LGBT Merusak, Solusikah Jika Produk Univeler Diboikot ?

LGBT Merusak, Solusikah Jika Produk Univeler Diboikot ?




Oleh : Asma Sulistiawati (Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Buton)

Univeler bukan perusahaan pertama yang mendukung aksi kaum pelangi. Seperti yang diketahui bahwa telah banyak perusahaan yang mendukung gerakan LGBT tersebut. Bahkan, saat ini kaum pelangi tersebut sudah berani untuk menampakkan kebebasan yang mereka ingin tunjukan kepada khalayak. Salah satunya nampak dari hasil dukungan perusahaan Univeler tersebut.

Tak berbeda pula dukungan yang datang dari pihak Instagram, dimana terdapat aplikasi berbagi foto. Instagram makin menunjukkan dukungan kuatnya untuk kaum LGBT, tepat setelah Unilever menyatakan dukungan pada komunitas itu dalam instagram resminya. Meskipun, bila merunut ke belakang, Instagram memang sudah mendukung kaum LGBT dari lama, walaupun belum banyak yang mengetahui. Hal ini terbukti dari adanya hastag berwarna pelangi '#LGBT' yang muncul saat hari Pride Day atau pawai kebebasan. Sehingga, kini dukungan terhadap LGBT itu makin menguat dengan adanya tambahan fitur 'pride' dalam sisi awal story Instagram, sekaligus juga terlihat dalam bentuk sticker dalam story (PR CIREBON, 28/06/2020).

Alhasil, dari dukungan perusahaan Unilever tersebut membuat pelaku LGBT semakin berani menunjukkan eksistensinya. Keberadaannya perlahan mulai diterima di kalangan masyarakat. Dan sudah tidak lagi bersembunyi di balik komunitas yang mereka buat. Karena pada dasarnya kelompok LGBT ingin diakui bahwa penyimpangan seksual tersebut layak diterima dan merupakan hal yang lumrah pada manusia.

Namun, sesaat setelah kabar tersebut berhembus, muncul lah banyak problem. Mulai dari tanggapan hingga melakukan pemboikotan terhadap produk Univeler. Tetapi akan kah itu menjadi solusi? Apabila perusahan yang mendukung kaum pelangi lantas diboikot juga? tentu saja pemboikotan bukan lah solusi permasalahan. Faktanya di era dominan kapitalisme, MNC perusahaan Multinasional yang mendukung LGBT berpijak pada liberalisme, diagungkan dan memberi lahan subur bagi bisnis mereka.

Inilah yang terjadi jika sistemyang selama ini dipakai tidak diganti, maka mustahil masalah ini dapat diselesaikan. Saat ini kita ketahui bersama bagaimana produk-produk tersebut membanjiri pasar Indonesia, dan masyarakat Indonesia sebagian besar bahkan hampir seluruhnya menggunakan produk dari Unilever tersebut. Mustahil untuk memboikot, karena selain produsen yang dirugikan, negara juga akan menanggung kerugian. Karena dari masuknya produk Unilever tersebut negara mendapatkan pajak yang besar.

Beginilah dampak apabila kapitalisme dijalankan dalam roda hukum negara. Harusnya yang diberantas kaum pelangi tersebut. Karena mereka biang dari rusaknya tatanan kehidupan. Namun kenyataan itu hanya mimpi di siang bolong. Sebab di sistem Kapitalis hanya mengutamakan untung-rugi, bukan rusak atau tidaknya kehidupan.

Saatnya kita kembali kepada penyelesaian yang Islam lakukan. Islam mampu menyesaikan permasalahan kaum pelangi ini. Solusi sejati yang bisa menghapuskan praktek-praktek kemaksiatan seperti LGBT hanyalah datang dari dzat pembuat hukum. Solusi yang datang dari hukum yang benar yaitu solusi Islam.

Islam datang dengan aturan yang menyeluruh untuk mengatasi problematika, termasuk masalah LGBT. LGBT merupakan ancaman yang bukan hanya membahayakan kaum muslimin, tetapi juga membahayakan kehidupan sosial masyarakat.

Islam dalam naungan negara Khilafah akan mampu memberikan solusi yang sistematik untuk mengatasi problematika LGBT. Dengan adanya khilafah maka negara akan memberikan pendidikan untuk memahamkan mereka bahwa prilaku sodom adalah perilaku yang dilaknat Allah.

Melalui sistem khilafah, maka akan diberlakukan sistem uqubat, sistem sanksi yang tegas yang ditabani seorang kholifah, apakah mereka akan dijatuhkan dari gedung yang tertinggi, apakah mereka akan dibakar ataukah mereka akan ditindih dengan dengan tembok, yang pasti mereka akan dihukum mati. Hukuman ini diberlakukan untuk gay (homoseksual). Untuk transgender mereka akan diusir. Dan untuk lesbian mereka akan dikenakan ta'zir ( ta'zir ini menjadi tabani kholifah karena hukumannya tidak ditentukan Allah).

Biseksual hukumannya juga jelas ketika mereka berhubungan sesama jenis perempuan berarti mendapat hukuman lesbian, ketika sesama laki-laki maka mendapat hukuman gay, dan ketika hubungannya lawan jenis maka mendapatkan hukuman zina. Begitulah gambaran bagaimana Islam memberikan solusi yang solutif untuk mengatasi LGBT.

Perilaku LGBT adalah perilaku sesat yang tidak patut untuk dilindungi bahkan atas nama hak asasi manusia, karena sesungguhnya perbuatan mereka adalah perbuatan laknat yang harus dibumi hanguskan karena bisa mengganggu ketentraman. Betapa nyamannya apabila kita mau memakai hukum Islam yang hukumannya bisa membuat orang jera.
Wallahu'Alam Bisshowab
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: