Pencurian Makin Marak; Perubahan Sistem Kian Mendesak

Pencurian Makin Marak; Perubahan Sistem Kian Mendesak



Oleh : Tri Silvia* 
.
.
Pencurian kembali terjadi, tepatnya pada Rabu malam (22/7), pukul 18.30 WIB. Pencurian kali ini menimpa sebuah mobil Toyota Fortuner di depan salah satu toko wilayah Cilandak Timur, Jakarta Selatan. Tak tanggung-tanggung, pemilik mobil mengaku telah kehilangan uang tunai sejumlah Rp 550 juta dan cek senilai Rp 41,93 miliar. Menurut penuturan sang pemilik mobil, uang tunai tersebut bukan miliknya dan diperuntukkan guna pembangunan pesantren. Adapun cek, akan digunakan untuk pembayaran bantuan sosial berupa sarden dan minyak. Selain uang tunai dan cek, ada beberapa barang lainnya yang turut raib dibawa pencuri. (Kompas.com, 23/7/2020)
.
Nahas memang, hidup di zaman kapitalis saat ini. Saat ketika faham individualis merasuk ke pribadi setiap orang. Saat ketika para pemodal tak lagi malu mengambil alih hak rakyat jelata. Saat ketika kepentingan mereka lebih didahulukan dibanding rakyat yang harusnya jadi prioritas utama. Kalimat 'Yang miskin tambah miskin, Yang kaya makin kaya' pun semakin tampak nyata. Sungguh, rasa aman saat ini begitu mahal harganya. Tak adanya pihak yang mampu memberi jaminan berupa rasa aman pun, kian membuat masyarakat dirundung rasa cemas. Semua itu adalah resiko yang didapat akibat diterapkannya sistem kapitalis di sebuah negeri. Maka dari itu, masihkah kita mau mempertahankan sistem buruk ini?
.
Keburukan sistem di atas, bertambah buruk dengan munculnya krisis ekonomi akibat pandemi yang belum juga selesai. Krisis ini membuat masyarakat diliputi banyak persoalan, terutama masalah keuangan dan pemenuhan kebutuhan. Alhasil berbagai cara pun dilakukan oleh rakyat untuk lepas dari jerat kemiskinan, minimal untuk tetap bertahan hidup. Salah satunya dengan melakukan kriminalitas berupa pencurian. Hal ini menjadi sebab mengapa tindak kriminal akhir-akhir ini begitu massif terjadi. Tidak pandang bulu, bahkan nyatanya juga menimpa orang-orang yang memiliki niat tulus untuk membantu.
.
Terkait dengan perubahan sistem, sebenarnya hal tersebut sudah lama menjadi opini umum yang disuarakan oleh masyarakat. Terbukti dengan banyaknya survei yang dilakukan untuk mengetahui respon masyarakat akan penerapan sistem lain yang bisa menggantikan sistem kapitalis yang ada saat ini. Islam menjadi salah satu alternatif terbaiknya. Sebagaimana yang dilakukan oleh Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pada tahun 2018, yang menunjukkan bahwa jumlah warga yang pro atau setuju “NKRI Syariah” naik secara signifikan selama dua tahun terakhir menjadi lebih dari 13 persen. Disampaikan pada rilisnya bahwa pada tahun 2005, jumlah warga yang pro-“NKRI Syariah” mencapai 4,6 persen dan melesat naik menjadi 7,3 persen pada 2010. Dan untuk tahun ini (2018), jumlah warga pro “NKRI Syariah” sudah hampir dua kali lipat, yaitu 13,2 persen. (voaindonesia.com, 18/7/18)
.
Bukan hal yang aneh ketika Islam menjadi kandidat utama untuk menggantikan sistem kapitalis yang saat ini tengah bercokol di negeri kita. Pasalnya, Indonesia sebagai negeri dengan umat Islam terbesar di dunia, pun dengan mayoritas penduduk beragama Islam, sudah sepantasnya menginginkan Islam -sebagai ajaran yang memang telah mereka pegang dan diajarkan semenjak kecil- untuk diterapkan secara nyata di tengah-tengah mereka. Apalagi dengan sifatnya yang melingkupi seluruh aspek kehidupan, Islam sangat mampu untuk memecahkan seluruh persoalan. Termasuk tentang masalah ekonomi dan Pemerintahan, pun tentang bagaimana cara terbaik untuk menanggulangi wabah. Semuanya akan dipecahkan sampai ke cabang-cabangnya, tanpa lagi membuahkan masalah tambahan.
.
Pencurian dan tindak kriminalitas lainnya yang merupakan cabang dari persoalan besar menyangkut wabah yang sedang terjadi saat ini, pada hakikatnya sudah di atur secara utuh di dalam Alquran dan hadits Rasulullah. Alquran menyebutkan dalam QS Al-Maidah ayat 38, yang artinya: “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” Setelah didalami fakta pencurian yang telah mencapai nishab dan memenuhi syarat-syarat lainnya, hukuman ini pun terus dijalankan, kecuali dengan kondisi tertentu. Sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Khalifah Umar untuk tidak melaksanakan hukuman tersebut ketika pelaku mencuri untuk menyambung hidup, dan tidak pula dilaksanakan saat masa paceklik atau bencana. Khalifah Umar berkata, “Tidaklah tangan dipotong karena kurma-kurma dan tidak pula pada masa paceklik (krisis/bencana).” (Mushannaf Abdurrazzak, 10/242, Al Misbah Al Munir, hal: 292).
.
Sungguh indah aturan Islam. Dengan penerapannya secara sempurna, maka tidak akan ada lagi kecemasan di tengah masyarakat, ataupun keluhan tentang buruknya sistem keamanan. Sungguh kenyamanan dan keamanan masyarakat menjadi salah satu jaminan yang wajib dipenuhi oleh pemerintah dalam Islam, disamping pemenuhan pangan, kesehatan dan pendidikan. Ditangani secara tuntas dengan menggunakan aturan Ilahiah yang berasal dari pencipta manusia, yakni Allah SWT. Maka dengan begitu, rahmatan lil alamiin akan benar-benar terwujud. Lalu, masihkah kita mau mempertahankan sistem buruk ini??
.
Wallahu A'lam bis Shawwab.


* (Pemerhati Kebijakan Publik)
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: