Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Turun Motor Trail, Jaminan Sehat Terancam Fail

Kamis, 18 Juni 2020



Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
Institut Literasi dan Peradaban


Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa memberikan hadiah berupa 100 unit motor trail kepada lima Komando Distrik Militer (Kodim) dan lima Kepolisian Resor (Polres) yang berhasil menurunkan status risiko penyebaran Covid-19 menjadi zona kuning dari sebelumnya berstatus zona merah.

Kelima daerah tersebut adalah Kabupaten Trenggalek, Kota Pasuruan, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Lumajang, dan Kota Blitar. Masing-masing Kodim dan Polres memperoleh 10 unit motor trail (kontan.co.id, 13/6/2020).

Seperti diketahui, pemerintah pusat membagi risiko kenaikan kasus Covid-19 menjadi empat, yaitu zona merah (risiko tinggi), zona oranye (risiko sedang), zona kuning (risiko rendah) dan zona hijau (tidak terdampak)

"Ini bagian dari apresiasi Pemprov Jatim kepada TNI/Polri yang sudah kerja keras, bahu membahu memutus mata rantai penularan Covid-19 di Jatim," ungkap Khofifah dalam keterangan tertulis, usai memberikan pengarahan kepada jajaran Korem, Kapolres, dan Dandim se-Jatim di Gedung Balai Prajurit Makodam V/Brawijaya.

Menurut Khofifah, bukan perkara mudah mengedukasi sekaligus menggugah kesadaran masyarakat untuk bersama-sama melawan Covid-19. Mengingat tidak sedikit masyarakat yang belum paham apa itu Covid-19 dan akibat serta bahaya yang ditimbulkan. Termasuk diantaranya, bagaimana cara pencegahannya. Tidak heran, kata dia, jika masyarakat banyak yang menyepelekan pandemi ini.

"Covid-19 ini kan virus baru, sementara kita berburu dengan waktu agar mata rantai penularannya bisa putus. Nah, peran mengedukasi masyarakat inilah yang banyak diperankan oleh para anggota TNI/Polri. Khususnya, melalui program Kampung Tangguh," imbuhnya.

Khofifah mengatakan, perubahan status zona di lima kabupaten/kota tersebut menjadi bukti bahwa program Kampung Tangguh yang ada 637 kampung berhasil menurunkan kurva penularan Covid-19. Faktor pendorong utama adalah keterlibatan penuh masyarakat berbasis RT-RT yang kemudian direkatkan oleh RW. "Sehingga rentang kendalinya atau spent of control-nya sangat bergantung kepada Dandim, dan Kapolres sampai dengan babinsa dan babinkabtibmas setempat," ujarnya.

Penambahan kasus positif Covid-19 mingguan di Jatim memang cukup tinggi yaitu mencapai 1.090 orang, sementara jumlah total kasus mencapai 7.213 orang, kasus sembuh 2117 atau 29, 35%, dan kasus meninggal mencapai 588 (8,15%). Setelah adanya penurunan status di beberapa wilayah yang tadinya masuk dalam zona merah, tentu kewaspadaan harus tetap dijaga.

Pemberian insentif motor trail ini bisa jadi menimbulkan kecemburuan sosial masyarakat. Sebab, sejak awal Covid-19 bertandang ke Indonesia, pemerintah pusat selalu terlihat gagap dan kebijakannya tidak pernah sinkron dengan pemerintah daerah. Hingga berakibat virus justru menyebar makin luas dan cepat. Dan selalu yang menjadi obyek kesalahan adalah rakyat yang tidak menetapi aturan PSBB maupun Phisicaly Distancing.

Namun apakah juga penurunan angka positif Covid-19 tidak ada sangkut pautnya dengan rakyat? Dengan APD yang minim, pelayanan rumah sakit yang seadanya, gerakan sembako gratis oleh setiap warga perumahan, informasi kebijakan dan edukasi yang minim semua dilakukan rakyat tanpa banyak bicara. Meskipu sudah ada kampung tangguh, namun ternyata kampung yang tak terkatagori tangguh pun turut menyumbang melambatnya penyebaran Covid, meskipun hanya dengan swadaya menyediakan alat penyemprot disinfektan ala kadarnya di setiap pintu masuk kawasan perumahan Meraka.

Maka sebenarnya, tak cukup edukasi dan apresiasi daerah, namun harus ada koordinasi menyeluruh oleh negara. Pemerintah pusat dan daerah semestinya berada pada satu koordinasi. Sehingga bisa bergerak terarah dan tepat sasaran. Inilah penghargaan tertinggi yang bisa diterima rakyat. Yaitu tak hanya kepedulian pemangku kekuasan negeri ini, tapi juga jaminan rasa aman dan kesejahteraan.

Jika tidak, maka pandemi akan berpindah lebih cepat menuju pada daerah yang ketat penjagaannya menuju tidak ketat, dan hanya gara-gara motor Trail bisa-bisa hak rakyat fail alias gagal terwujud. Kampung tangguh hanya solusi setengah hati, karena kembali rakyat diminta mandiri mengurusi dirinya sendiri. Bertahan hidup tanpa jaminan kebutuhan pokok dari negara, terbebani dengan berbagai biaya yang tinggi semisal listrik, kesehatan, BBM dan lainnya masih dijaga ( di awasi) militer pula. Mirip kamp kosentrasi militer saja. Fakta tak terbantahkan motor trail 100 unit hanya melukai hati umat, sebab siapun tahu siapa yang berjuang lebih keras demi bertahan hidup di tengah pandemi .

Negara harus hadir sebagai periayah ( pengurus) dan junnah, perisai. Kita lihat bagaimana Jepang bangkit , 47 prefektur yang di tetapkan PSBB, 39 prefektur kemudian berhasil keluar dari zona merah dan kembali hidup normal, hanya dalam waktu 2 bulan. Sebab ada jaminan negara dengan memberikan bantuan 100 Yen perorang, 250 Yen untuk industri dan tambahan tertentu untuk orang yang tidak mampu setelah diberi 100 Yen ( liputan6.com, 22/5/2020)

Rakyat dengan mudah akan berlaku disiplin, sebab hidup mereka terjamin meskipun dalam suasana mencekam dan tidak boleh keluar rumah samasekali. Sinergi antar pemerintah pusat dan daerah yang maksimal mengurusi, dengan rakyat yang tenang sebab mendapat jaminan itulah kunci cepatnya keluar dari persoalan ini.

Maka solusi jitu hanya terlahir dari sebuah sistem sempurna yang juga diterapkan oleh seorang pemimpin yang tangguh. Yaitu Islam. Sebagaimana makna hadis berikut
"Sesungguhnya seorang imam adalah perisai, orang-orang berperang dari belakangnya dan menjadikannya pelindung, maka jika ia memerintahkan ketakwaan kepada Allah ‘azza wa jalla dan berlaku adil, baginya terdapat pahala dan jika ia memerintahkan yang selainnya maka ia harus bertanggungjawab atasnya)“ (HR. al-Bukhari, Muslim, an-Nasai dan Ahmad). Wallahu a'lam bish showab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar