Pusat Perbelanjaan Ramai Ditengah Pandemi

Pusat Perbelanjaan Ramai Ditengah Pandemi



sumber gambar: detikcom

Oleh: Tri S, S.Si
(Penulis adalah Pemerhati Perempuan dan Generasi)

Ramai pembeli, Polres Blitar Kota menghimbau pusat perbelanjaan di Kota Blitar menerapkan social distancing. Kasat Bimas Polres Blitar Kota, AKP Endang mengatakan razia dilaksanakan berdasarkan laporan warga yang menyebut menjelang Hari Raya Idul Fitri beberapa pusat perbelanjaan di Kota Blitar dipadati pembeli & tidak menerapkan social distancing atau physical distancing saat berbelanja.(Mayangkaranews.com, 17/05/2020).

Dari laporan itu, petugas Kepolisian pun langsung melakukan tindakan patroli skala besar. Menurutnya, ada 5 pusat perbelanjaan yang berada di Kecamatan Kepanjenkidul & Kecamatan Sananwetan yang didatangi petugas Kepolisian.

Dalam patroli itu, petugas memberikan himbauan kepada warga untuk sebisa mungkin mengurangi kegiatan di luar rumah. Petugas juga meminta pemilik toko untuk menerapkan social distancing untuk mencegah penyebaran virus Corona.

Endang mengakui masih banyak masyarakat yang mengacuhkan tentang himbauan berada di rumah selama pandemi Covid-19 sehingga petugas Kepolisian tidak akan berhenti melakukan razia maupun patroli hingga masyarakat sadar & menaati aturan dari pemerintah.

Selain patroli di pusat perbelanjaan, petugas juga merazia cafe yang ada di pusat kota. Meski sering mendapat peringatan, namun masih banyak pemilik cafe yang menerima pengunjung. Padahal petugas Kepolisian sudah melakukan pelarangan nongkrong di cafe & melakukan penjualan secara take away.

Seperti mal Roxy Square Jember yang sempat viral di media sosial. Atau Pasar Anyar Bogor yang ramai hingga Bima Arya pun ikut sidak. Mal CBD Ciledug yang membuat macet hingga akhirnya pun ditutup. Serta masih banyak lagi tempat belanja di kota maupun pasar daerah yang tak sepi dari pengunjung.

Mereka rela berdesak-desakan demi membeli baju lebaran baru, perhiasan emas baru, atau sekadar membeli banyak kebutuhan pokok saat lebaran. Kondisi ini memperlihatkan masyarakat yang bisa jadi kalap karena dua bulan tak bisa ke mana-mana. Jadi, ketika ada kesempatan pusat perbelanjaan dibuka, mereka menyerbu untuk memenuhi kepuasan materi yang selama ini ditekan karena pandemi. (liputan6, 19/5/20)

Fenomena semacam ini membuat keprihatinan yang mendalam. Di satu sisi, tempat ibadah ditutup demi mencegah penularan. Namun, di sisi lain pasar dan tempat transportasi dibuka demi perekonomian.

Hal ini sangat disayangkan. Sebagaimana yang disampaikan Sekretaris Jenderal MUI Anwar Abbas yang menyesalkan perbedaan kebijakan ini. Menurutnya pemerintah hanya tegas pada penutupan tempat ibadah, tapi justru longgar di tempat perbelanjaan dan transportasi. (inibaru.id, 19/5/2020)

Padahal, selama ini MUI berusaha mendukung pemerintah agar pandemi ini segera berakhir. Namun, kenyataannya dukungan itu seakan sia-sia. Bahkan beberapa waktu yang lalu, Anggota Komisi Agama DPR RI John Kennedy Azis mengkritik pemerintah atas ketidaktegasan PSBB. Ia meminta agar kondisi semacam ini bisa dikendalikan. Rasanya tidak adil, saat masjid ditutup, mal justru dibuka. (cnn, 12/5/20)

Jika kondisi ini terus berlangsung, hal yang menakutkan akan terjadi. Menurut epidemiolog Universitas Padjajaran, Panji Fortuna Hadisoemarto pandemi ini bisa saja baru bisa diatasi setelah tiga tahun. Hal ini tentu akan membuat catatan panjang penanggulangan pandemi corona. Dan menambah daftar korban yang berjatuhan akibat penanggulangan yang kurang serius.

Menanggapi hal ini, Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo hanya bisa prihatin. Padahal masa PSBB masih berlaku. Tapi masyarakat justru banyak yang tidak peduli dan tidak mau ikut peraturan. Di satu sisi setiap hari ia harus menerima penambahan pasien yang banyak, di sisi lain masyarakatnya juga tak bisa diajak kerja sama. (inisiatifnews, 21/5/20)


Ketakwaan Penyokong Keberhasilan Menghadapi Pandemi
Dalam menghadapi pandemi ini, fasilitas kesehatan dan teknologi saja tak akan cukup. Diperlukan fondasi sebagai dasar bangunan yang akan menyelesaikan semua masalah ini. Dasar itu adalah ketakwaan. Sebagaimana tujuan utama puasa Ramadan adalah menambah ketakwaan terhadap Allah SWT. Jika tujuan puasa berhasil kita dapat, insya Allah tidak akan lama lagi kita akan bisa melewati pandemi.

Namun, ketakwaan ini perlu ada kolaborasi dari tiga aspek.

Pertama, ketakwaan individu. Tidak bisa dipungkiri, ketakwaan individu memiliki kedudukan yang penting. Individu yang bertakwa mampu memilih aktivitas mana yang dibolehkan agama mana yang tidak. Termasuk dalam menghadapi pandemi.

Ia akan memutuskan tindakan tersebut membahayakan dirinya atau tidak. Ia pun akan memaksimalkan skala prioritas. Sehingga, di musim pandemi sekaligus merayakan Idulfitri akan memilih aktivitas yang bisa mendatangkan pahala sekaligus tidak mengancam jiwa. Ia akan memilih diam di rumah daripada pergi berdesak-desakan di pasar. Untuk ibadah pun akan memperhatikan keselamatan.

Kedua, ketakwaan masyarakat. Sejatinya ketakwaan individu saja tak akan cukup. Perlu dukungan dari ketakwaan masyarakat. Masyarakat yang bertakwa akan berbondong-bondong saling menjaga, memperhatikan dan mengingatkan.

Jika ada individu yang menyalahi aturan, masyarakat segera mengingatkan. Masyarakat akan bersama menjaga kondisi tetap terkendali. Mereka tidak akan berdesak-desakkan di pusat niaga. Atau mudik di tengah pandemi demi menjaga keamanan sanak keluarga. Jika masyarakatnya bertakwa, mereka akan mengikuti aturan negara pula. Sehingga mudah diatur.

Ketiga, ketakwaan negara. Ketakwaan negara adalah mahkota dari dua ketakwaan sebelumnya. Tidak bisa dipungkiri negara mengambil peran paling urgen dalam masalah ini. Ketakwaan individu sewaktu-waktu bisa luntur mana kala tak ada bentengnya. Pun ketakwaan masyarakat suatu saat bisa sirna jika tak ada penjaganya. Benteng dan penjaga ketakwaan itu adalah negara.

Negara memiliki andil dan kewajiban dalam penerapan aturan. Jika pemimpinnya bertakwa, tapi negaranya tidak berlandaskan akidah Islam, maka sia-sia. Pasalnya, manusia bisa berubah. Pemimpin adalah individu. Jika lingkungannya tidak baik, maka pemimpin bisa ikut arus.

Begitu pula sebaliknya, tak cukup menggunakan negara berlandaskan akidah Islam tanpa pemimpin yang bertakwa. Meskipun aturannya benar, bisa saja ada penerapan yang diselewengkan.

Maka, ketakwaan negara hanya dapat dicapai jika pemimpinnya bertakwa dan aturan negara juga berdasarkan akidah Islam. Pemimpin yang bertakwa hanya akan menjalankan aturan sesuai dengan perintah Alquran dan Sunah. Ia akan melaksanakan dengan sungguh-sungguh. Karena paham bahwa kepemimpinan yang ada di pundaknya adalah amanah yang kelak akan diminta pertanggungjawaban.

Kebijakan Negara menjadi Payung Ketakwaan dalam Menghadapi Pandemi
Negara yang bertakwa inilah yang akan mampu menghadapi pandemi. Sebagaimana yang dilakukan para pemimpin sebelumnya di negara Islam, Rasul dan para Sahabat telah memberikan contoh cara menghadapinya.

Maka, pemimpin saat ini harusnya tinggal mengikuti contoh itu. Dengan landasan mengurusi urusan umat, ia harus mengeluarkan kebijakan yang sesuai hukum syara. Bukan sesuai takaran pikiran manusia. Sebagaimana membuka perdagangan dan transportasi demi jalannya pertumbuhan ekonomi.

Jika masalah pandemi sudah merambah ke mana-mana, buah ketakwaan dari pemimpin harusnya taubatan nasuha. Minta maaf kepada Allah sebanyak-banyaknya. Dan mengubah segala kebijakan disesuaikan dengan pandangan Islam.

Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: