Jaminan Akal, Kepada Siapa disandarkan?

Jaminan Akal, Kepada Siapa disandarkan?





Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
Institut Literasi dan Peradaban

Sungguh tak bisa masuk di nalar sehat, seorang ibu dan anak kandung di Bitung, Sulawesi Tenggara kepergok melakukan hubungan badan.Hal itu diketahui melaui channel YouTube Team Tarsius 86 pada Minggu, 19 Juli 2020 lalu.

Akibatnya peristiwa itu, warga sekitar nyaris menghakimi mereka.Tim Khusus Bentukan Polres Bitung, Sulawesi Utara (Team Tarsius 86) berusaha menengahi. Saat ditanya oleh polisi, ibu dan anak kandung itu mengaku bahwa mereka melakukan hubungan intim karena mabuk.

Sungguh bobroknya manusia hari ini akan terus berulang, hingga menjadi sesuatu yang dimaafkan. Rasa marah manusia disekelilingnya seperti angin menabrak tembok. Pecah berserak tanpa solusi yang menentramkan.

Namun inilah fakta ketika kebebasan menjadi salah satu pilar yang diagungkan di negeri ini. Dari mana lahirnya? Jelas dari rahim sekulerisme, yang meniadakan campur tangan aturan agama dalam setiap urusan manusia. Akibatnya, manusia tak ubah hewan bahkan lebih sesat, tingkah lakunya menjijikan bukti sakitnya akal sehat mereka.

"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai."(QS. Al-A’raaf: 179)

Firman Allah sungguhlah jelas, memberikan gambaran kepada kita betapa lalainya manusia ketika sudah diberi karunia akal beserta panca Indra yang sempurna. Manusia memang tempatnya salah dan lupa, namun tetap ia adalah makluk, sehingga ia terkena beban untuk taat kepada Tuhannya.

Dan penjagaan akal disini sangatlah urgen, sebab akal diciptakan Allah untuk membedakan salah dan benar. Telah nyata akibatnya ketika faktor-faktor pengganggu akal dibiarkan tanpa aturan. Akal akan menuntun seseorang untuk meribat ( merangkai) pemahaman yang didapat dari pencerapan fakta oleh panca Indra. Inilah yang disebut proses berpikir yang kemudian membawa manusia kepada pemahaman. Sebab, secara alamiah, manusia bertingkah laku adalah sesuai dengan pemahamnnya.

Ketika yang ia pahami adalah sesuatu yang salah dan berdasarkan cara pandang yang salah, maka selamanya ia akan salah. Untuk itulah dibutuhkan ilmu,guna menstimulasi akal. Berikut seperangkat penjagaan terhadapnya, agar manusia tetap bisa melakukan tugasnya sebagai hamba Allah dan memenuhi kebutuhannya .

Akal merupakan syarat yang harus ada dalam diri manusia untuk dapat menerima taklif (beban syari’at) dari Allah Ta’ala. Hukum-hukum syari’at tidak berlaku bagi orang yang tidak menerima taklif seperti pada orang gila yang tidak memiliki akal.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Pena diangkat (dibebaskan) dari tiga golongan: orang yang tidur sampai dia bangun, anak kecil sampai mimpi basah (baligh) dan orang gila sampai ia kembali sadar (berakal).” (HR. Abu Daud. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Berdasar dalil diatas maka dalam Islam negaralah yang harus memastikan akal setiap individu rakyat terjamin kesehatannya. Pertama dengan memberikan asupan nutrisi baik rohani maupun jasmani, dengan mekanisme pemenuhan seluruh kebutuhan masyarakat baik kebutuhan primer, sekunder maupun tersier.

Kedua membuat kurikulum pendidikan yang berdasar akidah Islam yang kuat. Sehingga kelak akan didapat output yang berkepribadian Islam. Bertakwa dan takut azab Allah.

Ketiga negara memfilter seluruh tayangan, situs-situs dan seluruh produk digital maupun cetak yang bakal menciderai akal sehat. Lihatlah bagaimana hari ini dampak dari tontonan dan bacaan masyarakat berdasar cara pandang sekuler, tak ada malu bahkan bangga jika tenar dari cara mengekploitasi gaya hidup bebasnya, tanpa peduli halal dan haram.

Keempat, negara akan bekerja sama hanya dengan negara yang secara praktis tak akan memerangi negara Islam. Sebab datangnya kewajiban memerangi kaum kafir yang memusuhi Islam itu dalam rangka menjaga iman dan akal kaum muslimin dari kerancuan budaya dan gaya hidup masyarakat kafir. Misalnya dengan tidak memperjual belikan narkoba, miras dan lain-lain yang terbukti merusak akal.

Kelima, menerapkan sanksi dan hukum yang tegas berdasar syariat Allah, sebab hari ini mengapa masih marak perilaku zina, pelecehan , pemerkosaan baik dalam bentuk fisik, tayangan digital karena pemerintah setengah hati memberi sanksi. KUHPpun ternyata tak mampu menjerat pelaku zina hingga mereka jera. Malahan jika dibawah 18 tahun masih dianggap anak-anak sehingga tak layak dihukumi. Akibatnya muncul peremehan atas institusi pengadilan.

Lantas, mungkinkah mewujudkan sebuah tatanan yang menjamin manusia tak kehilangan akal sehat ? Satu, yaitu Islam. Wallahu a' lam bish showab.
Previous Post
Next Post

post written by:

ibu rumah tangga yang ingin melejitkan potensi menulis, berbagi jariyah aksara demi kemuliaan diri dan kejayaan Islam

0 Comments: