Tahun Ajaran Baru, Relakah Anak-anak jadi Tumbal Corona?

Tahun Ajaran Baru, Relakah Anak-anak jadi Tumbal Corona?


           
Oleh: Vivi Rumaisha
Aktivis BMI Kota Kupang

Pademi global Covid-19 hingga hari ini masih menjadi perbincangan yang hangat ditengah-tengah masyarakat. Wabah Covid-19 ini mempengaruhi semua lini kehidupan. Mulai dari sosial, politik, hingga pendidikan. Banyak kebijakan yang diambil oleh pemimpin di negeri ini, akan tetapi sampai hari ini pandemi ini belum berakhir.
Kebijakan yang diambil terakhir sebagai alternatif dan merupakan jalan tengah yaitu New Normal Life. Kebijakan ini menunjukan karakter kepemimpinan kapitalis yaitu berprioritas pada ekonomi atau keutungan semata. Kebijakan ini juga menunjukan penguasa memilih opsi angkat tangan dalam melawan wabah Corona ini.
New Normal Life bukan hanya diterapkan dalam bidang sosial, ekonomi, dan politik semata. Akan tetapi kebijakan ini diterapkan dalam seluruh tatanan kehidupan. Salah satunya yaitu dibidang pendidikan untuk seluruh jenjang pendidikan baik sekolah maupun perkuliahan. Kementerian Pendidikan dan kebudayaan (Kemendikbud) RI telah menyatakan, tahun ajaran baru 2020/2021 akan tetap dilaksanakan pada 13 Juli 2020 (kumparan.com).

Sekolah akan segera dibuka, akan tetapi kita mengetahui bersama bahwasannya wabah Corona ini bukan hanya menyerang sistem imun orang dewasa akan tetapi juga anak-anak yang notabene daya imunitas belum sekuat orang dewasa. Jika rencana ini di laksanakan, khawatirnya justru mengancam kesehatan anak-anak.   Karena hingga saat ini kasus covid-19 ini terus mengalami peningkatan.  Retno mengungkapkan dari data kementerian kesehatan terdapat sekira 831 anak yang terinfeksi Covid-19 (data 23 Mei 2020). Usia anak yang tertular itu berkisar 0-14 tahun (nasional.okezone.com)

Dari data-data yang diperoleh kita bisa melihat bahwa rata-rata yang terserang Covid-19 adalah anak-anak TK, SD, bahkan SMP. Pada usia-usia ini anak-anak masih butuh perhatian yang lebih serius dalam urusan kesehatan dari orang tua. Mereka belum bisa sepenuhnya mengontrol diri mereka sendiri. Apalagi psikologis mereka juga berubah ketika wabah Covid-19 ini mulai muncul dan menimbulkan berbagai perubahan dalam kehidupan sehari-hari.

Anak-anak harus berupaya keras untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Kebiasaan baru, pemakaian masker selama aktivitas di luar, menjaga jarak dengan teman apalagi tidak bersalam-salaman sesama mereka. Bagi anak-anak yang penurut akan sedikit lebih mudah untuk mengontrol mereka. Bayangkan saja kalau terjadi pada anak-anak yang nakal dan sering melawan perintah orang tuanya, Apa yang akan terjadi?

Bila anak-anak masuk sekolah saat masa pandemi, apakah bisa menjamin anak-anak menggunakan masker sepanjang waktu di sekolah. Orang dewasa saja terkadang mengeluh sesak napas saat menggunakan masker, apalagi anak-anak. Apakah orang tua juga bisa menjamin anak-anaknya tidak bermain bersama teman-temannya, kejar-kejaran, sampai pakaian dan masker tak layak digunakan lagi. Wajar jika anak-anak melakukan hal demikian, karena selama ini mereka  hanya terkurung didalam rumah saja. Sehingga anak-anak  yang penurut pun berpeluang melakukan hal demikian untuk membalas rasa jenuhnya selama ini.

Kita tidak serta-merta menyalakan anak-anak, akan tetapi yang harus dikritisi adalah kebijakan daripada pemimpin di Negeri ini. Karena pada dasarnya karakter anak-anak sudah sewajarnya seperti ini. Yang patut ditanyakan adalah mengapa sampai mengambil opsi jalan tengah padahal kondisi belum stabil bahkan puncak pandemi belum terlalui?

Indonesia diprediksi akan kehilangan generasi emas, penerus tongkat estafet di negeri ini. Karena hari ini kebijakan yang diambil seakan-akan tidak peduli jika generasi penerus sebagai tumbalnya. Padahal sebenarnya perekonomian di negeri ini akan terus mengalami krisis jika SDM menjadi korban dalam kebijakan penanggulangan pandemi global ini.

Kebijakan yang diambil penguasa saat ini terlihat sekuler, jauh dari agama. Karena yang dikorbankan adalah nyawa manusia. Padahal dalam Islam nyawa kaum muslimin itu sangatlah berharga. Dari al-Barra’ bin Azib RA, Nabi Saw bersabda, yang artinya: “Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah SWT dibandingkan terbunuhnya seorang mikmin tanpa hak,” (HR. Nasai 3987, Thirmizi 1455, dan dishahihkan al-Albani). Tapi dalam sistem sekuler seperti ini nyawa masyarakat tidak sebanding dengan ekonomi.

Perekonomian bisa diperbaiki akan tetapi orang yang sudah meninggal tidak bisa dihidupkan kembali. Inilah potret sistem yang aturannya berdasarkan hawa nafsu semata. Padahal jika kita ingin ada sistem yang lebih mulia yang akan mengatur kehidupan kita hari ini, yang aturannya datang dari Sang Pencipta. Allah Swt berfirman, yang artinya “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki. (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (TQS al-Maidah[5]: 50). Marilah bersama kita berjuang tegakkan kembali ‘izzul islam wal muslimin yang akan memberikan kemaslahatan bagi seluruh masyarakat.

WalLahu a’lam ash-shawab.

Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: