Cara Islam Memberantas Pergaulan Bebas

Cara Islam Memberantas Pergaulan Bebas




Oleh: Widdiya Permata Sari*


Tim gabungan TNI/Polri bersama Pemerintah Kecamatan Pasar Kota Jambi mengelar razia penyakit masyarakat (pekat), Rabu (8/7/2020) malam. Hasilnya, dalam razia itu didapati sedikitnya 37 pasangan remaja di bawah umur yang diduga hendak melakukan pesta seks di hotel.

Puluhan remaja itu terjaring petugas gabungan di sejumlah hotel yang ada di Jambi. Dari 37 pasangan yang diamankan, ada yang hendak menggelar ulang tahun dengan pesta seks.
"Dalam operasi itu, banyak yang terjaring anak-anak remaja di bawah umur. Mereka menyewa kamar hotel. Sangat miris sekali. Laki-lakinya umur 15 tahun, ada perempuannya umur 13 tahun. Kita temukan ada 1 perempuan 6 laki-laki di satu kamar,” kata Mursida, Kamis (9/7/2020) malam. (Kompas.com, 11/07/2020)

Sungguh miris sebab pelakunya adalah anak-anak dibawah umur yang masih berstatus sekolah. Yang seharusnya diumur segitu mereka fokus dan giat belajar untuk mencapai cita-cita bukan pokus dengan pergaulan bebas. Persoalan pergaulan bebas di negri ini memang belum usai bahkan semakin parah.

Maraknya pergaulan bebas dikalangan remaja sebenarnya tidak lepas dari kesalahan negri ini sendiri yang masih mempertahankan penerapan sistem sekulerisme dan liberalisme.

Penerapan sekulerisme menjadikan aturan kehidupan bersumber dari akal manusia, standar salah dan benar bukan lagi aturan sang pencipta melainkan sesuai kepentingan manusia. Pencipta hanya ditempatkan mengatur urusan peribadahan (ibadah madhah). Dengan penerapan sekulerisme inilah muncul kebebasan (liberalisme).

Tak heran jika negri ini cenderung membiarkan remaja melakukan aktivitas pacaran, berikhtilat, khalwat (berdua-duan dengan lawan jenis), membiarkan tontonan "dewasa" dinikmati siapapun termasuk remaja.

Di sinilah sudah jelas bahwa negara memishkan agama dalam kehidupan, yang seharusnya agama mengatur atau memberikan arahan tentang semua agama  secara menyeluruh, tapi nyatanya negara malah lebih fokus dalam pengurusan dua hal saja yaitu haji dan zakat sementara yang lainnya diabaikan. Sehingga dengan leluasa negara membiarkan gaya hidup liberal yang berasal dari barat difilter oleh masyarakat kita.

Sehingga ketika negara menerapkan sekulerisme dan liberalisme berdampak pula pada pengelolaan kurikulum pendidikan yaitu membuat kurikulum sekolah kita tidak menyentuh kesadaran dan keimanan sama sekali. Penyadaran pentingnya belajar sebagai modal kehidupan membentuk etika dan berakhlak mulia mendapatkan porsi yang sangat kecil. Apalagi ketika pelajaran agama yang seharusnya mengajarkan anak agar memeliki aqidah dan akhlak yang kuat, ini malah hanya diberi porsi 2 jam dalam sepekan.

Islamlah  solusinya 

Sistem Islam dalam khilafah akan menjadikan syariat Islam sebagai rujukan dan pondasi satu-satunya yang melahirkan aturan paripurna untuk mengatur masyarakat termasuk dalam pergaulan.

Pengaturan syariat Islam ini didukung oleh 3 pilar:

Pertama ketaqwaan individu

Taqwa adalah buah dari keimanan seseorang yang telah benar-benar memahami makna pemikiran rukun iman, juga telah memahami bahwa konsekuensi keimanan kepada Allah adalah terikat dengan seluruh aturan Allah SWT sebagai sang pencipta, ketakwaan individu inilah yang mendorong setiap muslim termasuk remaja untuk melaksanakan hukum Islam seputur pergaulan diantaranya menutup aurat, tidak berkhalwat, tidak ikhtilat, dan menyibukan diri pada kebaikan

Kedua kontrol masyarakat

Dalam khilafah, masyarakat dididik untuk bersikap saling peduli yaitu saling mengingatkan untuk berbuat baik dan berupaya mencegah orang lain berbuat mungkar. Sebagaiman firman Allah SWT  dalam Q.S Ali Imran ayat 104

 وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى ٱلْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

Artinya :Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.
Sehingga warga wajib melaporkan jika menjumpai kasus pelanggaran terhadap syariat Islam seperti pelecehan seksual, zina, dan sebagainya.

Ketiga negara yang menerapkan syariat 

Negara (khilafah) berwenang 
menerapkan aturan Islam secara kaffah, termasuk hukum pergaulan Islam. Karenanya, negara akan menutup setiap akses yang dapat menginspirasi untuk melakukan tindak pergaulan bebas seperti situs porno.
Tak hanya itu negara juga mengawasi setiap tayangan yang muncul di televisi agar sejalan dengan Islam. Artinya negara akan melarang tayangan yang mempertontonkan aurat, pacaran, LGBT tabarruj, dan sebagainya. Pengawasan ini dilakukan oleh Departemen Penerangan di bawah  kontrol Khilafah. 
Jika ada yang melanggar, maka negara akan menjatuhkan hukuman atau sanksi sesuai hukum syariat. Sanksi dalam Islam bersifat zawajir (pemberi efek jera) dan jawabir (penebus dosa). Dikatakan sebagai "Penebus" dosa karena sanksi yang dijatuhkan  akan menggugurkan sanksinya di akhirat. Atas dasar itu, seseorang yang telah mendapat sanksi syariat di dunia maka gugurlah sanksi di akhirat. 

Sehingga penjagaan ini akan semakin sempurna, sebab negara membangun sistem pendidikan dengan kurikulum berbasis akidah Islam, sehingga remaja akan  teredukasi hingga terbentuk kepribadian Islam (individu bertakwa) dalam diri mereka.





*(Muslimah Perindu Syurga)




Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: