Mau Dibawa Kemana Masa Depan Generasi Muda?

Mau Dibawa Kemana Masa Depan Generasi Muda?




Oleh : Khaulah al-Azwar al-Islamiyah
(Mahasiswi dan Member Akademi Menulis Kreatif)

Belum lama ini, berita menggemparkan datang dari Jambi. Sebanyak 37 siswa SMP terjaring razia oleh tim gabungan TNI-Polri dan Pemerintah Kecamatan Pasar Kota Jambi saat tengah pesta seks di sebuah kamar hotel, Rabu malam (08/07/2020).  

Selain pelaku, petugas juga mengamankan barang bukti sekotak alat kontrasepsi berupa kondom, minuman keras, serta obat kuat. (indozone.id, 21/07/2020)

Menurut Mursida, selaku Camat Pasar Kota Jambi menyatakan, "Sangat miris sekali perbuatan anak-anak itu. Mereka semua masih di bawah umur dan semestinya fokus belajar." 

Mursida pun menambahkan, "Kita menemukan 37 orang total keseluruhan. Dan kita menemukan kondom dan adanya obat kuat. Anak-anak sudah tahu hal itu. Saya selaku bunda camat merasa miris. Ngakunya mereka sedang merayakan ulang tahun, tapi pas kami gerebek mereka sedang berbuat mesum."

Bisa kita bayangkan, bagaimana perasaan orang tua dan guru-guru mereka? Pasti tidak mengira jika anak-anak yang masih lugu dan berstatus pelajar mampu melakukan hal layaknya orang dewasa.

Pada tahun 2012, BKKBN pernah melansir data sekitar 55 persen siswi di Jabodetabek sudah tidak perawan. Namun Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meragukan besarnya angka tersebut. Meskipun KPAI tidak menyangka, fakta menunjukkan remaja Indonesia saat ini sudah terjangkit hedonisme dan pergaulan bebas seperti halnya di Barat.

Reckitt Benckiser Indonesia melakukan survei pada tahun 2019 terhadap 500 remaja sebagai sampel di lima kota besar di Indonesia. Ada sebanyak 33 persen remaja melakukan hubungan seks penetrasi. Dari hasil tersebut, 58 persen melakukan penetrasi di usia 18 sampai 20 tahun. Selain itu, para peserta adalah remaja yang belum menikah.

Sejauh ini, masih minim tanggapan keras dari negara, apalagi kebijakan untuk menangani gaya hidup hedonis dan seks bebas di kalangan remaja. Pemerintah hanya melakukan penyuluhan kesehatan organ reproduksi, itu pun dengan amat terbatas.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Jasra Putra mengatakan penanganan 37 anak remaja yang terjaring razia di hotel Provinsi Jambi tidak boleh hanya berorientasi pada hukum.

Menurut dia, penyaluran tumbuh kembang mereka juga harus diperhatikan semua pihak. "Jika hanya berorientasi pada hukuman, maka akan menjadi kegagalan kita semua," kata Jasra melalui keterangan tertulis, Kamis (16/07/2020). (kompas.com, 21/07/2020)

Sepak terjang hedonisme dan seks bebas seolah tak terbendung lagi. Mengingat bahwa usia remaja adalah masa peralihan. Di mana para remaja sedang berusaha mencari identitas diri. Melihat segala sesuatu untuk ditiru dan menjadikannya sebagai panutan. Salah satunya pergaulan bebas yang dicanangkan oleh Barat.

Acara televisi akhir-akhir ini banyak yang tidak mendidik. Bahkan menyesatkan dan menjauhkan umat Islam dari agamanya. Mulai dari pemberitaannya, sinetron-sinetronnya maupun film-filmnya. begitu pula dengan tayangan langsung, berupa konser yang mencampurbaurkan antara laki-laki dan perempuan, ditambahkan lagi dengan perilaku yang tidak tahu malu, dan sebagainya.

Tanpa disadari, pengaruh acara-acara televisi semacam itu masuk ke dalam otak mereka, mengajarkan kebebasan dalam bergaul dengan lawan jenis, membiasakan perilaku akhlak yang bejat. Remaja cenderung meniru adegan-adegan yang dilihatnya. Sehingga mereka menganggap itu sebagai hal yang lazim untuk dilakukan. Memang sudah menjadi tabiat manusia: belajar dan meniru dari apa yang dilihat dan disaksikannya.

Ancaman yang lebih berbahaya lagi, yaitu situs pornografi sekaligus biang keladi mengapa para remaja berani melakukan perbuatan mesum. Pada tahun 2012, berdasarkan riset pornografi di 12 kota besar Indonesia terhadap 4.500 siswa-siswi SMP, ditemukan sebanyak 97,2 persen dari mereka pernah membuka situs porno. "Bahkan, data tersebut juga menyebutkan 62,1 persen siswi SMP pernah berzina dan 22 persen siswi SMU pernah melakukan aborsi," ujar Tifatul Sembiring kepada Radar Bogor (Grup JPNN) pada 16/06/2012. (Buletin Teman Surga edisi 041 Desember 2018)

Dampak yang ditimbulkan oleh situs porno memang sangat luar biasa. Jane Brown, seorang ilmuwan dari Universitas North Carolina, Amerika Serikat, menemukan adanya korelasi signifikan antara pengaruh media porno dan perilaku seks bebas. Menurutnya, eksploitasi seksual dalam video klip, baik itu yang ditayangkan melalui tayangan televisi, film-film, dan di internet dengan begitu mudahnya ternyata akan mendorong konsumen, khususnya remaja untuk melakukan aktivitas seks secara sembarangan di usia muda.

Dampak dari gaya hidup hedonis dan pergaulan bebas semacam ini yang mampu menjerumuskan suatu bangsa pada kehancuran. Pergaulan bebas bukan hanya merusak masa depan generasi muda, tetapi akibat dari pergaulan bebas dan seks bebas itu mampu menyebab penyakit kelamin yang sulit ditemukan obatnya. Seperti Sifilis, HIV/AIDS, Trikomonase, dan sebagainya. Jika sudah seperti itu, mau dibawa kemana masa depan generasi muda saat ini? Bila negara saja kurang dalam menanggapi persoalan-persoalan remaja yang dapat mengancam masa depan bangsa dan negara. 

Pemerintah lebih sibuk memerangi Islam radikal. Namun membuka peluang lebar bagi liberalisme dan sekularisme yang sejatinya menjadi akar permasalahan remaja saat ini. Remaja malah dijauhkan dari ajaran Islam. Dari data terakhir, jika Kemenag telah menghapus 155 konten dan juga buku-buku pelajaran yang dianggap berisi tentang Islam radikal, seperti materi jihad dan khilafah. Padahal materi jihad dan khilafah merupakan bagian dari ajaran Islam sangat penting untuk diajarkan kepada anak-anak.

Karena melalui pendidikan Islam, semua perilaku bejat seperti kasus 37 pelajar SMP yang terjaring razia mampu dihindari. Menanamkan pendidikan Islam yang dibangun berlandaskan akidah dapat membentengi para pelajar untuk patuh dan tunduk terhadap syariat Islam, menjauhi perbuatan maksiat, dan senantiasa berhati-hati dalam bertindak. Sebab mereka sadar segala perbuatan yang dilakukannya ada yang mengawasi.

Sebagaimana Allah Swt. telah berfirman :
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung jawabannya." (QS. al-Isra [17]: 36)

Selain itu, upaya negara yang mengemban ideologi Islam untuk mencegah kasus pergaulan bebas, pemerintah akan membatasi pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Dalam kitab Nizham al-Itjima’i fii al-Islam karya Syekh Taqiyuddin an-Nabhani, ada 4 hal yang dibolehkan untuk berinteraksi dengan lawan jenis menurut syariat Islam, yaitu dalam hal pendidikan, perdagangan, pengobatan, dan peradilan.

Jika setelah selesai dari segala aktivitas yang tadi telah disebutkan harus segera kembali berpisah. Jadi, interaksi akan tetap terjaga dan akan terjauhkan dari aktivitas khalwat, ikhtilath, apalagi menampakkan aurat. Bahkan semua konten-konten pornografi akan dihapuskan. Karena yang menjadi pemicu remaja berani berbuat mesum, yaitu disebabkan oleh situs pornografi. Sebab di dalam negara Islam ada saksi yang cukup berat bagi yang melanggar aturan syariat. 

Saat ini, cara terbaik untuk menyelamatkan masa depan generasi muda berkarakter Islam adalah dengan mengenalkan Islam lebih mendalam. Bukan hanya sekedar ibadah secara ritual saja. Namun menjadikan Islam sebagai aturan hidup dalam kesehariannya. 

Generasi muda, termasuk remaja, menjadi tumpuan umat. Sebab pada masa Khilafah Rasyidah, pemuda sangat dipercaya oleh Khalifah Umar bin Khaththab ra., sebagai inspirasi untuk mencari solusi yang sedang dihadapi oleh negara di kala itu. 

“Jika aku sedang mengalami kesulitan, maka yang aku cari adalah pemuda.” (Umar bin Khaththab ra.)
Di tangan para pemuda, nasib suatu bangsa dipertaruhkan. Maka, jagalah remaja dan pemuda kita dari gaya hidup hedonis dan pergaulan bebas yang dapat menghancurkan bangsa dan negara.

Wallaahu a'lam bishshawaab
Previous Post
Next Post

post written by:

Cerdaskan Umat, Raih Kebangkitan!

0 Comments: