Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Perempuan Dalam Jeratan Kapitalisme

Rabu, 17 Juni 2020


Oleh: Nabila Zidane
(Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban)

Sudah bukan rahasia umum lagi segala persoalan yang dialami perempuan saat ini yaitu kemiskinan, pelecehan, penindasan dan eksploitasi menghimpit kaum perempuan di manapun Ia berada.


Disadari atau tidak hal ini terjadi karena sistem yang diterapkan di seluruh dunia termasuk di Indonesia adalah sistem kapitalis yang menjerat banyak negara mempengaruhi cara pandang dan kebijakan yang diambil oleh pemerintah.


Saat ini perempuan dipandang dan diperlakukan sebagai komoditas dan mesin pencetak uang. Sistem kapitalisme mampu menciptakan gaya hidup materialistik dan hedonisme. Sebagai contoh perempuan Indonesia yang notabene berkulit kuning langsat diserbu dengan propaganda bahwa cantik itu berkulit putih. Maka, perempuan Indonesia berlomba lomba membeli produk-produk pemutih kulit.


Contoh lain ketika tayangan televisi diberi ruang yang besar untuk menampilkan acara-acara yang tidak memberikan nilai edukasi dan hanya mengejar rating semata. Maka, tak heran tumbuh subur tayangan-tayangan yang banyak menampilkan adegan tidak pantas diantaranya para perempuan yang mengumbar aurat, campur baur antara laki laki dan perempuan.


Propaganda elgibiti melalui para seniman yang justru dianggap wajar dan menghibur. Kapitalis mampu menyebabkan manusia menjadi para pemuja fisik kemolekan dan kecantikan.


Perempuan dijadikan aset dalam meraup keuntungan sebesar-besarnya perempuan banyak dijadikan objek iklan, model, film bahkan pekerja seks yang dapat menyumbangkan pajak yang besar bagi negara.


Dalam segi ekonomi, lapangan pekerjaan memberikan prioritas terhadap para perempuan sehingga menciptakan para perempuan berkarir yang lupa akan tanggung jawabnya sebagai seorang  istri dan juga ibu bagi anak anaknya.


Di sisi lain sebagian besar keluarga hidup dalam kemiskinan yang mengharuskan para perempuan bekerja meninggalkan anak dan suami bahkan sampai ke luar negeri yang tidak jarang terjebak pada human trafficking.


Standar kebahagiaan dalam kapitalis juga diukur dengan banyaknya materi dan kedudukan tinggi. Hal ini yang mendorong para perempuan semakin banyak meninggalkan perannya sebagai seorang istri dan pendidik utama bagi anaknya untuk bekerja. Baik secara terpaksa maupun sukarela. Padahal dampak yang timbul dari keluarnya orangtua terutama seorang ibu sangat besar. Salah satunya menyebabkan semakin marak kenakalan remaja akibat lemahnya pengawasan orang tua.


Hal ini seolah wajar dimana pemerintah terkesan memberi jalan kepada kaum perempuan dengan memberikan keluasan kepada perusahaan-perusahaan mengeksploitasi pekerjaannya.


Inilah bukti bahwa Barat telah menuntut hak-hak perempuan untuk bebas yang telah mencabut fitrah dan merusak kehormatannya. Ditambah lagi barat berusaha menutupi sejarah sistem Islam yang benar dalam mengurus perempuan dan menggantinya dengan informasi-informasi yang hoax yang menjelekkan ajaran dan sistem Islam tentang perempuan.


Barat secara gamblang melalui ide feminis dan kesetaraan gender nya telah menuduh Islam mendiskriminasi perempuan.


Jika dipandang dari kacamata Islam tentu saja propaganda mereka adalah propaganda yang konspiratif dan berbahaya.


Pandangan Islam tentang perempuan sangat khas, yakni perempuan sebagai kehormatan yang wajib dijaga, diberi jaminan perlindungan dari segala modus eksploitasi pihak manapun. Perempuan adalah sosok mulia tempat pendidikan pertama dan utama bagi generasi. Ini perkara asasi bagi jatuh bangunnya peradaban manusia. Tugas perempuan sebagai ibu dan manager rumah tangga bukan tugas remeh-temeh, bukan pekerjaan hina dan rendah.


Bagaimana mungkin perempuan diseret berlari terseok-seok bersaing dengan laki-laki dalam semua aspek kehidupan. Perempuan diberi penghargaan palsu sebagai driver of economic, penggerak ekonomi. Beban ganda bagi perempuan, menjadi tulang rusuk sekaligus menjadi tulang punggung. Sungguh melawan fitrah dan tidak manusiawi gagasan kesetaraan gender ini.


Islam menjadikan akidah Islam menjadi asas negara sekaligus asas bagi sistem kehidupan yang diterapkan oleh negara. Laki-laki dan perempuan dipandang sama sebagai hamba Allah, tidak berbeda kecuali kadar ketakwaan mereka. Hamba-hamba yang bertakwa insya Allah membawa maslahat bila menerapkan sistem yang berasal Allah Swt. Sistem ini adalah sistem Khilafah yang mengikuti manhaj Kenabian.
Wallahu a'lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar