Pemuda Tonggak Peradaban Mulia

Pemuda Tonggak Peradaban Mulia



Oleh : Suci Hardiana Idrus

Pemuda memiliki andil besar dalam sejarah kebangkitan bangsa. Maju serta mundurnya suatu bangsa, tergantung pada kondisi para pemudanya. Lantas, sosok pemuda seperti apakah yang diharapkan mampu membangun negeri ini kedepannya? 

Namun alangkah mirisnya nasib bangsa ini. Tatkala generasi muda kian hari kian rusak. Harapan bangsa terhadap generasi maju telah pupus. Persoalan yang mendera generasi muda begitu kompleks. Arus pergaulan bebas makin tak terbendung. Kita patut bersedih, sebab merekalah yang nantinya melanjutkan kehidupan bangsa. Di tangan mereka nasib negeri ini akan maju atau tidak. Ataukah sebaliknya, akan menjadi suatu kerugian besar. Alhasil, narkoba, pesta miras, perkelahian antar kelompok, penjarahan, dan seks bebas, semua berada dalam satu ruang lingkup pergaulan yang tak mengenal aturan. 

Melansir dari INDOZONE.ID, Rabu, 15 Juli 2020, 37 siswa-siswi SMP, terciduk oleh tim gabungan TNI-Polri dan Pemerintah Kecamatan Pasar Kota Jambi saat tengah pesta seks di sebuah kamar hotel, Rabu malam (8/7/2020).

Ironisnya, saat digerebek, petugas menemukan alat kontrasepsi berupa kondom, minuman keras, serta obat kuat.

"Sangat miris sekali perbuatan anak-anak itu. Mereka semua masih di bawah umur dan semestinya fokus belajar," ujar Camat Pasar Kota Jambi, Mursida.

Mursida menerangkan, penggerebekan para pelajar ABG itu dilakukan setelah pihaknya mendapat laporan dari warga yang menyewa kamar hotel. Saat diamankan, mereka mengaku mengadakan pesta ulang tahun salah seorang di antara mereka.

Melansir dari BNN.go.id, pada 12 Agustus 2019, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komisiaris Jenderal Polisi Heru Winarko menyebut, penyalahgunaan narkotika di kalangan remaja makin meningkat. Di mana ada peningkatan sebesar 24 hingga 28 persen remaja yang menggunakan narkotika.

BNN selaku focal point di bidang Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) mengantongi angka penyalahgunaan narkoba tahun 2017 sebanyak 3.376.115 orang pada rentang usia 10-59 tahun.

Sedangkan angka penyalahgunaan Narkoba di kalangan pelajar di tahun 2018 (dari 13 ibukota provinsi di Indonesia ) mencapai angka 2,29 juta orang. Salah satu kelompok masyarakat yang rawan terpapar penyalahgunaan narkoba adalah mereka yang berada pada rentang usia 15-35 tahun atau generasi milenial.

Begitu banyak kasus persoalan remaja yang tercatat dari tahun ke tahun. Usia remaja adalah masa yang sangat rentan terjerumus dalam pergaulan bebas. Teman dan lingkungan yang biasa ia temui menjadi faktor terbesar membentuk pola pikir dan perilakunya. Ditambah Era modernisasi dan 
globalisasi saat ini telah menghapus batasan-batasan, norma-norma yang ada disebuah negara di dunia. Tumbuh pesatnya teknologi, berbagai informasi dan pengaruh dari suatu negara dapat masuk dengan mudah ke negara lainnya.  Sehingga jarak dan waktu pun saat 
ini tidak memiliki batasan. Akibatnya, negara-negara yang tidak memiliki pertahanan atau filter yang kuat, tidak dapat memilah mana pengaruh yang baik dan 
pengaruh yang tidak baik.

Sekularisasi dan liberalisasi adalah pintu masuk utama sebuah budaya dan pemikiran kufur meracuni kehidupan anak muda masa kini. Food, Fun, Fashion, and Fund, telah mengalihkan perhatian mereka sehingga luput dari pemahaman tentang hakikat hidup yang sebenarnya. Pemahaman agama mulai terlupakan, syariat kian terabaikan. Tak ada lagi aturan yang menjaga tingkah lakunya dalam berbuat. Padahal negara seharusnya memiliki peran besar terhadap persoalan krisis moral yang mendera dengan pembinaan dan pengaturan yang sesuai fitrah manusia.

Selain hadirnya peran negara, ini pun menjadi tugas dan tanggung jawab orang tua. Orang tua perlu banyak instrospeksi diri sejauh mana pola pengasuhan, dan komunikasi terhadap anak. Sehingga orang tua dapat memahami permasalahan apa yang sedang dihadapi oleh seorang anak, dan solusi apa yang tepat dan baik untuk anak sesuai usianya. Sehingga kasih sayang dan perhatian penuh akan memunculkan rasa empati anak terhadap orang tuanya tatkala ia hendak berperilaku buruk di luar pengawasan mereka.

Islam, sangat memberi perhatian penuh terhadap generasi muda dalam meraih tonggak peradaban mulia. Bahkan Allah sangat memuji orang yang beribadah di waktu muda dibandingkan orang yang beribadah di kala usia senja. Kesadaran terhadap hubungannya dengan Allah membuat masa mudanya dihabiskan hanya untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi sesama secara produktif. Sehingga ada perasaan tidak senang tatkala menyaksikan perbuatan yang buruk di masyarakat.

Ketika Islam dijunjung, begitu banyak pemuda yang berhasil menuliskan namanya dengan tinta emas yang akan selalu dikenang oleh generasi ke generasi. Seorang Pemuda hebat seperti Usamah bin Zaid yang di usia 18 tahun sudah menjadi panglima perang menghadapi romawi, Umar bin Abdul Aziz usia 22 tahun menjadi gubernur Madinah, Imam Syafi’i usia 15 tahun sudah menjadi seorang mufti, dan Muhammad Al Fatih pada usia 22 tahun sudah menjadi sulthan bahkan setelah 2 tahun menjabat, berhasil menaklukan benteng legendaris Konstatinopel pada usia 24 tahun.

Masih adakah pemuda Islam tangguh itu di zaman sekarang ini?
Belum terlambat, kita masih bisa merubah kondisi rusak ini dengan belajar dan terus menuntut ilmu dari para ulama-ulama.


Wallahu a'lam
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: