Urgensi Nyawa Di Tengah Wabah

Urgensi Nyawa Di Tengah Wabah


Oleh : Gina Kusmiati
(Komunitas Pena Islam)

Memasuki bulan Syawal, masalah wabah masih menjadi pemberitaan yang hangat, bahkan sampai ke pelosok negeri-negeri seluruh dunia. Tak dipungkiri Indonesia adalah bagian negeri yang kurva wabahnya terus meningkat. Melonjaknya angka pasien wabah di negeri ini sudah sangat mengkhawatirkan. Penambahan pasien covid-19 kembali menyentuh 900 pasien. Total keseluruhan sabtu 23/5 mencapai 21.745 kasus.

Juru bicara pemerintah Ahmad Yurianto mengatakan bahwa peningkatan ini sudah terjadi untuk ke dua kalinya. Tapi Yuri juga menambahkan bahwa pasien yang sembuh bertambah hingga total menjadi 5.249 (banten.idntimes.com 23/05/20).

Melonjaknya kasus infeksi menjelang dan pasca lebaran tak mampu membangunkan pemerintah yang masih tak bergeming untuk melakukan antisipasi yang signifikan. Pemerintah malah melonggarkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang membebaskan rakyat beraktivitas seperti biasa. (Okezone.com, 21/05/2020). Namun di sisi lain, pernyataan protokol kesehatan presiden dalam twiternya menghimbau agar melakukan kedisplinan untuk menghindari penyebaran covid-19, mencuci tangan, menjaga jarak dan hindari keramaian. 

Kurangnya edukasi dan buah kebijakan yang melonggarkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)  memberi ruang bebas bagi terbukanya tempat-tempat umum seperti mall, pasar dan sejenisnya yang membuat rakyat makin leluasa melakukan berbagai aktivitas tanpa menghiraukan kesehatan dan keselamatan jiwa. pernyataan protokol kesehatan pemimpin negara ini membingungkan. Mengimbau hindari keramaian namun menormalkan aktivitas sosial. Membuka tempat-tempat umum yang menjadi tempat berkumpul banyak orang dan rentan penularan.  

Pernyataan presiden yang tak selaras dengan kebijakan yang dikeluarkan menjadi gambaran betapa negara ini  plin plan. Kebijakan ini membuktikan bahwa negara enggan mengambil risiko untuk mengambil solusi secara tepat akan penanganan wabah. Meskipun sudah banyak menelan korban jiwa. Akhirnya, pencegahan diserahkan pada individu masing-masing tanpa dukungan kebijakan pemerintah.

Keadaan genting saat ini tak pula membuat  pemerintah memundurkan hasratnya dalam upaya mendongkrak ekonomi. Sepertinya ekonomi masih saja menjadi bahan pertimbangan terberat dalam memutuskan kebijakan. Menuju Kebijakan new normal yang diterapkan hanya akan menuai kegagalan dan memperparah kondisi krisis. Dimana aktivitas sosial, ekonomi dll tidak akan bertahan lama seperti halnya di negeri Korea sehari mengurangi pembatasan sosial sehari kemudian terjadi lonjakan kasus covid-19 sebanyak 79 kasus menjadi angka harian dalam kurun 2 bulan (Sindonews.com, 29/05/2020).

Rekor penambahan kasus pasien covid-19 harusnya dapat menyadarkan pemerintah agar segera melakukan perubahan kebijakan yang memprioritaskan penanganan wabah. Karena saat ini rakyat lebih membutuhkan solusi untuk keselamatan jiwa walaupun berisiko tinggi.  Pemerintah harus siap mempertaruhkan segala upaya agar kurva wabah menurun dan terkendali. Jangan sampai rakyat mempertaruhkan banyak nyawa lagi akibat dampak dari keegoisan para penguasa.

Islam mewajibkan setiap manusia untuk mempertahankan nyawa dan tidak membahayakan nyawa agar tetap hidup. Menjerumuskan diri untuk mempertaruhkan nyawa adalah perkara haram, kecuali sudah di tentukan dalam nash-nash Islam. Seperti salah satu hadis berikut, dari Sa’id bin Zaid, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Siapa yang dibunuh karena membela hartanya maka ia syahid. Siapa yang dibunuh karena membela keluarganya maka ia syahid. Siapa yang dibunuh karena membela darahnya atau karena membela agamanya, ia syahid.” (HR. Abu Daud no. 4772 dan An Nasa’i no. 4099. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Dalam Islam, nyawa seorang rakyat wajib di lindungi negara. Perlindungan dikeluarkan berupa kebijakan-kebijakan yang semata-mata hanya untuk periayahan rakyat dengan menekankan negara wajib mengambil kebijakan yang lahir dari wahyu yaitu Al Quran dan As Sunnah. Yang tentu dijalankan dengan mekanisme ilmu dan sains yang tidak berbenturan dengan aturan Allah.

Tetapi, kebijakan itu hanya bisa diaplikasikan dalam sebuah sistem Islam yang sungguh-sungguh memperhatikan kepentingan manusia seluruhnya. Perkara ini tidak ada di sistem lain apalagi sistem yang saat ini diterapkan di negeri ini yang terus-menerus menzalimi umat. "Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara total, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu musuh yang nyata bagi kalian." (TQS al-Baqarah [2]: 208).
Previous Post
Next Post

post written by:

Assalamualaikum sahabat... Aku hanya seorang biasa yang sedang belajar tuk jadi pribadi yang tak biasa. Setiap desain adalah passionku, menulis dan bercerita merupakan kesukaanku, berbagi hal yang bermanfaat adalah kegemaranku. Islam sebagai way of life adalah dienku. Semoga dengan izinNya segera kan tegak kembali di bumi Allah ini. Aamiin @naybeiskara

0 Comments: