Ada Apa di Balik Prostitusi Artis?

Ada Apa di Balik Prostitusi Artis?



Oleh: Nabila Zidane
Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Artis Hana Hanifah akhirnya tampil di hadapan awak media, Selasa (14/7/2020) malam. Hana Hanifah didampingi oleh pengacaranya, Machi Achmad, di Mapolrestabes Medan, Sumatera Utara. Ia tampak mengenakan jaket warna hitam dengan dalaman kaos putih.

Hana Hanifah yang berstatus sebagai saksi korban dalam kasus tindak pidana perdagangan orang itu mengaku sudah satu tahun menggeluti dunia prostitusi.
Hana Hanifah terbuai dengan dunia prostitusi lantaran menawarkan keuntungan ekonomi yang besar. Ia ketagihan karena bayaran yang fantastis hingga 30 jt.(newsmaker.tribunnews.com, 15/7/2020)
Memang kita sekarang ini hidup dalam kehidupan kapitalistik. Jadi sebenarnya tidak perlu terkejut dan heran, jika dalam kehidupan seperti ini perkara semacam itu sudah menjadi hal yang biasa.

Dalam kehidupan kapitalistik ini, tujuan orang hidup hanya untuk mencari kesenangan belaka, tidak berpikir jangka panjang, nanti di akhirat bagaimana? Yang ada di dalam pikiran mereka adalah bagaimana bisa hidup bahagia tanpa berpikir halal dan haram.

Pokoknya sekarang hidup enak, senang, hura-hura, segala apa yang diinginkan bisa tercapai dengan mudah. Jadi kalau dilihat sekarang, masyarakat secara umum meskipun orang-orangnya Muslim tapi pola pikirnya adalah sekular, dimana ukuran atau standar kebahagiaan bukan perkara apakah kita ini amalannya diridai Allah Swt atau tidak, akan tetapi yang terpenting adalah bagaimana hidup ini bisa dinikmati, nyaman, enak dan sejahtera, tanpa bersusah payah untuk mendapatkannya.

Bayangkan saja untuk artis seperti itu pasti banyak sekali kebutuhan yang harus mereka penuhi. Diantaranya; membeli bedak, membeli alat make-up, lipstik,  perawatan wajah dan perawatan kulit agar tetap glowing dan segar sehingga terlihat cantik mempesona. Ditambah lagi perkara beli Hp, pakaian, baju, tas, sepatu, apapun itu pasti mencari sesuatu yang bermerek. Tentu saja gaya hidup seperti ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Meskipun tidak ada uang, mereka akan berpikir bagaimana caranya agar bisa memenuhi gaya hidupnya itu.

Bagi orang-orang yang tidak menggunakan agama sebagai standar berfikir, maka akal mereka tidak akan digunakan untuk memikirkan halal dan haram. Kemudian agama tidak digunakan sebagai acuan, maupun sebagai patokan dalam hidup. Otomatis dia bisa mencari uang dengan cara apapun. Entah bagaimana caranya, pokoknya kaya, pokoknya dapat uang banyak dengan cara dan tempo yang secepat-cepatnya, termasuk menjual dirinya.

Dan ternyata memang banyak juga pengusaha-pengusaha kaya yang berfikiran sekular- kapitalis yang juga ingin berzina, mereka ingin menikmati dengan orang-orang semacam artis tadi. Jadi ya "Tumbu ketemu tutup" alias cocok.
Maka ketika hidup di zaman kapitalisme ini, tidak usah heran bila ada perempuan yang dengan sukarela, dengan ikhlas menjual diri dengan harga yang begitu mahalnya. mengapa?

Karena hidupnya bukan untuk mencari keridhoan Allah Swt. Akan tetapi  Karena dia mengejar uang. dan cara yang paling gampang untuk mencari uang itu salah satunya dengan menjual tubuhnya. Na'udzubillah.
Prostitusi terus tumbuh subur karena dijadikan sebagai ajang bisnis. Hukum penawaran dan permintaan berlaku. Begitulah wajah kapitalisme demokrasi. Perempuan dihargai dari sisi materi dan dijadikan sebagai komoditas yang diperdagangkan.
Wallahu a'lam

Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: