Catatan Genosida Sebrenica, Umat Islam Kembali Berkaca

Catatan Genosida Sebrenica, Umat Islam Kembali Berkaca



Oleh : Sukeipah YP, Aktivis Perempuan Kota Malang

Dengan menyimak sejarah, kita dapat mengambil pelajaran yang dapat melampaui umur kita sendiri. Tepat 11 Juli tahun ini adalah 25 tahun peringatan tragedi Sebrenica. Sebuah tragedi sejak 1992 - 1995 Muslim Bosnia (Bosniak) segala gender dan usia menjadi korban pembantaian, lebih dari 8.000 jiwa melayang. Menurut Mantan Sekjen PBB Kofi Annan, tragedi ini adalah tragedi pembantaian paling sadis di Eropa pasca Perang Dunia II. Pembantaian tersebut merupakan bagian dari genosida yang dilakukan terhadap umat muslim oleh pasukan Serbia Bosnia selama Perang bosnia, salah satu perang konflik yang terjadi pada 1990-an ketika Yugoslavia bubar. Pada 1992, Republik Bosnia Herzegovina (wilayah multi etnis Bosniak Muslim Serbia Ortodoks dan Kroasia Katolik) mendeklarasikan kemerdekaannya setelah referendum, dan diakui oleh pemerintah AS dan Eropa. Namun kelompok Serbia memboikot referendum, dan segera setelah itu pasukan Serbia  yakni Tentara Republika Srpska (Serbia) yang dipimpin oleh Ratko Mladic dan Grup Paramiliter Scorpion (Bagian kemendragri) yang didukung oleh pemerintah Serbia menyerang negara yang baru terbentuk. Mereka mengeluarkan Bosniak dari wilayah itu untuk menciptakan “Serbia Raya” yaitu kebijakan yang dikenal sebagai pembersihan etnis. Orang-orang Bosniak, yang sebagian besar adalah Muslim, adalah keturunan dari Slavia Bosnia yang menganut Islam di bawah pemerintahan Turki Ottoman pada Abad Pertengahan. 

Kofi Annan juga menyatakan bahwa tragedi Sebrenica akan selamanya menghantui sejarah PBB. Karena tragedi ini terjadi dibawah pengawasan ketat PBB, yang justru berperan melucuti senjata pejuang Muslim sebagai sikap tunduk kepada ultimatum Serbia. Untuk menciptakan “daerah aman” PBB bahkan membantu pasukan serbia memisahkan laki-laki dan perempuan pada hari pembantaian. Pasukan penjaga perdamaian PBB yang bersenjata ringan, berada di wilayah yang mereka nyatakan sebagai “daerah aman” PBB (yaitu wilayah sebrenica pada saat itu), malah hanya menyaksikan agresi Serbia tanpa melakukan apapun ketika kekerasan berkobar disekitar mereka. Tak hanya itu, mereka membiarkan Bosniak yang melarikan diri untuk mencari perlindungan ke pangkalan tentara PBB diangkut oleh pasukan Serbia, padahal tahu betul bagaimana nasib mereka berikutnya. Kegetiran tragedi itu masih terus terasa bagi seluruh umat Muslim hingga saat ini, sebab meski 25 tahun setelah tragedi pembantaian terjadi, masih ditemukan kuburan masal baru dan tubuh korban. Subhanallah… sejarah ini adalah harga mahal yang harus dibayar kaum muslim untuk sebuah pembelajaran dari catatan genosida Sebrenica maka sudah selayaknya muslim wajib mengetahui dan belajar atasnya.

Ironisnya tidak berhenti pada kejadian Sebrenica, pembantaian terhadap muslim terjadi di daerah lainnya di dunia yaitu Suriah, Myanmar, Turkistan Timur, Afghanistan, Somalia, Thailand Selatan dan Filipina, Irak, Libya, Republik Afrika Tengah, Palestina dan Yaman. Kenyataannya, perdamaian dunia dibawah institusi PBB seakan hanya slogan yang tidak berlaku bagi kaum Muslim yang selalu menjadi korban bagi para pembenci Islam. Namun sayangnya, hingga saat ini setiap permasalahan yang muncul di tengah umat, PBB masih menjadi rujukan untuk menyelesaikan masalah. Seakan seluruh masalah yang dihadapi umat Islam tidak cukup untuk membuat umat Islam sadar bahwa PBB tidak mampu menyelesaikan masalah umat Islam.

Permusuhan terhadap Islam telah menelan korban ribuan bahkan jutaan kaum muslim, namun alih-alih melaksanakan perdamaian dunia, PBB seakan tidak menunjukkan peran apapun dalam pembantaian yang terus berlangsung kepada muslim di dunia. Lihat saja dalam lini informasi kita, konflik Palestina-Israel saat ini masih terus berlangsung bahkan meski segala macam resolusi diberikan PBB, toh Israel sama sekali tak menggubris resolusi tersebut. Justru malah israel meningkatkan kendalinya atas wilayah Palestina. Bahkan berkaca dari Sebrenica, pelucutan senjata, tidak melakukan apa-apa dan menyerahkan bosniak yang meminta perlindungan di kamp PBB menjelaskan bahwa PBB malah menjadi alat legitimasi kebengisan penjahat untuk memuaskan nafsu kedengkiannya terhadap Islam dan muslim.

Ketidakadilan akan terus terjadi sebab sistem yang ada saat ini hanyalah berasaskan kepentingan semata. Atas nama perdamaian dunia, atas nama hak asasi manusia, semua itu hanya berlaku untuk melindungi kepentingan pihak tertentu. Kita harus menyadari bahwa  tidak seharusnya kita menyandarkan diri pada PBB untuk memecahkan masalah dan meminta perlindungan, sebagaimana Allah telah peringatkan, adalam surat QS. Al-Anfal :73 yang artinya “Adapun orang-orang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (wahai kaum muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi ini dan kerusakan yang besar”. Oleh karena itu, seharusnya kita mengupayakan pemecahan masalah yang merujuk pada syariat Allah, yakni dengan menerapkan islam secara kaffah bukan hanya sebatas ibadah saja melainkan seluruh aspek kehidupan. Sebab Allah telah menyempurnakan agama Islam sebagai pengatur kehidupan sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin dalam bingkai sistem negara yakni Sistem Khilafah Islamiyah. Saat ini memang banyak negara yang mengklaim sebagai negara islam, namun ketika permasalahan umat Islam mencuat, ketika umat Islam terdzalimi, tidak ada satupun negara yang mengaku islam tersebut membela umat Islam dengan tindakan tegas dan berujung menyerahkan pada keputusan PBB. Negara islam yang ada saat ini sejatinya masih belum sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah, sebab pengambilan hukum tidak merujuk pada Al Qur’an dan Hadist secara menyeluruh. Semoga Allah segerakan tegaknya sebuah institusi negara yang menerapkan Islam Kaffah yakni Khilafah Islamiyah minhajjinnubuwah. Allahuakbar!
Previous Post
Next Post

post written by:

Cerdaskan Umat, Raih Kebangkitan!

0 Comments: