Idul Adha: Momentum Pembuktian Cinta kepada Allah

Idul Adha: Momentum Pembuktian Cinta kepada Allah



Oleh: Ayu Susanti, S.Pd



Idul adha adalah hari besar ummat muslim di seluruh Idul Adha: Momentum Pembuktian Cinta Kepada Allah. Idul adha selalu mengingatkan kita kepada kisah pengorbanan cinta yang luar biasa dari nabi Ibrahim as. dan nabi Ismail as. kepada Rabb-nya. Bagaimana tidak? Mungkin manusia biasa tak akan bisa terpikir untuk menjadi sosok nabi Ibrahim as. yang dengan rela mengorbankan anaknya untuk disembelih karena titah dari Rabb-nya. Begitupun mungkin kalangan remaja yang berstatus sebagai anak pun tak pernah terbayangkan untuk bisa menjadi sosok nabi Ismail as. yang dengan rela mengorbankan dirinya untuk memenuhi seruan Allah.

Begitulah kedua sosok nabi yang Allah sayangi. Tanpa berpikir panjang dan tanpa membantah mereka betul-betul membuktikan betapa besar cintanya kepada Allah. Mereka rela mengorbankan apapun bahkan dirinya sekalipun untuk menunjukan ketaatannya kepada Allah.

Begitulah cinta. Kekuatan cinta seorang mukmin kepada Allah sangat besar disbanding apapun. Menurut Al-Baidhawi, cinta adalah keinginan untuk taat. Menurut Al-Zujaj, cintanya manusia kepada Allah dan Rasul-Nya adalah menaati keduanya dan ridho terhadap segala perintah Allah dan segala ajaran yang dibawa Rasulullah saw. Hal ini menunjukkan bahwa pembuktian cinta kita kepada Allah adalah dengan bertakwa kepada-Nya, menaati seluruh perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Tanpa harus berpikir nanti-nanti. Tapi sesegera mungkin untuk selalu mengusahakan diri terikat pada aturan-aturan Allah.

“Tidak beriman seorang hamba hingga aku lebih dicintai daripada keluarganya, hartanya dan seluruh manusia yang lainnya”. (Mutafaq ‘alaih).   

Saat ini betapa banyak kerusakan yang terjadi di kehidupan manusia. Terutama saat ini dunia sedang menghadapi wabah yang mengancam termasuk di negeri zamrud khatulistiwa. Akibat pandemi ini banyak sekali dampak yang ditimbulkan. Kesengsaraan semakin menjadi-jadi. Dari mulai masalah kesehatan rakyat yang terancam, kurangnya APD untuk para tenaga medis, masalah roda ekonomi yang terhambat sehingga banyak orang yang semakin kekurangan untuk memenuhi kebutuhan primer sehari-hari, masalah Pendidikan yang mewajibkan para siswa untuk belajar daring sehingga masalah kuota dan signal pun tak bisa terelakan lagi, bahkan sampai masalah ketahanan keluarga pun menjadi salah satu dampak dari wabah ini. 

Semua kesengsaraan yang ada tidak akan pernah dirasakan oleh manusia saat manusia mau tunduk dan patuh kepada pencipta-Nya. 

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41). 

Kerusakan yang terjadi adalah akibat ulah manusia itu sendiri. Manusia enggan untuk diatur kehidupannya oleh aturan Allah, baik dalam kehidupan politik, ekonomi, pendidikan, pergaulan, sosial-budaya dan lain sebagainya. Manusia lebih suka menggunakan aturan buatan sendiri yang memisahkan agama dalam kehidupan. Termasuk saat mengurusi masalah wabah yang sudah mendunia ini. Aturan buatan manusia ini sampai kapanpun tidak bisa melahirkan kemaslahatan. Karena sifat aturannya pun serba lemah dan serba terbatas. Tak bisa menciptakan kebahagiaan dunia dan akhirat. 

Jika kita ingin selamat dunia dan akhirat tentu kuncinya adalah patuh dan tunduk pada Allah dengan menjalankan semua perintah Allah tanpa tapi dan tanpa terkecuali. Di momen idul adha ini sudah saatnya kita membuktikan cinta kita kepada Allah dengan meningkatkan ketakwaan kita. Di momen idul adha ini pun sudah saatnya kita menunjukan pengorbanan kita untuk terus berusaha mewujudkan kehidupan Islam di tengah masyarakat. 

Kita bisa mencontoh besarnya cinta dan pengorbanan nabi Ibrahim as. dan nabi Ismail as. kepada Allah dengan menjadi manusia yang taat sepenuhnya, melepaskan semua aturan buatan manusia dan menjadikan aturan Allah sebagai satu-satunya aturan untuk mengatur kehidupan kita baik dari aspek politik, ekonomi, pendidikan, pergaulan, sosial budaya, pertahanan, keamanan dan lain sebagainya.  

Mudah-mudahan di momen idul adha ini kita tak hanya menjadikannya sebagai seremonial belaka tapi bisa memetik banyak pelajaran dan bisa mengaplikasikan wujud cinta kita kepada Allah dalam kehidupan. 
Wallahu’alam bi-showab. 
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: