Merindukan Pemimpin Amanah, Adil dan Tidak Korup

Merindukan Pemimpin Amanah, Adil dan Tidak Korup


Oleh: E. Rosita
Ibu Rumah Tangga


Bagai pungguk merindukan bulan. Peribahasa diatas seolah menggambarkan betapa kondisi umat saat ini sangat memprihatikan, dan begitu merindukan sosok pengayom rakyat yang benar-benar dapat dipercaya dan tidak mengkhianati rakyatnya. Yaitu seorang pemimpin yang amanah, yang ketika harus memikul di pundaknya beban pengurusan atas rakyat yang dipimpinnya, dia memahami betul tanggung jawabnya di hadapan Allah SWT. Sehingga dia tidak akan main-main dengan amanahnya.

Amanah secara umum artinya adalah jujur dan benar-benar  dapat di percaya. Banyak amanah yang Allah SWT perintahkan kepada kita sebagai ciptaan-NYA. Salah satunya adalah amanah fitrah.  Sederhananya amanah fitrah memiliki makna sebagai suatu kewajiban yang harus  dijalankan oleh umat manusia karena kodratnya sebagai khalifah di muka bumi. Artinya manusia sebagai pemimpin bagi dirinya yang diciptakan untuk menjalankan kehidupan di dunia ini sesuai dengan aturan-Nya. Sebagaimana firman Allah SWT yang artinya:

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul-Nya. Jangan pula kalian mengkhianati amanah-amanah kalian. Padahal kalian tahu (TQS al-Anfal{8}: 27).

Menurut ibnu Abbas ra. ayat tersebut bermakna "Janganlah kalian mengkhianati Allah SWT  dan meningalkan kewajiban-kewajiban-NYA Janganlah kalian mengkhianati Rasul saw. dengan meninggalka sunah-sunah-Nya. Dan janganlah kalian bermaksiat kepada keduannya (Al-Qinuji,  Fath al-Bayan,1/162)

Dari sekian banyak amanah, yang paling penting adalah amanah kekuasaan. Seorang penguasa yang telah diserahi amanah untuk mengurus rakyatnya maka dia wajib untuk menjalankannya dengan adil jangan sampai berkhianat karena termasuk dosa besar dan akan dijauhkan dari surga. 

Namun adakalanya seorang pemimpin itu lalai bahkan cenderung melanggar apa yang ditetapkan syariah.  Seperti tidak memberikan pelajaran kepada umat mana yang benar dan mana yang salah, tidak manjaga syariah Allah SWT  dari unsur-unsur yang bisa merusak kesuciannya, tidak berjihad membela agama Allah SWT, mengambil hak-hak rakyat, mementingkan diri, keluarga dan golongannya di atas kepentinga umat.

Pemimpin yang amanah dan adil sesungguhnya telah dicontohkan pada masa kehilafahan seperti Abu bakar ash-shiddiq ra. Beliau adalah khalifah pertama yang terkenal dengan adil, amanah, penyabar, dan lembut, namun beliau juga terkenal akan keberanian dan ketegasannya. Selanjutnya  pengganti beliau yaitu khalifah Umar bin al-khaththab ra. Beliau penguasa yang tegas dan sangat disiplin. Beliau tak segan-segan merampas harta para pejabatnya yang ditengarai berasal dari jalan yang tidak benar.

Bukan hanya para khalifah saja yang amanah di masa kehilafahan tetapi  para pejabat islam di masa itu juga terkenal adil dan amanah. Seperti Qadhi Syuraih. Dikisahkan saat Ali bin Abi Thalib ra menjadi khalifah ia pernah bersengketa dengan seorang laki-laki yahudi terkait baju besinya. Karena saksi dari khalifah Ali bin Abi Thalib lemah maka qhadi memenangkan orang yahudi padahal baju besi itu adalah milik khalifah Ali bin Abi thalib. Begitu adil dan sempurnanya syariah Allah SWT. Dan banyak lagi kisah2 tentang ketaatan para khalifah dan pejabat di masa kekhilafahan.

Selain amanah dan adil, para pemimpin Islam saat itu juga sangat berhati-hati terhadap harta negara. Mereka tidak berani memanipulasi apalagi mengambil uang yang bukan hak mereka, jangankan untuk korupsi hanya sekedar hadiahpun mereka tidak berani mengambilnya karena itu adalah hak umat.

Berbeda sekali dengan kehidupan yang tidak diatur oleh syariah Allah SWT. Yaitu sistem kapitalisme sekuler yang mengedepankan materi dan manfaat, ada saja alasan bagi mereka untuk berbuat korup. Uang negarapun yang sejatinya untuk kepentingan rakyat malah dikorupsi demi kepentingan pribadi dan keluargannya.   

Adapun Islam memandang amanah dan kepemimpinan adalah hal yang sangat penting. Tanggung jawabnya luar biasa besar di hadapan Allah SWT. Sebagaimana sabda Rasul saw, yang artinya:

"Pemimpin yang memimpin rakyat adalah pengurus dan dia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus (HR al-Bukhari).

Pemimpin yang amanah, adil, dan juga tidak korup pastilah lahir dari sistem Islam yang di dalamnya diterapkan aturan Islam secara kaffah dengan bertumpu pada Al Qur'an dan as Sunnah yang akan membawa kebaikan pada umatnya. Tidak mungkin lahir dari rahim sistem demokrasi sekuler yang jelas-jelas hanya menumbuh-suburkan para koruptor dan jauh dari keberkahan.

Wallahu a'lam bi ash-shawab
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: