Khilafah Kebutuhan Mendesak

Khilafah Kebutuhan Mendesak


Oleh: Femila Kareni

       Dunia sedang menghadapi krisis besar yang bermula dari krisis kesehatan, yaitu pandemi Covid-19. Selama hampir 6 bulan berlangsung, masih saja mengalami lonjakan pasien setelah diberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Kasus baru Covid-19 tembus seribu per hari. Pemerintah mencatat ada 1.226 kasus data yang di himpun dalam 24 jam terakhir, penambahan itu menyebabkan total kasus Covid-19 di Indonesia menjadi 45.029 (Kompas.com, 20/05/2020).

       Tampaknya, jumlah penderita Covid-19 ini akan terus bertambah. Para ahli berpandangan bahwa tingginya angka kasus baru corona di berbagai daerah karena pelonggaran PSBB di tengah kondisi ketidaksiapan masyarakat. Karenanya,  semestinya program new normal dicabut.   Sementara pihak pemerintah tetap kekeh memberlakukan sistem new normal,  yaitu melakukan aktifitas seperti biasanya sebelum pandemi Covid-19.  Tempat-tempat umum sudah mulai dibuka seperti mall, kantor-kantor , expedisi , dan tempat hiburan lainnya yang tetap harus memperhatikan protokol kesehatan seperti selalu memakai masker, cuci tangan atau pakai hand sanitizer dan harus tetap menjaga jarak. 

Pemerintah beralasan karena faktor tes masif dan pelacakan agresif yang dilakukan oleh pemerintah adalah tanggung jawab negara untuk melakukan tes dan pelacakan agar memastikan individu terinfeksi tidak menularkan ke yang sehat. Juga merupakan kewajiban negara mencari jalan keluar jitu bagi pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak pembatasan selama masa karantina. Semestinya kelesuan ekonomi yang dialami pelaku ekonomi raksasa (kapitalis) tidak menjadi pendorong kuat pemerintah memberlakukan new normal dengan resiko mengorbankan keselamatan jiwa masyarakat luas. Sangat tampak sekali bagaimana pemerintah hari ini tidak memikirkan bagaimana kehidupan dan nyawa rakyatnya. Bukankah slogan demokrasi dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat? Namun, nyatanya tidak seperti itu.  Saat pandemi seperti ini para penguasa tak peduli dengan rakyatnya, bahkan untuk tes  kesehatan seperti rapid test  atau swab test pun masih saja berbahaya  mengingat dalam kondisi wabah harusnya pemerintah memberikan fasilitas kesehatan yang terbaik untuk rakyat agar tidak terinfeksi virus Covid-19.
Beda dengan Islam yang aturannya langsung diwahyukan kepada Nabi Muhammad  SAW untuk disampaikan dan diterapkan kepada umat Islam .
Cara Islam menangani wabah :   
1. Mengunci area wabah sesegera mungkin sebagaimana yang di sabdakan Rasulullah SAW,  "Apabila kalian mendengar wabah di suatu tempat , maka janganlah memasuki  tempat  tersebut dan jika ditempat kalian terjadi wabah janganlah kalian keluar darinya.” (HR. Imam Muslim)
2. Pengisolasian yang sakit.  Sabda Rasulullah SAW,  "Sekali-kali janganlah kalian yang berpenyakit menular mendekati yang sehat.” (HR. Bukhari)
Rasulullah SAW bersabda,  "Hindarilah orang-orang yang berpenyakit kusta seperti kamu menghindari seekor singa.”  (HR. Abu Hurairah)

3. Pengobatan segera sembuh.  Rasulullah SAW bersabda,  "Sesungguhnya menurunkan penyakit dan obat  dan diadakannya  penyakit  obatnya maka berobatlah kamu tatapi janganlah berobat dengan cara yang haram.”  
4. Menjamin kebutuhan primer (sandang , pangan ,papan) di daerah yang terkena wabah


5. Negara melaksanakan secara masif tanpa iuran dengan cara door to door petugas kesehatan              memeriksa secara langsung. Dengan begitu, sangat mudah sekali untuk mendeteksi seorang yang terinfeksi terkonfirmasi positif langsung di karantina.

Dengan kita mengikuti metode Rasulullah SAW dalam menangani wabah, maka dari sanalah  lahir kebijakan yang memuliakan manusia. Warga yang terdampak akan mendapatkan bantuan yang layak, sehingga saat menjalani karantina dengan lebih ringan. Begitupun warga yang terjangkit mendapat pelayanan kesehatan yang terbaik dalam menjemput kesembuhan.

       Beda dengan sistem kapitalis saat ini, pemerintah yang begitu sangat hitung-hitungan melayani rakyatnya padahal seorang pemimpin adalah al junnah (perisai) umat yang seharusnya siap siaga membantu menolong rakyatnya dalam menghadapi wabah bukan malah menaikkan iuran BPJS/KIS.

        Lihatlah, betapa buruk nya sistem kapitalis saat tidak  bisa menangani wabah dengan baik ditambah lagi iuran BPJS dinaikkan. Bukankah negeri kita ini negeri yang sangat kaya akan sumber daya alam. Dengan pengaturan sumber daya alam yang melimpah pengaturannya menggunakan sistem Islam walhasil kas negara untuk menangani pandemi Covid-19 pun bisa terlaksanakan karena sumber daya alam itu akan kembali kepada umat. Hal ini sangat jauh berbeda dengan sistem kapitalis yang diterapkan saat ini,  sumber daya alam adalah milik para pemodal besar yang menguasainya karena mereka mampu untuk mengolah dan hasilnya pun masuk ke kantong sendiri.

Allah SWT berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَا دُ فِى الْبَرِّ وَا لْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّا سِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."  (QS. Ar-Rum 30: Ayat 41)

       Begitu banyak tampak kerusakan yang terjadi saat sistem Allah SWT tidak diterapkan banyak kerusakan mulai dari moral, keluarga , ekonomi , penjajahan, pembunuhan berantai kepada umat Islam , eksploitasi sumber daya alam yang tak ada habisnya dan masih banyak lagi. Bukankah Allah SWT telah berjanji bila aturan Allah SWT diterapkan akan menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Allah SWT berfirman:

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰۤى اٰمَنُوْا وَا تَّقَوْا لَـفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَا لْاَ رْضِ وَلٰـكِنْ كَذَّبُوْا فَاَ خَذْنٰهُمْ بِمَا كَا نُوْا يَكْسِبُوْنَ

"Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Al-A'raf 7: Ayat 96)

 Begitulah fakta sistem  kapitalis saat ini yang rusak dan merusak. Sudah tidak layak lagi bagi kita menjadikannya sebagai sistem kehidupan, karena tidak akan pernah mengantarkan manusia kepada kebangkitan hakiki. Saatnya merapatkan barisan dalam jalur perjuangan demi tegaknya syariat Islam di muka bumi ini.

Wallahu a'lam bishowab
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: