Upaya Kelestarian Lingkungan Di Tengah Pandemi

Upaya Kelestarian Lingkungan Di Tengah Pandemi





By : Messy Ikhsan
(Aktivis Dakwah Kampus dan Member BMI Bukitinggi)

Setiap tanggal 5 Juni, para pencinta lingkungan akan bersorak-sorai menikmati eufario peringatan hari jadi lingkungan sedunia. Dengan menanamkan bibit tumbuhan atau menyampaikan pesan cinta yang berisi ajakan untuk menjaga dan melestarikan alam tercinta.

Namun, peringatan tahun ini agaknya berbeda. Tak dilaksanakan secara tatap muka dan nyata. Melainkan ajakan pelestarian lingkungan via media maya. Mengingat virus corona yang masih bergentayangan menapaki semesta. Tak jera meregang nyawa manusia hingga ratusan juta.

Tahun ini, tema peringatan hari jadi lingkungan sedunia adalah keanekaragaman hayati. Melihat rentetan kebakaran hutan di muka bumi yang kian terjadi tanpa henti. Dari kebakaran hutan yang terjadi dari Amerika Serikat, Brazil hingga negeri ini.

Apalagi Indonesia akan memasuki area musim kemarau secara rapi. Yang berpotensi memicu terjadinya kebakaran hutan lagi.

Analisis BMKG mengatakan bahwa puncak musim kemarau di wilayah Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Timur diperkirakan terjadi pada bulan Juni-Juli, seperti dari Kompas.com, Jumat (24/4/2020),

Selain itu, Indonesia juga diperkirakan akan mengalami El Nino netral dengan tingkat kekeringan lebih tinggi dibandingkan kondisi normal pada musim kemarau 2020 ini. Sehingga kemungkinan potensi besar terjadinya kebakaran hutan lagi.

Padahal kerusakan keanekaragaman hayati tak hanya berkutat pada kebakaran hutan saja. Melainkan juga pada keberadaan limbah yang dihasilkan oleh pabrik, penyumbatan sampah di sungai dan beragam kerusakan keanekaragaman hayati lainnya.

Lantas, kenapa kerusakan keanekaragaman hayati selalu terjadi? Lagi dan lagi? Meskipun kebanyakan pelaku sudah mendekam di balik jeruji besi?

//Solusi Dini Dari Sang Menteri//

Menanggapi hal tersebut, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan segera menyiapkan langkah-langkah terkait pencegahan hutan yang akan terjadi di Indonesia. Salah satunya dengan bekerja sama dengan pemerintahan setempat yang rawan mengalami kebakaran setiap masa.

Selain itu, pemerintah segera menindaklanjuti pembakaran hutan dan kerusakan lingkungan yang dilakukan oleh pihak yang tak bertanggungjawab secara seksama. Dengan memberikan hukuman sesuai dengan peraturan yang tertera.

Namun, apakah solusi yang diberikan bisa efektif untuk menyelesaikan masalah yang ada? Apakah hukum yang dipasalkan mampu membuat para pelaku menjadi jera?

//Sistem Salah Biang Masalah//

Padahal di tengah kondisi pendemi hari ini. Seharusnya upaya kelestarian lingkungan perlu ditingkatkan lagi. Sebagai salah satu upaya untuk memutuskan rantai penyebaran pandemi. Namun sayang, tindakan nyata itu belum terlihat secara rinci hingga ini.

Malah sebaliknya, pemerintah tengah merancang kebijakan baru yang bernama new normal life. Artinya, kehidupan normal akan segera terlaksana. Semua aktivitas kehidupan akan terjadi seperti sedia kala. Sehingga memberikan peluang kerusakan lingkungan akan terjadi lagi tanpa jeda.

Itulah penampakan sistem Kapitalisme yang hina. Di mana pemilik modal yang menjadi sang juara. Mereka bisa berbuat kebijakan sesuka hati tanpa memikirkan kepentingan manusia lainnya. Termasuk abai terhadap permasalahan yang menimpa lingkungan tercinta.

Tindakan hukuman yang diberikan pada pelaku yang merusak lingkungan pun tak menimbulkan efek jera pada pelaku secara personal dan pada masyarakat lainnya. Seolah citra seram penjara tak menjadi momok yang menakutkan bagi para pelakunya.

Ini terbukti dengan permasalahan yang sama masih tetap terjadi lagi. Pihak swasta masih bebas berkuasa terhadap kekayaan Indonesia. Entah, korporasi apa yang terjadi di antara mereka. Namun yang jelas, rakyat tak pernah diuntungkan atas kebijakan mereka. Malah sebaliknya, rakyat semakin dibuat menderita.

Sejatinya akar permasalahan yang menimpa seluruh semesta. Yaitu penerapan aturan manusia yang berdasarkan logika. Aturan yang lemah, terbatas dan bertentangan dengan syariat Pencipta. Tak mampu menyelesaikan seluruh problematika manusia secara tajam dan sempurna. Malah, menimbulkan permasalahan yang kian melebar ke mana-mana.

Apakah tak cukup firman Allah dalam Alquran sebagai hujjah untuk umat Islam menolak aturan buatan manusia yang berdasarkan logika?

Allah berfirman :

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

"Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?" (QS Al-Maidah : 50)

//Kembali Pada Sistem ilahi//

Sesungguhnya 14 abad yang lalu, Allah sudah menurunkan Alqur'an untuk mengatur kehidupan manusia secara sempurna. Dari bangun tidur hingga bangun negara. Dari menjaga diri hingga menjaga kelestarian lingkungan tercinta. Semua lengkap tertera dalam aturan Islam yang mulia.

Selain itu, hakikat manusia diciptakan oleh Allah di muka bumi. Sebagai Khalifah yang bertugas menjaga dan melestarikan lingkungan secara alami.

Allah berfirman:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang Khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (Khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". (QS Al-Baqarah : 30)

Dalam tafsir Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram) menjelaskan bahwa Dia telah berfirman kepada para Malaikat, bahwasanya Dia akan menciptakan manusia untuk ditempatkan di muka bumi secara silih berganti. Tugas utama mereka adalah memakmurkan bumi atas dasar ketaatan kepada Allah. Lalu para Malaikat bertanya kepada Tuhan mereka dengan maksud meminta bimbingan dan penjelasan tentang hikmah di balik penempatan anak cucu Adam sebagai khalifah di muka bumi. Sedangkan mereka akan membuat kerusakan di sana dan menumpahkan darah secara semena-mena. Para malaikat itu mengatakan, “Sementara kami ini senantiasa patuh kepada-Mu, mensucikan dan memuji-Mu, serta menghormati keagungan dan kesempurnaan-Mu. Kami tidak pernah letih dalam melakukan hal itu.” Allah menjawab pertanyaan mereka dengan firman-Nya, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui tentang adanya hikmah-hikmah besar di balik penciptaan mereka dan tujuan-tujuan besar di balik penetapan mereka sebagai khalifah di muka bumi.”

Namun sayang, kesadaran akan kelestarian lingkungan masih minim di tengah masyarakat. Tak jarang terjadinya kerusakan alam hanya untuk mencari sesuap nasi agak tak sekarat.

Mengeksploitasi kekayaan alam tak sesuai tempat. Menjadikan alam sekarat. Efeknya, masyarakat bisa tamat. Karena, sumber kehidupan terpancar dari alam yang tersimpan banyak nikmat.

Maka penting bagi setiap individu untuk menumbuhkan rasa kepedulian pada diri. Terkait kecintaan pada alam hayati. Dengan melakukan upaya pelestarian lingkungan secara alami. Sebagaimana yang diajarkan oleh Ilahi Rabbi dalam ayat suci. Dan dicontohkan oleh Baginda Nabi dalam kehidupan sehari-hari.

Tentu hal ini bisa dilakukan secara sendiri dan mandiri. Namun, butuh dukungan dari semua kalangan tanpa henti. Terutama bagi para penguasa dan pengusaha yang duduk di kursi. Agar aktif menanamkan kecintaan pada lingkungan hayati. Dan memberikan efek jera bagi individu yang jelas melakukan pelanggaran secara rinci.

Namun, hal itu sulit untuk didapatkan. Jika sistem Islam tak diterapkan secara keseluruhan. Karena, tak mungkin bagi cukong Kapitalis yang kejam untuk menjadikan Islam sebagai aturan kehidupan.

Sehingga umat Islam tak ada pilihan. Selain, memilih peran di barisan perjuangan. Untuk mengembalikan Islam ke tangan umat secara keseluruhan. Tanpa dipilah-pilih sesuai kesukaan. Tapi, sesuai dengan apa yang Allah inginkan.

Allah berfirman :

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh". Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS An-Nur : 50)

"Ya Allah jadikanlah kami diantara hamba-hamba-Mu yang menyegerakan diri dalam kebaikan dan kebenaran dan selalu taat terhadap perintah dan menjauhi larangan-Mu. Aamiin.

11620

#MessyIkhsan
#ArtikelLingkungan
#DiksiHati
#KKNDR2020Kapitalisme Gagal Wujudkan Kelestarian Lingkungan

By : Messy Ikhsan
(Aktivis Dakwah Kampus dan Member BMI Bukitinggi)

Setiap tanggal 5 Juni, para pencinta lingkungan akan bersorak-sorai menikmati eufario peringatan hari jadi lingkungan sedunia. Dengan menanamkan bibit tumbuhan atau menyampaikan pesan cinta yang berisi ajakan untuk menjaga dan melestarikan alam tercinta.

Namun, peringatan tahun ini agaknya berbeda. Tak dilaksanakan secara tatap muka dan nyata. Melainkan ajakan pelestarian lingkungan via media maya. Mengingat virus corona yang masih bergentayangan menapaki semesta. Tak jera meregang nyawa manusia hingga ratusan juta.

Tahun ini, tema peringatan hari jadi lingkungan sedunia adalah keanekaragaman hayati. Melihat rentetan kebakaran hutan di muka bumi yang kian terjadi tanpa henti. Dari kebakaran hutan yang terjadi dari Amerika Serikat, Brazil hingga negeri ini.

Apalagi Indonesia akan memasuki area musim kemarau secara rapi. Yang berpotensi memicu terjadinya kebakaran hutan lagi.

Analisis BMKG mengatakan bahwa puncak musim kemarau di wilayah Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Timur diperkirakan terjadi pada bulan Juni-Juli, seperti dari Kompas.com, Jumat (24/4/2020),

Selain itu, Indonesia juga diperkirakan akan mengalami El Nino netral dengan tingkat kekeringan lebih tinggi dibandingkan kondisi normal pada musim kemarau 2020 ini. Sehingga kemungkinan potensi besar terjadinya kebakaran hutan lagi.

Padahal kerusakan keanekaragaman hayati tak hanya berkutat pada kebakaran hutan saja. Melainkan juga pada keberadaan limbah yang dihasilkan oleh pabrik, penyumbatan sampah di sungai dan beragam kerusakan keanekaragaman hayati lainnya.

Lantas, kenapa kerusakan keanekaragaman hayati selalu terjadi? Lagi dan lagi? Meskipun kebanyakan pelaku sudah mendekam di balik jeruji besi?

//Solusi Dini Dari Sang Menteri//

Menanggapi hal tersebut, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan segera menyiapkan langkah-langkah terkait pencegahan hutan yang akan terjadi di Indonesia. Salah satunya dengan bekerja sama dengan pemerintahan setempat yang rawan mengalami kebakaran setiap masa.

Selain itu, pemerintah segera menindaklanjuti pembakaran hutan dan kerusakan lingkungan yang dilakukan oleh pihak yang tak bertanggungjawab secara seksama. Dengan memberikan hukuman sesuai dengan peraturan yang tertera.

Namun, apakah solusi yang diberikan bisa efektif untuk menyelesaikan masalah yang ada? Apakah hukum yang dipasalkan mampu membuat para pelaku menjadi jera?

//Sistem Salah Biang Masalah//

Padahal di tengah kondisi pendemi hari ini. Seharusnya upaya kelestarian lingkungan perlu ditingkatkan lagi. Sebagai salah satu upaya untuk memutuskan rantai penyebaran pandemi. Namun sayang, tindakan nyata itu belum terlihat secara rinci hingga ini.

Malah sebaliknya, pemerintah tengah merancang kebijakan baru yang bernama new normal life. Artinya, kehidupan normal akan segera terlaksana. Semua aktivitas kehidupan akan terjadi seperti sedia kala. Sehingga memberikan peluang kerusakan lingkungan akan terjadi lagi tanpa jeda.

Itulah penampakan sistem Kapitalisme yang hina. Di mana pemilik modal yang menjadi sang juara. Mereka bisa berbuat kebijakan sesuka hati tanpa memikirkan kepentingan manusia lainnya. Termasuk abai terhadap permasalahan yang menimpa lingkungan tercinta.

Tindakan hukuman yang diberikan pada pelaku yang merusak lingkungan pun tak menimbulkan efek jera pada pelaku secara personal dan pada masyarakat lainnya. Seolah citra seram penjara tak menjadi momok yang menakutkan bagi para pelakunya.

Ini terbukti dengan permasalahan yang sama masih tetap terjadi lagi. Pihak swasta masih bebas berkuasa terhadap kekayaan Indonesia. Entah, korporasi apa yang terjadi di antara mereka. Namun yang jelas, rakyat tak pernah diuntungkan atas kebijakan mereka. Malah sebaliknya, rakyat semakin dibuat menderita.

Sejatinya akar permasalahan yang menimpa seluruh semesta. Yaitu penerapan aturan manusia yang berdasarkan logika. Aturan yang lemah, terbatas dan bertentangan dengan syariat Pencipta. Tak mampu menyelesaikan seluruh problematika manusia secara tajam dan sempurna. Malah, menimbulkan permasalahan yang kian melebar ke mana-mana.

Apakah tak cukup firman Allah dalam Alquran sebagai hujjah untuk umat Islam menolak aturan buatan manusia yang berdasarkan logika?

Allah berfirman :

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

"Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?" (QS Al-Maidah : 50)

//Kembali Pada Sistem ilahi//

Sesungguhnya 14 abad yang lalu, Allah sudah menurunkan Alqur'an untuk mengatur kehidupan manusia secara sempurna. Dari bangun tidur hingga bangun negara. Dari menjaga diri hingga menjaga kelestarian lingkungan tercinta. Semua lengkap tertera dalam aturan Islam yang mulia.

Selain itu, hakikat manusia diciptakan oleh Allah di muka bumi. Sebagai Khalifah yang bertugas menjaga dan melestarikan lingkungan secara alami.

Allah berfirman:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang Khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (Khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". (QS Al-Baqarah : 30)

Dalam tafsir Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram) menjelaskan bahwa Dia telah berfirman kepada para Malaikat, bahwasanya Dia akan menciptakan manusia untuk ditempatkan di muka bumi secara silih berganti. Tugas utama mereka adalah memakmurkan bumi atas dasar ketaatan kepada Allah. Lalu para Malaikat bertanya kepada Tuhan mereka dengan maksud meminta bimbingan dan penjelasan tentang hikmah di balik penempatan anak cucu Adam sebagai khalifah di muka bumi. Sedangkan mereka akan membuat kerusakan di sana dan menumpahkan darah secara semena-mena. Para malaikat itu mengatakan, “Sementara kami ini senantiasa patuh kepada-Mu, mensucikan dan memuji-Mu, serta menghormati keagungan dan kesempurnaan-Mu. Kami tidak pernah letih dalam melakukan hal itu.” Allah menjawab pertanyaan mereka dengan firman-Nya, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui tentang adanya hikmah-hikmah besar di balik penciptaan mereka dan tujuan-tujuan besar di balik penetapan mereka sebagai khalifah di muka bumi.”

Namun sayang, kesadaran akan kelestarian lingkungan masih minim di tengah masyarakat. Tak jarang terjadinya kerusakan alam hanya untuk mencari sesuap nasi agak tak sekarat.

Mengeksploitasi kekayaan alam tak sesuai tempat. Menjadikan alam sekarat. Efeknya, masyarakat bisa tamat. Karena, sumber kehidupan terpancar dari alam yang tersimpan banyak nikmat.

Maka penting bagi setiap individu untuk menumbuhkan rasa kepedulian pada diri. Terkait kecintaan pada alam hayati. Dengan melakukan upaya pelestarian lingkungan secara alami. Sebagaimana yang diajarkan oleh Ilahi Rabbi dalam ayat suci. Dan dicontohkan oleh Baginda Nabi dalam kehidupan sehari-hari.

Tentu hal ini bisa dilakukan secara sendiri dan mandiri. Namun, butuh dukungan dari semua kalangan tanpa henti. Terutama bagi para penguasa dan pengusaha yang duduk di kursi. Agar aktif menanamkan kecintaan pada lingkungan hayati. Dan memberikan efek jera bagi individu yang jelas melakukan pelanggaran secara rinci.

Namun, hal itu sulit untuk didapatkan. Jika sistem Islam tak diterapkan secara keseluruhan. Karena, tak mungkin bagi cukong Kapitalis yang kejam untuk menjadikan Islam sebagai aturan kehidupan.

Sehingga umat Islam tak ada pilihan. Selain, memilih peran di barisan perjuangan. Untuk mengembalikan Islam ke tangan umat secara keseluruhan. Tanpa dipilah-pilih sesuai kesukaan. Tapi, sesuai dengan apa yang Allah inginkan.

Allah berfirman :

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh". Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS An-Nur : 50)

"Ya Allah jadikanlah kami diantara hamba-hamba-Mu yang menyegerakan diri dalam kebaikan dan kebenaran dan selalu taat terhadap perintah dan menjauhi larangan-Mu. Aamiin.

11620

#MessyIkhsan
#ArtikelLingkungan
#DiksiHati
#KKNDR2020
#KKNDRIAINBukittinggi
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: