitar dua jutaan. Belum lagi surat jalan untuk penumpang yang tidak jelas dari mana asal surat ini, apakah cukup dengan keterangan RT saja atau harus berasal dari lurah atau camat. Sehingga berimbas dengan adanya penjualan surat keterangan tersebut secara ilegal, tidak dikeluarkan oleh pihak terkait dan berbiaya murah.
Ini tentu bertentangan dengan PSBB yang melarang warganya untuk beraktivitas di luar rumah, tidak mungkin bisa mengandeng peraturan menteri yang merelaksasi transportasi dengan  PSBB yang dilaksanakan secara tidak serentak di daerah.Maka bisa diduga, faktor kepentingan yakni pertumbuhan ekonomi yang membuat peraturan Mentri  ini  disahkan oleh pemerintah.
Masyarakat sebagai konsumen dari  setiap kebijakan  akan menerima dampaknya.  Sampai sekarang belum terlihat penurunan dari serangan Corona, malah terus bertambah dengan tajam. Ditambah dengan peraturan baru yang melonggarkan PSBB, masyarakat, harus bersiap  menerima imbasnya. Akan semakin banyak yang terinfeksi, sehingga lonjakan serangan virus ini bisa tidak akan terkendali. Pemandangan di Equtor, Brazilia dan Amerika mungkin bukan lagi sekedar tontonan di tv, tapi akan kita saksikan di jalan jalan negeri kita.
Padahal negara sebagai pengayom bagi warganya, seharusnya fokus pada tujuan utama, mengatasi pandemi secepatnya dengan korban seminimal mungkin. Bukannya abai pada keselamatan warganya, atau malah sibuk dengan masalah lain yang timbul sebagai akibat  dari Corona. Begitu masalah Corona selesai, baru kemudian negara menyelesaikan masalah cabang yang timbul karena Corona tadi.
Padahal Rasul telah menunjukkan kepada kita, jika berhadapan dengan penyakit menular, Nabi Muhammad Saw meminta kita untuk tidak mendekati wilayah yang sedang terkena wabah penyakit mematikan.
إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا،  وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا
Artinya: "Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu." (HR Bukhari).
Selain ikhtiar secara fisik,nabi juga meminta agar kita  meminta pertolongan kepada Allah Swt melalui doa dan kesabaran. Sungguh, cara menghadapi pandemi ini telah ditunjukkan oleh Nabi kepada kita. Masalahnya ada pada kita, siapkah kita dituntun oleh Nabi dalam menghadapi segala masalah hidup, baik pribadi, masyarakat maupun negaranya.
Jika sebagai pribadi negara telah menghimbau kita untuk melindungi diri dan keluarga, tentu himbauan ini juga lebih layak untuk masyarakat agar lebih melindungi komunitasnya, dan lebih utama lagi bagi negara untuk melindungi semua warganya, bukan hanya sekelompok  seperti pemilik modal.
Wallahu a'lam bishawab

Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: